Agar kehidupan kita lebih bernilai

Masyarakat 24 Feb 2021 Tholhah Nuhin
Opini oleh Tholhah Nuhin
Agar kehidupan kita lebih bernilai
Agar kehidupan kita lebih bernilai © Odua | Dreamstime.com

Orang besar adalah orang yang hidupnya bukan berorientasi secara pribadi, namun berorientasi terhadap kehidupan orang lain. Dengan bertujuan agar setiap aktivitas yang ia lakukan berdampak positif terhadap orang lain.

Untuk merealisasikan hal tersebut dibutuhkan hal-hal berikut ini:

Al-Fahm As-Sahih lil Islam (Pemahaman yang Benar terhadap Islam)

Din al-Islam merupakan sumber inspirasi dari setiap kebaikan, baik kebaikan individu maupun kehidupan sosial. Dalam konteks kehidupan individu kita temukan ungkapan Rasullullah SAW :

”Bersungguh-sungguhlah atas apa yang bermanfaat untukmu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.”

(Hadis riwayat Muslim, An-nasa’i dan Ibnu Majah)

Hadis tersebut mendorong setiap individu muslim agar melakukan setiap kebaikan secara serius. Walaupun hanya bermanfaat terhadap dirinya sendiri dengan membangun sandaran vertikal yang kokoh dan menjahui sifat lemah dan malas.

Karena Rasullullah SAW tahu betul bahwa untuk dapat melakukan kesalehan dan skala makro (besar) selalu dimulai dari skala mikro (kecil). Dari kebaikan individu itulah, kita dapat merealisasikan sabda Rasullullah: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat terhadap orang lain”.

Pengetahuan seorang muslim atas hal inilah yang akan menjadikan hidupnya lebih bernilai bagi saudaranya bukan hanya dirinya sendiri. Jadi mulailah segalanya dari pemahaman yang  sahih yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Al-Ihtiram bi qiimatil waqti (Menghormati nilai waktu)

Waktu dalam kehidapan seorang muslim adalah amal saleh yang bernilai pahala di sisi Allah SWT. Dari sinilah betapa nilai waktu begitu urgen dalam kehidupan kita. Sehingga bagaimana agar setiap tarikan nafas kita memiliki nilai positif yang universal.

Maka untuk merealisasikannya, kita harus memanej waktu dengan baik. Agar waktu bernilai strategis, kita dapat melakukan hal-hal berikit ini:

  • Menyusun rencana dan tujuan yang jelas. Maka kita akan dapat memenej waktu kita dengan mudah dan jelas juga
  • Mencatat gagasan, rencana dan tujuan  pada selembar kertas atau pada buku harian kita
  • Melakukan komparasi antara beberapa masalah yang harus diprioritaskan. Karena waktu yang kita miliki terbatas
  • Membaca dan memahami ulang rencana dan tujuan kita pada waktu luang

Orang-orang besar dan memiliki jiwa keluhuran dikenang dengan manis oleh generasi setelahnya karena ihtiromnya atau penghormatannya terhadap waktu.

Belajar dari manusia luhur dan mulia

Kita dapat belajar dari sahabat Rasullullah SAW, Muadz bin Jabal r.a. Namanya dikenang dan dicatat dengan tinta emas karena waktu-waktunya yang bernilai bagi umat dengan memberi kontribusi dakwah di Yaman walaupun beliau wafat muda yaitu berusia 34 tahun.

Begitu juga Imam Syafi’i walau usianya tidak sampai usia Rasullullah SAW saat wafat. Namun, kontribusi ilmiah dinilai positif oleh kaum muslimin walau usianya saat muda, wafat pada usia 54 tahun. Karyanya dinikmati oleh penduduk muslim di seantero bumi.

Begitu juga Imam Nawawi ad-Dimasyqi. Walau usianya saat wafat adalah 45 tahun, namun namanya begitu harum dengan kontribusi ilmiahnya terutama dalam bidang ilmu hadis.

Begitulah manusia luhur dan mulia menjadi terhormat di sisi Allah Taala dan manusia karena penghormatan mereka terhadap nilai waktu. Sekarang bagaimana dengan kita? Agar seluruh kehidupan kita lebih bermakna dan lebih bermanfaat.