Ahmad Zaki Abu Shadi, sastrawan ahli bakteriologi

Dunia Muhammad Walidin 05-Sep-2020
AZakiAShadi
Prangko memperingati Ahmad Zaki Abu Shadi © philatelia.net

Memperbincangkan tokoh-tokoh pembaharu dalam sastra Arab modern tak lengkap rasanya bila tidak membahas Abu Shadi. Di tengah karirnya sebagai dokter, ia produktif berkarya di bidang sastra. Dan yang paling penting, ia membawa ide pembaharuan dalam sastra Arab modern.

Ahmad Zaki Abu Shadi lahir 09 Februari 1892 di Hayy Abidin, Kaherah, Mesir. Ayahnya bernama Muhammed Abu Shadi Bey, seorang advokat. Sementara ibunya, Amina Nagib adalah penyair yang mengalirkan darah seni ke tubuh Abu Syadi. Sang ibu memiliki adik seorang penyair bernama Mustafa Najib. Sang Ibu juga memiliki salon sastra di Kaherah sebagai tempat berkumpul para sastrawan setiap hari Rabu. Khalil Mutran sering hadir di pertemuan ini.

Ahmad menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di tanah kelahiran. Sambil studi dan masih berusia 13 tahun, ia telah menerbitkan beberapa puisi. Bahkan di usia 16 tahun, ia menerbitkan tulisannya berjudul Qatarat Man Yara fil Adab wal Ijtima.

Menurut Khalil Mutran, karya ini menunjukkan betapa luasnya wawasan Ahmad tentang unsur pembentuk karya sastra dan gaya bahasa. Di sisi lain, karya ini menunjukkan kepekaannya dalam menjawab problematika sosial kemasyarakatan, seperti politik, budaya yang terjadi di Mesir.  Usia 18 tahun, antologi puisinya Anda’ al-Fajri (1910) juga terbit.

Saat usianya menginjak 20 tahun (1912), ia dikirim ayahnya ke Inggris untuk belajar ilmu kedokteran di Universitas London. Ia melanjutkan pendidikannya di tempat yang sama untuk spesialisasi bakteriologi. Yang terpenting untuk diingat bahwa selama ia di Inggris, ia semakin giat belajar sastra Inggris dan Perancis, khususnya karya-karya Keats, Shelly, Woodsworth, Dickens, Arndold Bennet, dan G.G. Shaw.

Pengetahuan tentang sastra itu ia transfer  ke koran-koran di tanah air lewat tulisan-tulisan, baik prosa maupun puisi. Bahkan di London ia mendirikan kelompok studi al-Nady al-Misry yang mengkaji perkembangan dan karya sastra Arab di Mesir.

Saat kembali ke Mesir tahun 1922, ia mulai memimpin depertemen yang membidangi bakteriologi di Kaherah. Sebagai dokter, karirnya sangat bagus. Ia pernah menjadi wakil dekan Fakultas Kedokteran Universitas Alexandria. Di tengah karirnya sebagai dokter, ia tetap terlibat dalam pembaruan di bidang sastra di Mesir.

Ia menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama ‘Apollo’ dengan dua bahasa pengantar, Inggris dan Arab, yang di antaranya memuat karya-karya sastra jenis puisi. Sastrawan yang tergabung dalam aliran ini antara lain Ibrahim Naji, Kamil Kaylani, dan Sayyid Ibrahim.

Apollo memiliki obsesi untuk menyatukan dan memberikan wadah bagi para penyair untuk mengembangkan bakat seninya. Apabila modernisasi aliran Diwan banyak menghasilkan karya baik puisi maupun prosa, maka modernisasi kelompok Apollo lebih banyak menghasilkan konsep tentang karya sastra.

Baik kelompok Diwan maupun aliran Apollo sama-sama melakukan counter attack terhadap gerakan neoklasik yang masih mempertahankan corak puisi lama. Mereka mengajak pada perubahan yang total. Aliran ini mengkritik metode taklid pada karya klasik yang dilakukan kelompok neoklasik. Menurut kelompok ini, hal itu seharusnya tidak boleh dilakukan.

Adapun sikap yang baik adalah mengambil aspek yang baik saja sebagai bahan pertimbangan untuk menciptakan karya sendiri, sehingga tetap orisinal. Syukri menekankan bahwa ketika penyair Arab membaca sastra bangsa lain, mereka seharusnya hanya ingin memperbarui makna dan menemukan kreativitas baru, bukan menjiplak.

Ahmad Zaki Abu Shadi meninggalkan Mesir dan pindah ke Amerika pada tahu 1946 dan menetap di sana hingga meninggal pada 12 April 1955 di Washington DC. Ia mewariskan 15 antologi puisi, 2 antologi cerpen, dan 4 naskah drama.