Abu Hurairah r.a, pemuka para perawi hadis

Islam untuk Pemula Roni Haldi Alimi
Terbaru oleh Roni Haldi Alimi
Abu Hurairah r.a, pemuka para perawi hadis
Abu Hurairah r.a, pemuka para perawi hadis © (null) (null) | Dreamstime.com

“Tak ada seorang pun yang paling banyak menghafal hadis Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melebihi diriku, kecuali Abdullah bin Amr. Aku mengingat hadis dengan hafalanku, sedangkan dia mengingat dengan hafalannya dan juga mencatatnya. Dia meminta izin kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencatat, Baginda pun mengizinkannya.”

Begitulah Imam ath-Thahawi mencatat dalam kitabnya Syarah Musykil Atsar, menyebutkan bagaimana keunggulan sahabat Nabi Muhammad SAW itu dalam menghafal hadis dari Baginda.

Sahabat yang lebih dikenal sebagai Abu Hurairah r.a

Imam asy-Syafi’i pun pernah menyatakan bahwa sahabat itu  adalah orang yang paling banyak dinukilkan hadis darinya. Ada 8OO orang sahabat bahkan lebih yang meriwayatkan hadis Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dari beliau.

Ibnu Hazm dalam Jawami’ as- Sirah mengatakan bahwa beliau telah meriwayatkan 5374 hadis dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah Abdurrahman bin Sakhr ad-Dausy, yang lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah ad-Dausy al-Azdi al-Yamani r.a.

Abu Hurairah memeluk Islam antara peristiwa Hudaibiyah dan perang Khaibar. Dan hidup di Madinah sebagai seorang muhajirin. Keislaman beliau diikuti oleh 8O orang dari kabilahnya yang kemudian menuju ke Madinah.

Kehidupannya bersama Rasulullah SAW

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, ia berkata:

“Ada yang bertanya kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasululah, siapakah orang yang berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini. Karena kulihat betapa perhatian dirimu terhadap hadis. Orang yang berbahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Hadis itu menunjukkan bagaimana kedekatan Abu Hurairah r.a dengan Rasulullah SAW dalam kesehariannya. Tampak bagi kita bagaimana begitu optimalnya usia hidup Abu Hurairah dimanfaatkan untuk kepentingan akhirat.

Wafatnya Abu Hurairah r.a

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya ‘Al-Ishabah fi Tamyiz as-Shahabah’ mencatat bahwa Abu Hurairah r.a wafat pada tahun 57 Hijriah. Di sebalik itu terdapat kisah sebelum kematiannya.

Pada suatu hari Abu Salamah menjenguk Abu Hurairah r.a yang sedang sakit. “Tiba di tempatnya, kusandarkan kepalanya di dadaku, sambil mengucapkan do’a, Ya Allah sembuhkanlah Abu Hurairah.”

Langsung beliau menyela dengan berkata, “Ya Allah, jangan sembuhkan aku. Tapi kalau seandainya sudah tiba saatnya aku wafat, maka wafatkanlah aku.” Lalu Abu Salamah berkata, “Bukankah kita sebaiknya berharap untuk terus hidup?”

Kemudian Abu Hurairah berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tangan-Nya. Pasti akan datang pada para ulama, suatu zaman yang kematian itu lebih mereka harapkan disbanding emas yang mengkilap. Pasti akan datang suatu masa, saat itu kalian ziarah ke kubur saudara kalian dan mengatakan “Seandainya aku yang menempati tempatnya sekarang.”