Agar bahagia kita raih bersama

Keluarga Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Agar bahagia kita raih bersama
Agar bahagia kita raih bersama © Tatiana Chekryzhova | Dreamstime.com

Kebahagiaan diharap diinginkan setiap pasangan dalam berumahtangga. Banyak usaha diakukan agar bahagia membersamai mereka. Ada yang mengagendakan liburan ke luar kota atau bahkan sampai ke luar negeri.

Ada juga memilih membelikan pasangannya berupa hadiah yang istimewa. Intinya ingin mendapatkan perhatian pasangannya dan melahirkan bahagia bersama.

Agar bahagia kita raih bersama

Waktu berjalan tanpa disadari ada penghalang yang merintangi jalan bahagia membersamai sebuah rumahtangga. Penghalang itu bernama obsesi mengingat kesalahan pasangan.

Kadang ada suami atau istri selalu terobsesi dengan kesalahan yang dilakukan pasangannya. Sangat sulit melupakan kesalahan pasangan, walaupun kesalahan itu sudah bertahun-tahun telah terjadi terlewati.

Seharusnya waktu yang lama membuatnya lupa atas apa yang telah menimpanya. Tapi kenyataannya, mereka terus menerus mengingat kesalahan pasangannya. Suasana ini membuat mereka tersiksa perasaan dan susah mencapai merasai bahagia.

Cara bahagia menurut Al-Farabi

Al-Farabi dalam karangannya Tahsil al-Saadah mengatakan bahwa:

“Kebahagiaan dapat diraih dicapai melalui usaha kontinyu mengamalkan perbuatan terpuji atas dasar kesadaran dan kemauan diri. Dimulai dari niat baik kemudian dibuktikan dengan amal saleh yang berkelanjutan. Maka diri akan merasakan ketergantungan dan kelezatan saat melakukan perbuatan terpuji.

Diri seseorang akan terus termotivasi untuk selalu mengulang melakukan perbuatan terpuji yang pada akhirnya akan mengantarkan pada kepuasan batin yang dirasakan. Rasa puas batin seseorang tersebut itulah dikenal dengan kebahagiaan.”

Dunia yang sangat besar ini bisa tertutup tak terlihat oleh hanya selembar daun yang menempel di mata kita. Demikian pula dengan hati dan otak kita. Apa yang paling banyak memenuhinya dirasa itu pula yang akan selalu teringat dan tidak pernah dilupakan.

Yang sering tampak sering dilihat, itu pulalah yang akan acap kali disebut dibicarakan. Dan apa saja yang sering dipikir direnungkan, itu pulalah yang akan sering hadir dalam tautan kalimat buah dari lisan. Mudah diingat sering diucap karena sering tampak di mata lalu lalang di pikiran.

Di mana letak bahagia?

Rasa bahagia itu letaknya di hati. Sama halnya seseorang ingin salat contohnya, diharapkan menghadirkan hati agar khusyuk mampu diraih dimiliki sehingga kualitas salatnya terbaik dalam hidup.

Makanya, Nabi Muhammad shallahu alaihi wasaalam mengingatkan kita akan pentingnya kedudukan sebuah hati:

“Ingatlah, bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”

(Hadis riwayat Muslim)

Semua orang miliki satu hati, tak lebih tak kurang. Hati kita yang hanya ada satu, jika dipenuhi dengan kesalahan yang dilakukan pasangan, maka tidak ada satupun sudut di hati kita untuk bisa merasakan berbagai kebaikannya walau hanya singgah sementara.

Namun, jika memenuhi hati dengan kebaikan pasangan, maka tidak ada lagi ruang memori yang tersisa untuk menyimpan ingatan tentang kesalahan dan kekurangannya.

Bagaimana agar selalu dalam kebaikan

Bagaimana caranya agar otak dan hati kita hanya diisi dipenuhi oleh kebaikan? Caranya adalah mulai lah membuat daftar kebaikan dan sisi positif dari pasangan kita. Yakinlah, pasangan kita pasti memiliki sangat banyak kebaikan selama ini.

Jadikan itu sebagai kenangan indah yang memenuhi rongga memori penyimpanan di hati dan otak kita. Coba usahakan untuk tidak membuat daftar kesalahan dan kekurangan pasangan kita.

Karena dari situlah muncul ‘Jamur-jamur perselisihan’ dalam rumah tangga. Ingat-ingatlah sebanyak-banyak kebaikan pasangan kita. Maka akan semakin memperluas ruang hati dan orak kita untuk menyadari kebaikan-kebaikannya. Dan coba rasakan bahwa ‘Jamur-jamur perselisihan’ akan tergantikan oleh ‘Benih-benih kebahagiaan’.

Semua orang dan setiap pasangan akan bisa merasakan kebahagiaan tergantung kepada kapan dan bagaimana mereka mengusahakannya. Karena menurut al-Farabi, kebahagiaan itu adalah puncak kebaikan.

Pertanyaannya, kebaikan apa yang telah kita usahakan sebagai usaha untuk menjemput kebahagiaan? Kebahagiaan itu diusahakan bukan datang menghampiri dengan sendirinya. Ingin raih bahagia, usahakanlah kebaikan!

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.