Agama adalah pokok panduan manusia

Islam untuk Pemula 17 Mar 2021 Roni Haldi Alimi
Opini oleh Roni Haldi Alimi
Agama adalah pokok panduan manusia
Agama adalah pokok panduan manusia © Oleksii Yaremenko | Dreamstime.com

Seluruh agama ketuhanan atau agama samawi (wahyu) adalah rahmat dari Tuhan kepada para hamba.  Agama adalah untuk mengatasi permasalahan umat manusia dan menghilangkan kebingungan anak-anak Adam dalam kehidupan mereka.

Agama juga guna untuk terciptanya kasih sayang, cinta kasih, kesetaraan dan harmonis di antara mereka untuk suksesi sebagai sebaik-baik makhluk ciptaan Tuhan di bumi.

Kelemahan akal manusia

Akal tidaklah mampu menjamin makna-makna luhur itu, juga tidak mencapai persaudaraan bahagia yang luar biasa. Ini karena pikiran dikendalikan oleh nafsu dan cenderung pada ketidakadilan dan penindasan.

Dan itulah sebabnya agama hadir mengambil peran sebagai petunjuk dalam mengarungi kehidupan. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.”

(Quran surah an-Nisa’, ayat 135)

Jadi, akal saja tidak berarti dalam mereformasi jiwa, mengoreksi moral dan tolak ukur ambang batas yang diinginkan. Bukankah akal pikiran yang menempatkan yang kuat hari ini menjajah yang lemah?

Bukankah akal pikiran yang menjadikan orang yang kaya menguasai menindas yang miskin? Dan bukankan akal pikiran mendorong yang berkuasa merantai kebebasan yang lemah?

Bukankah akal pikiran yang melahirkan keinginan mencelakai menghancurkan orang lain karena persaingan? Dan bukankah akal pikiran yang memotivasi seseorang yang punya kesempatan untuk menjatuhkan orang lain hanya karena ketidaksenangan?

Bukankah akal pikiran yang menciptakan makar pembusukan seseorang yang dibenci dimusuhi? Dan agama-agama samawi menolaknya dan bertahan semua bentuk kekurangan akal pikiran itu.

Agama adalah pokok panduan manusia

Agama adalah pokok dan panduan terbaik untuk berpikir, dan menyelamatkan manusia dari kesalahan berpikir yang menyebabkan rusaknya persaudaraan dan kedamaian dunia.

Jika agama memilih untuk membantu orang mencapai tujuan umat manusia dalam koridor kedamaian dan cinta kasih, maka itu adalah kebenaran dan belas kasihan bagi manusia. Tanpanya, ketidakteraturan akan terjadi sepenuhnya.

Perhatikanlah ketika orang berpaling dari agama dan mereka menolak menunjukkan kebaikan dan kelembutan yang semestinya dilakukan. Maka benarlah firman Allah Taala dalam surah al-Anbiya, ayat 107:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

Kepercayaan pada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Tahu adalah pembuat bijaknya seseorang dari apa yang dibuktikan oleh naluri dan dibimbing kepadanya oleh tindakan, dan jika pun ada orang mengatakan tentang itu sudah sesuai dengan naluri dan akal mereka, sungguh disitulah letak kenaifan dan kelemahan mendasar mereka.

Sebagaimana orang mengatakan siang saat cahaya datang benderang dan memudahkan kaki untuk melangkah berjalan. Ini adalah orang-orang yang dunia tidak sepi dari mereka.

Mereka terlihat seperti ‘titisan setan’ di setiap masa hadir untuk pembenaran ketenaran mereka. Dan mereka mendapatkan perlindungan maksimal dari sepemikiran dengan mereka.

Jika mereka tahu bahwa hakikat sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang miskin dan lemah. Punya batas waktu sebelum sampai ke penghujung kematian. Dan setelah itu akan meninggalkan penyesalan terhadap apa-apa saja yang telah diusahakannya.

Mereka yang menuhankan akal telah dibutakan oleh keinginan dan nafsu. Sehingga mereka ingin membenarkannya apa yang mereka pikirkan atas nama menyangkal agama, menyangkal hari kebangkitan dan hari pembalasan. Hingga mereka berkata: ‘Apa yang dibawa agama adalah mitos, jadi mereka berpaling dari kitab suci dan apa yang dibawa oleh Nabi dan Rasul.’ Semoga Allah Taala mengampuni mereka!