Ada ‘Ujung Dunia’ di Arab Saudi

The Edge of the world Nejed, Riyadh
Ada 'Ujung Dunia' di Arab Saudi© visitsaudi.com

Di penghujung September 2018, penulis pernah menginap di sebuah hotel bernama The End of the Universe  di Nagarkot, Nepal.  Hotel ini tentu menarik karena menawarkan sensasi sesuai nama; Sebuah hotel di ujung dunia.

Apakah benar demikian? Tentu saja tidak! Hotel yang bertengger di ketinggian 2.175 dpl ini sangat terkenal dengan pemandangan yang indah tepat ke puncak-puncak Himalaya, terutama untuk orang-orang yang ingin melihat puncak Everest. Dengan demikian, ujung di sini bermakna ‘atas’ bila dikaitkan dengan tempatnya yang tinggi (vertikal).

‘Ujung  Dunia’ di Arab Saudi

Lain waktu, saya merencanakan bepergian ke sisi dunia yang lain, yaitu ‘Ujung  Dunia’ atau The Edge of the World. Lokasi ini berada di Kerajaan Arab Saudi. Disebut ‘Ujung Dunia’ karena dari atas keajaiban karang geologis ini kita bisa melihat cakrawala tanpa ada penghalang. Konteks ‘ujung’ di sini adalah tepian (horizontal).

The Edge of the World ini secara pasti terletak di gurun berbatu (Jabal Fihrayn), di tengah Nejed, Barat Laut kota Riyadh.  Dataran tinggi berbentuk busur ini terhampar sekitar 800 km dari Kota Qasim di utara ke Mashraf di selatan.

Gugusan pegunungan ini merupakan bagian dari gunung Tuwaiq, salah satu ikon geografis paling menonjol wilayah Nejed. Dibutuhkan waktu sekitar 1.5 jam untuk menempuh perjalanan  sejauh 90 km dari ibu kota.

Sayangnya, tidak ada transportasi umum untuk menggapai lokasi wisata ini. dengan demikian  kita harus menggunakan mobil pribadi, sewa, atau ikut tour dengan titik tolak keberangkatan dari Riyadh.

Dibanjiri air 130 tahun lalu

Sesampai di kaki batu karang yang menjulang itu, kita harus berjuang mendaki dengan memilih rute yang sesuai. Semua rute merupakan medan yang berat dan curam. Pendakian sebenarnya tidak terlalu lama, hanya sekitar 15-30 menit sudah sampai. Namun, diperlukan stamina yang cukup untuk mencapai puncak. Kelelahan saat mendaki terbayar tunai saat sudah berada di atas tebing.

Dari atas batu curam setinggi, kita dapat menikmati hamparan lembah dan gurun yang maha luas. Satu-satunya batas adalah birunya langit yang segera menjelma menjadi jingga saat mentari akan tenggelam.  Bila anda percaya, ahli geologi mengatakan bahwa lembah ini dibanjiri air pada 130 tahun yang lalu.

Anda dapat pula membayangkan  serombongan kafilah dagang melintasi rute di bawah sana pada masa perdagangan kuno. Mereka adalah kafilah dagang dari Yaman yang melintasi Semenanjung Arab menuju Persia dan kawasan Syam, yaitu daerah yang terletak di timur Laut Mediterania, barat Sungai Eufrat, dan utara Gunung Arab, serta selatan Pegunungan Taurus.

Datanglah ke sini saat musim dingin dan sore hari untuk menyaksikan pagelaran terindah dari puncak eksotisme sinar matahari saat tenggelam. Kawasan ini sudah menjadi spot wisata populer yang menyihir para pelancong dengan waktu singkat untuk menyempatkan diri menuju tempat ini.

Sebagai traveller muslim, jangan lupa bertasbih memujii kebesaran Allah SWT saat melihat anugerah bentang alam terindah ini, ya. Semuanya adalah ciptaan Allah.

“Bahwa sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda bagi yang menggunakan akal.”

(Surah al-i Imran, 3: 190)