Ahok, penghafal al-Quran dari Masjid Cheng Ho, Palembang

Kehidupan Muhammad Walidin 25-Agu-2020
Mualaf di Masjid Cheng Ho © Akbar Solo | Dreamstime.com

Tak banyak mualaf keturunan Tionghoa  di Indonesia yang hafal al-Quran. Salah satu yang diberkati itu adalah Ferianto al-Hafiz atau Cu Cin Hok. Lajang kelahiran 1989 dan bergelar Doktor dari Universitas Islam Negeri Gunung Djati Bandung ini kerap dipanggil dengan nama Ahok.

Ahok kecil terlahir dari orang tua beragama Konghucu yang taat. Dengan keadaan seperti ini, Ahok yang saat itu masih duduk di kelas 3 SMP tidak berani menunjukkan minat ke-Islamannya di hadapan keluarga. Sejujurnya, prosesi salat lima waktu dan puasa selama 30 hari bulan Ramadan itulah yang membuatnya tertarik denga ajaran Islam.

Ia mengamati kedua ibadah ini yang dilakukan keluarga kakak ipar (keduanya mualaf). Ia tertarik bahwa ibadah tersebut perpengaruh positif terhadap akhlaq keduanya. Diam-diam, Ahok rajin membaca buku-buku Islam, menonton acara TV bertemakan Islam, dan bertanya kepada orang-orang yang dianggap mengerti tentang Islam. Semua dilakukan secara sembunyi.

Ketika hidayah semakin dekat menghampiri, Ahok yang saat itu berusia 15 tahun mantap mengikrarkan syahadat di Masjid sekitar Sukarame (tahun 2005). Ia lega bisa menjemput hidayah ini. Namun ia tetap menyembunyikan identitas ke-islamannya kepada keluarga.

Dilema ini semakin bertambah karena Ibu Muslihah, seorang guru, menawarkan pendidikan lanjutan ke sebuah pesantren pasca lulus dari SMP. Seribu ragu muncul, bagaimana mungkin ia pergi ke pesantren sementara keluarga menganggap ia masih seperti sebelumnya? (belum hijrah). Bagaimana harus mengatakannya?

Ahok menyerahkan identitasnya pada Allah SWT. Ia pasrahkan saja kapan waktunya identitas keislamannya akan diketahui orang tua. Sampai akhirnya ia ketahuan akan salat dan mendapatkan teguran dari orang tuanya. Setelah itu, beberapa kali hendak salat atau setelah salat ketahuan membuat orang tuanya murka. Puncaknya, sajadah dan peci dibakar disertai dengan kekerasan verbal lainnya.

Penjelasan Ahok bahwa ia telah bersyahdat mengakhiri perdebatan besar tersebut. Ahok meminta keluarga untuk menghormati pilihannya dalam menentukan agama yang akan dianut. Belum juga habis kekagetan keluarga dengan isu ini, Ahok malah meminta izin untuk melanjutkan pedidikannya ke sebuah pesantren. Kuatnya tekad Ahok untuk belajar di pesantren membuat orang tuanya memberikan izin, walau sebenarnya dengan terpaksa.

Empat tahun menimba ilmu di Pesantren Raudatul Ulum membuat Ahok tertarik untuk menghafal al-Quran. Ayah angkatnya (Bpk. Almarhum H. Didi) mengirimkannya ke pesantren at-Taibin milik sang mualaf Anton Medan di Bogor, Jawa Barat. Namun sayang, Ahok masih labil. Ia kembali lagi ke Palembang setelah mencoba peruntungan di sana beberapa hari saja.

Tak lama berselang, ayah angkatnya kembali menawarkan kesempatan kedua  untuk menghafal a-Quran di pesantren al-Falah Nagreg, Bandung. Tahun 2009, Ahok mulai  menghafal al-Quran sembari menempuh pendidikan sarjana bidang pendidikan agama Islam. Berkat bimbingan KH. Ahmad Farizi, M.Pd.I, Ahok mampu menghafal 30 juz al-Quran dalam masa 14 bulan.

Setelah menamatkan program sarjana, pada tahun 2013 Ahok melanjutkan studi magister di UIN Bandung. Tahun 2015, ia melanjutkan pendidikan doktoralnya di universitas yang sama. Dengan disertasi berjudul ‘Pendidikan Islam pada Lembaga Pembinaan Mualaf di Bandung’, Ahok siap menyambut era pengabdian kepada ummat, terkhusus para mualaf Indonesia.

Ahok sangat bersyukur bisa menghafal Quran. Ia menyadari bahwa seluruh keberuntungannya karena menjadi seorang hafiz. Ia ingat pesan almarhum H. Didi, bapak angkatnya, “hiduplah dengan al-Quran, insya Allah al-Quran yang akan menghidupi urusan duniawimu”. Ia juga berpesan agar kita mensyukuri nikmatnya kebebasan beragama yang kita dapatkan. Sebab di luar sana, banyak (mualaf) yang berjuang hanya untuk sekedar mendirikan salat.

Sejak kepulangan Ahok ke Palembang pada bulan April 2019, Masjid Cheng Ho memiliki cahaya seorang al-Hafiz mualaf. Bersama dengan guru tahfiz lainnya, ust Rahmat, ia mulai aktif membina santri tahfiz al-Quran di Rumah tahfiz Jala’ al-Qulub Masjid al-Islam Cheng Ho Sriwijaya. Ia berharap, akan banyak para mualaf muda menjadi penghafal al-Quran dan siap mendistribusikan para penghafal ini untuk melayani ummat.