Agar bahtera terus berlayar!

Filsafat Komiruddin
Opini oleh Komiruddin
Agar bahtera terus berlayar!
Agar bahtera terus berlayar! © Athenar | Dreamstime.com

Kehidupan ini ibarat berada dalam bahtera besar yang menuju pulau harapan. Di mana masing-masing yang ada di dalam menjaga agar jangan sampai bahtera tersebut tenggelam.

Sebab bila tenggelam semua penumpang akan terkena musibah, tak terkecuali dan tempat tujuan hanya tinggal harapan.

Bagaimana agar bahtera terus berlayar?

Maka paling tidak ada lima hal yang harus dipenuhi agar bahtera besar itu tidak karam dan tenggelam atau ditinggalkan pelanggan.

Tata tertib, kapabelitas dan memenuhi syarat

Pertama, adanya penumpang yang mentaati tata tertib dan peraturan serta tahu posisi. Penumpang yang melanggar tata tertib, bukan hanya akan membahaya dirinya, tapi bisa jadi juga membahayakan orang lain.

Semisal, dilarang duduk di pagar, atau merokok di ruang berAC atau mengganggu tugas nakhkoda atau anak buah kapal (ABK).

Kedua, adanya nahkoda dan awak kapal memiliki kapabelitas, mengetahui arah dan tujuan kemana kapal berlayar, mampu mengendalikan kapal bila ada badai yang menyerang dan mampu mengambil keputusan yang tepat pada saat genting.

Ada lagi yang tidak bisa diabaikan yaitu, memiliki pengalaman lapangan dan jam terbang yang sudah tidak diragukan lagi.

Nahkoda dan awak kapal yang tidak kapabel akan membuat bingung dan resah penumpang dan membuat kapal lambat berjalan. Dan bisa jadi akan membuat kapal tenggelam, karena tak mampu menghadap badai yang besar.

Ketiga, kapalnya memenuhi syarat layak untuk dibawa berlayar, seperti bahan bakar memadai, ruangan ruangannya sudah memenuhi standar kenyamanan dan keamanan, kapasitasnya sudah disesuaikan dengan banyaknya penumpang dan lain sebagainya

Jika kapal kekurangan bahan bakar, ruangannya sempit dan pengap, penumpangnya dibiarkan melebihi kapasitasnya, bisa dipastikan kapal akan tenggelam atau akan ditinggalkan pelanggan. Pelanggan akan mencari kapal yang sanggup memberikan rasa nyaman dan dapat memenuhi kebutuhannya.

Faktor luaran dan saling mengingat

Keempat, faktor luar, seperti tenangnya gelombang laut, tidak adanya badai atau ancaman perompak.

Kelima, adanya suasana saling mengingatkan antara penumpang itu sendiri dan awak kapal. Sebab baik penumpang ataupun, nahkoda dan awak kapal itu manusia. Ia bisa salah, lupa dan memiliki kelemahan. Karena ini sifatnya, maka saling mengingatkan menjadi penting.

Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.”

(Hadis riwayat Bukhari, 2493)

Jadi, bahtera akan terus berlayar bila penumpang taat peraturan. Bila ada nahkoda dan anak buah kapal yang kapabel, kapal yang layak, suasana yang bersahabat dan adanya budaya saling mengingatkan.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.