Agama sebagai perekat

Islam Tholhah Nuhin
Opini oleh Tholhah Nuhin
Agama sebagai perekat
Agama sebagai perekat © Mehreen Fn | Dreamstime.com

Perbedaan budaya, kultur dan tradisi suatu wilayah dengan wilayah yang lain juga akan menghasilkan karakter yang berbeda. Inilah salah satu kekayaan bangsa kita yang terdiri dari banyak suku yang tersebar di berbagai wilayah.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pelbagai perbedaan tersebut dapat menjadi pemicu munculnya sebuah konflik bila tidak dikelola dengan baik.

Agama sebagai perekat

Salah satu contoh paling dramatis konflik memilukan yang terjadi antara etnis Madura sebagai pendatang versus etnis Dayak di Kalimantan. Terlepas dari siapa salah siapa benar atas meletusnya konflik ini.

Kedua etnis yang saling bersengketa, khususnya tokoh ulama dan aparat pemerintah harus menjadikannya sebagai pelajaran berharga agar tidak lagi terjadi di masa-masa yang akan datang.

Karena peristiwa ini tidak hanya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa secara sia-sia, tapi juga meninggalkan penyakit psikis, dendam dan trauma berkepanjangan. Bila kita menganalisa kasus di atas, maka ada elemen mendasar yang tidak berperan dengan baik di tengah masyarakat. Yaitu peran agama yang seharusnya muncul sebagai perekat khususnya bagi komunitas yang berada dalam satu agama dan keyakinan.

Padahal kita seharusnya dapat belajar dari sejarah konflik antara suku Aus dan Khazraj sebelum datangnya Islam. Konflik (baca: perang) yang terjadi antara kedua suku ini sebenarnya dipicu oleh persoalan sangat sepele. Namun, akibatnya berlangsung sangat lama bahkan melibatkan beberapa generasi.

Konflik berkepanjangan itu berakhir dengan sendirinya setelah mereka memeluk Islam dan memiliki pemahaman yang sama bahwa sesungguhnya mereka telah dipersaudarakan oleh satu aqidah dan keyakinan. Sebagaimana firman Allah Taala:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

(Surah Al-Hujurat, ayat 10)

Masyarakat Indonesia sangat majemuk

Maka Islam sesungguhnya memiliki daya rekat sangat kuat bila ia dipahami dengan baik oleh pemeluknya. Ia bahkan menghadirkan di tengah kita perasaan cinta pada sesama dan menumbuhkan Itsar (mengutamakan saudara daripada diri sendiri).

Mungkin di antara kita ada yang pesimis dan menganggap utopia bila agama dan keyakinan mampu menjadi perekat sebagaimana terjadi pada komunitas suku Aus dan Khazraj di Madinah ketika itu.

Masyarakat Indonesia yang sangat majemuk tidak hanya di sekat oleh budaya dan karakter yang berbeda, tapi perbedaan mazhab dan pemahaman terhadap implementasi ajaran Islam (khilafiyah). Bahkan perbedaan pada organisasi dakwah Islam dapat menjadi jurang pemisah dan sumber konflik.

Realitas ini dengan sendirinya menjelaskan bahwa, betapa tokoh agama dan ulama kita belum mampu mentransformasikan nilai-nilai Islam ke dalam jiwa umat ini, agar menjadi perekat dan pengikat kuat di antara mereka. Sehingga dapat toleran dan lapang dada terhadap sesuatu yang tidak disepakati dan bekerja sama pada sesuatu yang disepakati.

Yang lebih ironi lagi adalah ketika sosok yang seharusnya diteladani dan layak tampil sebagai perekat karena posisinya sebagai tokoh agama, justru terjebak dalam arus konflik. Bahkan, jadi pemantik munculnya konflik dalam tubuh umat.

Tragedi memiriskan hati ini dapat kita saksikan dalam tubuh sejumlah organisasi ke-Islaman atau partai Islam (atau hanya dipimpin oleh tokoh Islam). Seharusnya, tokoh-tokoh yang ada di dalamnya lebih mampu mengatasi persoalan internal mereka.

Inilah yang terbaik dilakukan sebelum menggemakan diri sebagai tokoh yang seakan mampu mengatasi persoalan bangsa dan negara yang lebih besar dan kompleks.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.