Abbas Mahmud al-Aqqad, pembaru puisi Arab abad ke-20

Timur Tengah 04 Jan 2021 Muhammad Walidin
Muhammad Walidin
Abbas Mahmud al-Aqqad
Abbas Mahmud al-Aqqad © learning.aljazeera.net

Setelah menyimak kontribusi Mahmud Sami al-Barudi dan Khalil Mutran dalam perkembangan sastra Arab modern, maka nama Abbas Mahmud al-Aqqad sangat layak diperbincangkan kemudian.

Abbas al-Aqqad dilahirkan di wilayah Aswan, Mesir pada tanggal 28 Juni 1889. Ia tumbuh dalam keluarga yang taat beragama dan mencintai ilmu.

Abbas Mahmud al-Aqqad, pembaru puisi Arab abad ke-20

Di usia remajanya, Abbas al-Aqqad rela bekerja untuk membeli buku agar hobinya membaca terpuaskan. Bahkan ia membaca lapan jam sehari. Akibatnya, ia telah piawai menulis di saat usianya masih sangat muda.

Bayangkan, di usia 16 tahun ia telah menerbitkan majalah mingguan Raj’u Sada. Ia juga menjadi penulis pada majalah al-Jaridah pimpinan Ahmad Lutfi al-Sayyid dan majalah al-Zahir pimpinan Abu Syadi.

Ia juga pernah bergabung dalam penerbitan surat kabar al-Dustur. Di bidang jurnalistik ini, ia dibimbing oleh ulama penulis terkenal; Muhammad Farid Wajdi. Kecerdasan dan ketajaman tulisan al-Aqqad telah membuat terkesima guru-gurunya, seperti Muhammad Abduh, Sa’ad Zaglul Pasha, Abdullah Nadim, dan Syekh Fakhrudin Muhammad.

Penggalan kesan Syekh Ahmad Thayyib, syekh al-Azhar, Mesir berikut ini bisa menggambarkan kualitas al-Aqqad. ‘Saya adalah pencinta karya-karya al-Aqqad. Dia adala sosok manusia yang mampu membentuk dirinya sendiri. Dia adalah pemilik nalar raksasa. Apapun yang ditulisnya, tulisannya sangat mendalam.’

Sebagai sastrawan, Abbas al-Aqqad memiliki ciri yang brilian. Paduan antara perasaan yang dalam dengan pemikirannya begitu serasi. Karya puisinya memaparkan pendapat-pendapat yang cerdas.

Ia tidak lagi mempermasalahkan bentuk puisi, tapi lebih menekankan pada maknanya. Gaya ini dalam sastra Arab dinamakan puisi bebas (syi’r mursal).  Ia mengkritik puisi dan prosa yang penuh hiasan dan lebih mengarahkan kepada susunan kata yang penuh arti dan padat isi.

Puisi bertema kontemporer, meninggalkan puluhan karya

Bersama sejawatnya Abdurrahman Syukri (1889-1958) dan Ibrahim Abdul Qadir al-Mazini (1890-1949), Abbas al-Aqqad menyambut ide pembaharuan sastra Arab dengan membentuk aliran baru yang disebut Kelompok Diwan.

Intinya, kelompok ini sesungguhnya merupakan antitesis dari aliran Neo Klasik. Mereka menolak kesatuan bait dan memberi penekanan pada kesatuan organis puisi, mempertahankan kejelasan, kesederhanaan, dan keindahan bahasa puisi yang tenang.

Di samping itu, mereka mengambil segala macam sumber untuk memperluas dan memperdalam persepsi dan sensitivitas rasa penyair. Karakteristik lainnya, tema-tema yang diangkat dalam karya-karya kelompok ini berkaitan dengan persoalan-persoalan kontemporer seperti humanisme, nasionalisme, dan Arabisme. Karya-karya yang dihasilkan juga banyak dipengaruhi romantisme dan model kritik Inggris.

Abbas Al-Aqqad meninggal di Kairo, Mesir tanggal 13 Maret 1964. Ia memang tidak meninggalkan anak dan istri karena hidup melajang. Namun, ia telah meninggalkan puluhan karya, seperti 10 antologi puisi, di antaranya Abir Sabil, Hay al-Arbain, ‘Asafir al-Maghrib, dan Hidayat al-Karwan.

Satu-satunya novel karya al-Aqqad berjudul Sarah banyak dikaji peneliti. Pemikiran orisinalnya tentang obsesi kemajuan ummat Islam terkumpul dalam Mausu’ah Abbas Mahmud al-Aqqad (1970). Di samping itu  terdapat 83 karya yang lain, baik kritik sastra maupun  tema lain.