Tiga pendapat tokoh mengenai politik Islam

Dunia Muhammad Nassar 11-Jun-2020
Monumen Nasional Pakistan dengan bulan sabit bertuliskan puisi Iqbal © Shahid Khan - Dreamstime.com

Politik memang tidak dipisahkan dari kehidupan masa kini. Ya, politik merupakan suatu hal yang saat ini memang menjadi banyak tujuan dari banyak masyarakat di Indonesia. dan hal tersebut pun juga di implementasikan dalam kehidupan umat beragama yang salah satunya adalah politik Islam. Meskipun kerap kali menjadi perbincangan hebat, namun tak sedikit masyarakat yang masih asing mengenai politik mengenai Islam.

Maka dari itu, kali ini saya ingin sedikit menguliti apa itu politik Islam berdasarkan pernyataa-pernyataan para tokoh Islam. Guna memberikan anda semua edukasi mengenai politik Islam, ini informasinya.

Sayyid Jamaluddin al-Afghani

Tokoh pertama yang paham betul akan politik Islam terutama di politik Islam modern ini adalah Sayyid Jamaluddin al-Afghani. Berasal dari Afghanistan, beliau memiliki peranan yang sangat penting di dalam gerakan berpolitik Islam di zaman modern seperti ini. Beliau dikenal di dunia Islam dan dianggap sebagai salah satu tokoh yang cukup berpengaruh dalam dunia Islam, terutama karena belia menaruh perhatiannya secara serius terhadap kolonialisme yang dilakukan oleh para bangsa barat serta absolutisme penguasa -penguasa muslim.

Beliau sangat menekankan masalah revolusi yang beliau dasarkan atas rakyat. Sehingga segala tujuan yang diinginkan diharapkan akan tercapai. Salah satu hal yang begitu mengena adalah bahwa jika ada sejumlah hal yang harus direbut tanpa ditunggu sebagai hadiah, maka kebebasan dan juga kemerdekaanlah yang termasuk ke dalam hal tersebut. Beliau sangat menghendaki bentuk pemerintahan yang menjunjung tinggi kebabasan rakyat untuk nantinya dapat mengeluarkan pendapat serta kewajiban para penguasalah agar mereka dapat tunduk pada konstitusi dan tidak semenamena.

Muhammad Rasyid Ridha

Kemudian, tokoh politik Islam yang cukup terkenal lagi adalah Muhammad Rasyid Ridha. Berasal dari Lebanon, beliau adalah seorang reformis Islam awal, yang gagasannya kemudian akan mempengaruhi para pemikir Islam abad ke-20. Pada dasarnya, segala sesuatu yang dilakukan beliau sebenarnya tidak berbeda dengan para tokoh-tokoh lainnya. Sebenarnya beliau sendiri bukanlah seorang pemikir politik pada awal masanya. Hal ini terjadi karena pemikiran akan politik kemudian tumbuh di benaknya dengan awalan adanya reaksi terhadap persoalan yang dilakukan umat Islam yang saat itu mengalami kemunduran total dalam segala aspek-aspek kehidupan.

Pada saat itu, ada dua masalah besar yang sedang dihadapi umat Islam dimana hal ini cukup mengusik pemikiran beliau baik dari internal maupun faktor eksternal lainnya. Rashid Ridha percaya bahwa umat Islam lemah karena mereka tidak lagi mempraktikkan ajaran agama murni seperti yang dipraktikkan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Beliau menekankan bahwa jika umat Islam ingin maju, mereka harus berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah Nabi tanpa terikat oleh pendapat para ulama kuno yang tidak sesuai dengan tuntutan kehidupan modern.

Muhammad Iqbal

Nah, tokoh politik Islam yang terakhir yang akan saya bahas adalah tokoh Muhammad Iqbal yang dilahirkan di Pakistan. Beliau adalah seorang filsuf, penyair, dan politisi Muslim awal abad ke-20. Dalam kehidupannya, terdapat 5 prinsip yang dibuat sebagai dasar konsepsi demokrasi di zaman beliau. Yakni Tauhid dianggap sebagai asas, kepatuhan terhadap hukum, sikap toleransi untuk berbagai kalangan, demokrasi yang tidak dipisahkan atas dasar geografis, bahasa, rasa, warna kulit, serta tidak ketinggalan mengenai penafsiran hukum Allah SWT yang harus dikembangkan dengan melalui ijtihad.

Menurut tokoh Muhammad Iqbal ini, demokrasi Islam haruslah berjalan dalam masyarakat modern saat ini karena ada beberapa prinsip antara lain:

  • Pemilihan dianggap sebagai satu satunya cara untuk mengekspresikan aspirasi rakyat.
  • Secara de facto, kedaulatan politik memang berada di tangan rakyat
  • Masyarakat muslim menjunjung kesamaan mutlak bagi setiap insan
  • Kepala negara bukanlah imam tertinggi dan bukan wali tuhan
  • Kepala negara dapat dituntut, dan lain sebagainya.

Nah, itu dia tiga tokoh yang mengaspirasikan suaranya mengenai politik Islam. Semoga bermanfaat, ya!