Adonis – pemimpin revolusi penyair baru

Dunia Arab Muhammad Walidin 25-Okt-2020
360px-Adonis_Cracow_Poland_May12_2011_Fot_Mariusz_Kubik_08
Adonis atau Ali Ahmad Said Isbir © By Mariusz Kubik CC BY-SA 3.0, Link

Tiba-tiba saya terkenang Adonis, sang pembaharu puisi Arab era pasca Kahlil Gibran. Ceritanya, pada tahun 2010, saya diminta oleh pimpinan untuk menyiapkan kuliah umum dengan pembicara tunggal Adonis.

Waktunya sungguh mendadak. Iklan kuliah umum belum terpasang. Zaman itu belum ada sosial media, di mana komunikasi masih berjalan lamban. Tetapi, saya ingin tampil perfect di mata Adonis.

Saya tidak ingin sastrawan besar yang sejak 1981 tinggal di Paris ini kecewa. Saya persiapkan semua secara sempurna. Sebait puisinya sudah tertulis di layar sebelum beliau tiba. Seluruh mahasiswa, terutama dari prodi Sastra Arab dikerahkan untuk datang.  Saat beliau datang, saya mendapati kegembiraan tergambar dalam raut wajahnya.

Penyair Arab kontemporer yang paling berpengaruh

Kalau dikatakan bahwa ia lahir untuk puisi, memang benarlah adanya. Hidupnya berubah saat membacakan puisi nasionalisme di hadapan Presiden Syria saat datang ke kampungnya tahun 1944. Penggalan puisinya begini, “For us you are a sword, for you we are sheats.” Sang presiden, Shukri al-Kuwatly, terkesima.

Ia memerintahkan agar Adonis dikirim ke sekolah sekuler Perancis, di Tartus, Syria. Keberuntungan terus berlanjut hingga ia menyelesaikan sarjana bidang filasafat di Universitas Damaskus.

Padahal sebelumnya, penyair yang lahir tahun 1930 di desa Qashabain, Latakia, Syria ini berasal dari keluarga nelayan miskin. Ia tidak mengenal pendidikan formal hingga terjadi keajaiban seperti cerita di atas, saat ia berusia 13 tahun. Keajaiban ini sebenarnya telah dipersiapkan. Ayahnya memastikan walau Adonis kecil tak pergi ke sekolah formal, ia telah mengajarkan puisi-puisi Arab kepadanya, dan Adonis menguasainya.

Kini Adonis, bernama asli Ali Ahmad Said Isbir, merupakan salah satu penyair Arab kontemporer yang paling berpengaruh di kancah perpuisian Arab. Ia membawa kebaruan dalam puisi-puisinya.

Pindah ke Lebanon dan Perancis, membuka jalan baru puisi Arab

Tersebab masalah politik, ia pindah ke Lebanon tahun 1956 dan karir kesastrawanannya saat di sana semakin cemerlang. Ia mendirikan majalah Al-syi’r dan Mawaqif bersama Yusuf al-Khal. Dengan media ini, ia membuka jalan baru puisi Arab dalam hal modernisme dan evolusi puisi serta prosa puisi.

Bahkan sejak tinggal di Perancis, ia membentuk corak baru dalam karyanya, yaitu mistisme tanpa agama dan sufistik tradisional serta proses menjelajahi garis perbatasan melalui jalan surealis dan metafisik individualisme.

Sejak 2002, ia dikenali juga sebagai pelukis.  Orang melihat lukisannya sebagai perpaduan antara gambar yang abstrak, semburat tinta yang surealis yang bersanding karib dengan kaligrafi tulis tangan yang liris. Lukisannya juga bisa dianggap sebagai puisi bergambar karena setiap kanvas yang tercoret adalah perpanjangan dari diksi puisinya.

Tercatat 29 karya Adonis yang telah diterjamahkan ke dalam sekitar 13 bahasa dunia. Beberapa antologi puisinya bisa dilihat dari daftar berikut ini. Aghani Mihyar al-Dimasyqi (1961) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nyanyian Mihyar dari Damskus (2008).

Awraq fi al-Rih (1963), al-Masrah wa al-Maraya (1968) diterjemahkan dengan judul Panggung dan Cermin (2018), Qasa’id Ula (1970), wakt bain al-Ramad wa al-Wurud (1980), Haza Huwa  Ismy (1980), dll. Barangkali beberapa antologi puisi ini terangkum dalam al-A’mal al-Syi’riyah al-Kamilah Diwan Adonis (1971).