Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Abdullah bin Rawwahah r.a: penyair andalan Rasulullah SAW

Seni 18 Jan 2021
Terbaru oleh Muhammad Walidin
Makam Abdullah bin Rawwahah r.a di Karak, Yordania
Makam Abdullah bin Rawwahah r.a di Karak, Yordania © aalequtub.com

Abdullah bin Rawwahah r.a adalah sosok yang sangat istimewa bagi Rasulullah SAW. Ia berasal dari kalangan Ansar pertama, sahabat, panglima perang, dan penyair Baginda.

Sebagai kalangan Ansar pertama, ia hadir menemui Rasulullah SAW dalam pertemuan yang disebut Baiat Aqabah Pertama (621 Masehi). Pertemuan ini dilakukan di sebuah bukit yang berjarak lima kilometer dari kota Mekkah pada tahun ke-12 kenabian.

Abdullah bin Rawwahah r.a, penyair andalan Rasulullah SAW

Nabi Muhammad SAW menyambut 12 utusan dari Madinah ini, termasuk Abdullah bin Rawwahah r.a. Mereka menyatakan keislaman dan berbaiat kepada Rasul. Mereka adalah jalan masuknya dakwah Islam ke Yastrib (Madinah) karena sepulangnya dari Aqabah, mereka mengabarkan Islam kepada penduduk Madinah.

Setahun kemudian, Abdullah bin Rawwahah r.a kembali membawa 72 orang Yasrib untuk melakukan baiat kedua di tempat yang sama. Baiat Aqabah Kedua ini akhirnya menjadi titik tolak Rasul untuk melakukan hijrah karena kaum muslimin di Mekkah semakin kencang diganggu kafir Quraisy.

Sebagai sahabat, Abdullah r.a adalah orang pertama yang menyambut Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa hijrah. Ia menuntun kuda Nabi dan berkata, “Kemarilah wahai Rasul, anda akan mendapatkan penghormatan dan perlindungan.”

Pernyataan Abdullah bin Rawwahah r.a ini bukanlah basa-basi. Suatu saat Rasulullah SAW melintas di depan majlis Abdullah bin Ubah, pemimpin orang munafiq Madinah. Rasul duduk dan membaca al-Quran di masjid itu.

Abdullah bin Ubah melarang nabi mendatangi majelis  manapun dan rumah siapapun. Abdullah bin Rawwahah r.a tampil membela Rasulullah SAW. Ia menghunuskan pedang dan mengatakan bahwa mendengar bacaan al-Quran itu adalah yang paling orang Madinah sukai. Ia malah mengundang Rasul agar mau datang ke majelis manapun dan rumah siapapun.

Sebagai prajurit dan panglima perang, ia hadir dalam perang Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, dan Mu’tah. Saat perang Mu’tah (629 Masehi/8 Hijriyah) yang berlangsung di sebelah timur sungai Yordan dan al-Karkak, Abdullah r.a syahid setelah mengobarkan semangat kepada sedikit tentara musim yang akan menghadapi 200.000 tentara Romawi Timur.

Ia berteriak kepada tentara muslim yang terlihat ragu:

“Demi Allah, sungguh kita berperang melawan musuh bukan karena bilangan dan kekuatan kita. Namun, kita memerangi mereka demi mempertahankan agama kita. Dengan memeluknya, kita dimuliakan Allah. Ayo maju, salah sau dari dua kebaikan pasti kita raih: kemenangan atau syahid di jalan Allah.”

Bersyair untuk sarana dakwah Islam di depan Rasulullah SAW

Seketika semangat tentara muslim bangkit. Dengan jumlah yang sedikit, peperangan ini dinilai imbang oleh sejarah. Abdullah r.a sendiri gugur setelah menggantikan komando Zaid bin Haritsah (komandan pertama) dan Ja’far bin Abi Thalib (komandan kedua) yang juga syahid. Di tempat berbeda, Rasulullah SAW terdiam di sebuah masjid sambil matanya berkaca-kaca. Ia melihat ketiga sahabat tadi diangkat ke surga oleh para malaikat.

Sebagai penyair, Abdullah bin Rawwahah r.a menjadi antara teman karib bagi Rasulullah SAW. Tak jarang Rasul memintanya untuk melantunkan syair karena Baginda sangat menikmati syair-syairnya. Abdullah secara spontan sering memenuhi keinginan Baginda.

Memang sejak masuk Islam, kemampuannya dalam bersyair dipergunakan untuk sarana dakwah Islam.  Peristiwa ini dapat dibaca pada peristiwa tawaf di Baitullah pada Umrah Qadha. Abdullah r.a berada di depan beliau dan bersyair:

“Oh Tuhan, kalaulah tidak karena Engkau, niscaya kami tidaklah akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedekah dan salat. Maka mohon turunkan sakinah atas kami dan teguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang. Sesungguhnya orang-orang telah aniaya terhadap kami, bila mereka membuat fitnah, akan kami tolak dan kami tentang.”

Abdullah termasuk penyair yang sedih ketika turunnya surah as-Syu’ara, ayat 224 tentang adanya predikat penyair yang sesat. Namun, kesedihannya terobati dengan ayat 227 pada surah yang sama.

Ayat itu memperkecualikan para penyair yang beriman, beramal saleh, banyak ingat kepada Allah SWT, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya. Allah merahmatimu wahai penyair idolaku!