Adi, Saffanah dan Hatim al-Ta’i: ‘Lebih dermawan dari Hatim’

Timur Tengah Muhammad Walidin
Muhammad Walidin
Adi, Saffanah dan Hatim al-Ta’i: 'Lebih dermawan dari Hatim'
Adi, Saffanah dan Hatim al-Ta’i: 'Lebih dermawan dari Hatim' © humanjourney.us

Suku al-Ta’i menetap di utara Jazirah Arab, utamanya di daerah Hail (sekarang provinsi Hail). Salah satu bangsawan suku al-Ta’i adalah Hatim al-Ta’i. Sejarah telah mencatat hal penting tentang sebuah keluarga ternama di kota Hail ini – yang terbukti dalam ungkapan pepatah Arab ‘Lebih dermawan dari Hatim’.

Sang ayah, Hatim al-Ta’i terkenal sebagai penyair yang dermawan. Kedua anaknya, Adi dan Saffanah dikenal karena ke-Islamannya. Ketiga tokoh ini akan dibahas secara flash back, dimulai dari putra-putrinya terlebih dahulu.

Adi bin Hatim

Adi bin Hatim masuk Islam setelah peristiwa Hail ditaklukkan oleh Rasulullah SAW. Sebagai putra bangsawan, ia tidak mau menyerah begitu saja dengan masuk Islam. Ia pergi ke utara (negeri Syam) dengan pengawalnya demi menyelamatkan agama nenek moyangnya: Rukusiya.

Kepercayaan ini memadukan ajaran Kristen dan Asshobi’in. Sampai suatu saat, saudarinya Saffanah datang ke Syam dan menceritakan pengalaman terbaiknya ketika ditawan oleh Nabi Muhammad SAW.

Saffanah binti Hatim

Sebagai putri bangsawan, Saffanah binti Hatim turut menjadi tawanan ketika pasukan Nabi Muhammad SAW menundukkan wilayah Hail. Ia sungguh diperlakukan sangat baik ketika menjadi tawanan. Nabi mengatakan bahwa ia akan dilepaskan ketika yakin perjanalannya ke Syam akan aman.

Akhirnya, saat kondisi aman, ia menyusul saudaranya Adi bin Hatim di negeri Syam. Cerita Saffanah tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW yang sangat elok telah menuntun Adi bin Hatim untuk datang ke Madinah dan masuk ke dalam Islam.

Hatim al-Ta’i: Penyair yang dermawan

Hatim Al-Ta’i adalah legenda dermawan Arab. Tokoh ini sebanding dengan Calhoun di Irlandia, Aristides di Yunani, atau Davey Crockett di Amerika. Karakter Hatim al-Ta’i sangat erat dengan kata pemurah yang tak alang kepalang.

Ia akan memberikan apa saja dari hartanya ketika ada yang meminta. Kisah legendarisnya sangat dicintai di seluruh Jazirah Arab, Afrika bagian utara, bahkan juga populer di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Tersebutlah saat itu Jazirah Arab dilanda paceklik. Jangan rakyat jelata, keluarga bangsawan ini juga turut terdampak kemiskinan. Di tengah malam, sebuah suara memanggil namanya. Ia mengatakan bahwa anak-anaknya belum juga makan. Hatim tersentak bangun.

Beliau segera menyembelih kuda perang kesayangannya, memasaknya, dan membagikan daging kuda kepada yang meminta, anak-anaknya dan tetangganya. Namun, Hatim sendiri meringkuk di sebuah sudut tanpa memakan sedikitpun dari masakannya. Ia mengatakan bahwa senyum orang-orang yang kenyang itu juga telah membuatnya kenyang.

Kisah-kisah Hatim yang inspiratif

Kisah-kisah Hatim ini sangat inspiratif. Legendanya bahkan difilmkan di India pada tahun 1990. Di Barat, beliau tampil dalam Kisah 1001 Malam karya Richard Burton sebagai hantu yang sangat pemurah, bahkan dalam kematian.

Di Persia, ia ditulis oelh Kashifi dengan judul ‘Tales of Hatim’ sebagai buku teks tentang etika untuk penguasa Persia. Buku ini diwariskan secara turun temurun hingga kesultanan Ottoman. Pada abad ke-17, ketenaran Hatim telah sampai di India dan Indonesia. Kisahnya mewakili keramahtamahan yang nyata, khas budaya Arab.

Di samping sebagai bangsawan yang dermawan, Hatim al-Ta’i adalah penyair kota Hail yang hebat. Ibnu ‘Arabi menyatakan bahwa perilaku Hatim sama indahnya dengan puisinya. Ia selalu bisa menempatkan diri. Jika diminta ia akan memberi. Bila bertarung ia akan menang. Jika bertanding ia akan unggul.

Sayangnya, Hatim al-Ta’i meninggal tahun 578 Masehi saat Nabi Muhammad SAW masih muda. Beruntungnya, penyair yang dermawan ini telah menitipkan anak-anaknya sebagai sahabat Rasulullah.