75 tahun Indonesia merdeka, bagaimana ia menurut Islam?  

75 tahun Indonesia - Merdeka! © Muhammad Ulin Nuha | Dreamstime.com

Suasana berbeda begitu terasa pada peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan ke 75 tahun menjelang 17 Agustus 2020 sehingga hari ini . Namun, di banyak tempat tidak terlihat suasana kemeriahan dan gegap gempita dalam menyambut hari bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini terasa berbeda dan menjadi yang pertama sekali dirasakan oleh masyarakat Indonesia dalam suasana keprihatinan, karena masih dibayang-bayangi dengan penyebaran wabah virus Corona yang belum menunjukkan grafik penurunan.

Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini tentu tidak terlepas dari perjuangan para founding fathers  dan tetes keringat, tenaga, air mata dan darah pejuang yang lebih memilih berjuang dengan segala kemampuan yang dimiliki bahkan berujung kematian, ketimbang berlutut di kaki penjajah. Hasilnya sampai saat ini kita terlepas dari serangan fisik penjajah dan bisa merasakan nikmatnya hidup tanpa memanggul senjata.

Indonesia negeri yang mempunyai sumber daya alam melimpah, terletak di garis khatulistiwa, tanah yang subur dan hijau. Namun kemiskinan masih mudah ditemui, banyak anak negeri yang tak bisa mengenyam pendidikan, mahalnya biaya kesehatan, tingginya biaya hidup, kebijakan impor yang merugikan rakyat, belum lagi negeri kita yang terus menambah utang setiap tahunnya. Menunjukkan bahwa dari sisi ekonomi sesungguhnya negeri ini masih butuh perjuangan panjang menuju kemerdekaan secara ekonomi.

Demikian halnya dari sisi politik, sosial dan kebudayaan, Indonesia harus berani menunjukkan jati diri yang sesungguhnya sebagai negara merdeka dan berdaulat. Tidak boleh ada orang atau lembaga terlarang yang mencari kesempatan untuk hidup dan berkembang di negeri ini. Pancasila yang merupakan dasar negara kita sangat mungkin menjadi pemersatu bangsa apabila pancasila tersebut dijalankan dan disosialisasikan secara baik dan terukur.

Pemikiran-pemikiran liberal, sekuler, komunis serta paham-paham yang merusak ideologi bangsa dan agama harus dengan tegas tidak diberikan tempat di negara ini. Namun demikian kita juga tidak boleh menghakimi sendiri manakala ada paham-paham yang merusak itu terindikasi ada di Indonesia. Memilih menyerahkan penyelesaiannya secara hukum dan penegak hukum kita kawal agar berlaku adil dan transparan adalah jalan tengah yang mesti kita jalankan.

Menurut pandangan Islam merdeka adalah terbebas dari segala bentuk penghambaan terhadap mahluk menuju penghambaan sepenuhnya hanya kepada Allah SWT. Sebagaimana Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambahan kepada selain Allah, memberantas kezaliman dan menegakkan keadilan dengan petunjuk aturan dari Allah dan Rasul-Nya.

Maka, tak ada jalan lain untuk meraih kemerdekaan yang hakiki kecuali kembali kepada Islam, mengambil Islam sebagai jalan hidup dan tetap berupaya mengisi kemerdekaan dengan kemampuan yang dimiliki. ‘Tidak perlu bertanya apa yang sudah negara berikan kepada kita, tapi berpikir dan berbuatlah untuk negara ini dengan apa yang kita bisa.’

Islam yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sampai saat ini tidaklah bertentangan dengan Pancasila yang menjadi dasar negara kita. Bahkan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila adalah pengejawantahan dari nilai-nilai ajaran Islam.

Untuk itu, agar kemerdekaan yang sesungguhnya bisa dirasakan di masa mendatang, saatnya pemerintah bersama segenap rakyat Indonesia berpikir dan berjuang untuk kemandirian ekonomi bangsa. Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang tidak bisa didikte dan dipengaruhi oleh negara lain.