Ahmad Mathar: penyair perlawanan Irak

Timur Tengah 07 Jan 2021 Muhammad Walidin
Muhammad Walidin
Ahmad Mathar penyair perlawanan Irak © alchetron.com
Ahmad Mathar penyair perlawanan Irak © alchetron.com

Sejak sebelum Perang Teluk I (2 Agustus 1990-28 Februari 1991), penyair kelahiran Tanumah, Basrah tahun 1954 ini telah aktif menulis puisi. Awalnya adalah puisi-puisi romantis khas remaja umur 14 tahun di awal tahun 70-an.

Setelah ia melihat konflik terjadi antara pemerintah dan rakyat, puisinya mulai berbelok arah ke tema-tema pembelaan rakyat. Puisi-puisi perlawanan yang ia kemukakan selaras dengan langkahnya memasuki dunia politik untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.

Ahmad Mathar: penyair perlawanan Irak

Akibat aktivitas politiknya itu, ia menjadi pelarian ke Kuwait. Di sana ia bekerja di surat kabar Kuwait al-Qubs sebagai redaktur di  bidang sastra dan budaya. Nasib membawanya ke London pada tahun 1986 untuk bekerja di kantor internasional al-Qubs. Sempat pindah ke Tunisia, tetapi kembali menetap lagi di London.

Setelah terjadi Perang Teluk 1, ia malah melihat Irak berada dalam kondisi yang sangat parah. Puisi-puisinya secara lugas mengggambarkan paradoks antara keinginan Barat yang berusaha tampil sebagai pahlawan Hak Asasi Manusia (HAM) dengan realitas sosial dan politik yang terjadi di negaranya.

Alih-alih ingin melindungi hak warga sipil Irak, Barat telah memorakporandakan kehidupan Irak hingga ke titik terendah dari kemanusiaan. Pahlawan HAM dari Barat tak ubahnya sebagai pembual yang bercerita tentang dongeng kemanusiaan dan HAM di siang bolong.

Mari kita lihat potongan syair berjudul al-Hashad (Para Pemanen) dari penyair diaspora berkebangsaan Irak ini:

Amerika melemparkan anjing kepada kami

Lalu membuat kami memohon untuk menyingkirkan anjing itu

Amerika menembakkan peluru berdalih menyelamatkan kami dari anjing itu

Si anjing selamat…..kami yang mati syahid

Amerika membuat anjing itu  

Imbalannya kami harus tunduk!

Pada masa panen, seharusnya semua orang bergembira, mengadakan pesta, dan penuh dengan selaksa keriaan. Akan tetapi, panen ini berbalik dengan harapan. Amerika dan sekutunya yang panen pujian setelah menghancurkan Irak dalam operasi badai gurun untuk membela kedaulatan Kuwait.

Tema-tema segara dalam puisi-puisi Ahmad Mathar

Amerika berpesta pora dalam panen kehancuran untuk ladang peradaban Abbasiyah yang bernama Irak. Penderitaan rakyat akibat kolonialisme gaya baru dan ketidakpedulian pemerintah terhadap penderitaan rakyat selalu menjadi tema-tema segara dalam puisi-puisi Ahmad Mathar.

Lihatlah potongan puisi berikut ini:

Setelah satu tahun berlalu, dia datang lagi mengunjungi kami

Sekali lagi dia berkata:

“Apa keluhan kalian? Katakan dengan jujur dan lantang

Dan jangan takut pada siapapun”.

 

Masa itu telah berlalu

Tak ada yang mau mengadu!

Kini giliranku bicara:

Di mana roti dan susu itu, di mana ketentraman rumah itu, di mana lapangan pekerjaan itu?

Di mana orang yang memenuhi kebutuhan obat-obatan bagi fakir miskin yang cuma-cuma itu?

Maaf, Tuan

….di mana temanku, Hasan?

Puisi ini menggambarkan kegagalan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Bahkan kebutuhan akan keamanan juga sirna sebagaimana hilangnya tokoh Hasan yang mengadu pada pemerintah.

Padahal pemerintah mengundang orang-orang untuk mengadukan permasalahannya. Tak dinyana, janji akan keamanan dan kesejahteraan hanya tinggal isapan jempol belaka. Puisi-puisi Ahmad Mathar juga dibidikkan kepada politik rezim Arab saat terjadi Arab Spring tahun 2011.

Ahmad Mathar, penyair yang merupakan anak keempat dari sepuluh bersaudara, berasal dari keluarga miskin dari pinggiran kota Basrah, menjadi penyambung lidah perlawanan bagi rakyat Irak. Ia wafat pada 22 Mei 2014 di London, England.

Meninggalkan tiga orang putra dan seorang putri. Karya-karyanya dapat dibaca lewat antologi puisinya: laa Fataat 1, laa Fataat 2 (1987), Ma As’ab al-Kalam (1987), Qasidah ila Naji al-‘Aliy (1989), Inni al-Mansyuq A’lahu (1989) dan Diwan as-Sa’ah (1989).

Karya-karyanya yang terbit setelah tinggal di London adalah al-A’mal Kamilah yang terdiri dari beberapa judul, seperti Bidayah, al-Garib, Adalah, Abbas, Hikayati, Hayya ‘Ala al-Jihad (1999), La Mafarra, dll.