Pendapat 18-Jun-2020

Aku, keluargaku, dan tamu si Corona

Muhammad Walidin
Kolumnis
Berhati-hatilah menjaga keluarga anda © Fajri Hidayat | Dreamstime.com

Namaku Husein. Aku adalah perawat junior di sebuah rumah sakit pemerintah di kota besar di Pulau Sumatera. Akhir-akhir ini rasa khawatir mengalir deras dalam fikiranku. Betapa tidak, pekerjaanku cukup berisiko untuk terpapar.

Bersama rekan-rekan, aku bertugas di bagian Unit Gawat Darurat. Semua pasien di sini harus ditriase (proses pengambilan keputusan yang kompleks) secepatnya  sebagai tindakan pertolongan pertama. Di awal masa pandemi, rumah sakit kami belum terlalu siap dengan protokol penanganan COVID-19.

Saat seorang pasien datang di sore hari dengan gejala batuk dan demam, kami layani dengan standar tanpa Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. Kami berani melakukan hal ini karena dari interviu pasien mengaku tidak pernah berpegian ke luar kota. Memang saat itu penyebaran virus corona COVID-19 di kota kami masih bersifat interlokal. Belum ada kasus penyebaran lokal.

Jadwal sore habis. Perawat diganti. Sayapun pulang ke rumah. Sekitar jam 10 rumah sakit mengabari bahwa status pasien tadi positif COVID-19. Pasien tersebut baru jujur setelah diperihatkan hasil pemindaian rontgen paru-paru yang dicurigai COVID-19. Ia menyatakan bahwa ia baru pulang dari wilayah dengan status zona merah.

Bagai halilintar di siang bolong, kabar ini sungguh membuat saya dan sejawat yang bertugas sore shock. Keesokan harinya, saya langsung diminta untuk melakuan swab dan kembali lagi ke rumah sambil menunggu 3 hari hasil tes PCR. Ini adalah keputusan yang paling saya sesali. Seharusnya saya langsung melakukan isolasi di rumah sakit.

Walaupun telah melakukan tindakan preventif, keberadaan saya di rumah tetap berisiko menyemai virus ke tubuh istri dan anak saya yang baru berusia 3 tahun. Saya menyesal dan berdoa agar keluarga kecil saya ini terbebas dari virus yang saya bawa. Saya mohon Tuhan, saya mengiba….

Kekhawatiran saya tentang kesehatan keluarga saya terus saja menghimpit dada. Ditambah lagi dengan kekhawatiran terhadap stigma masyarakat bagi penderita COVID-19. Saya telah banyak mendengar pengusiran tenaga medis dari lingkungan karena takut tertular. Tentu saya tidak ingin mengalami hal serupa terhadap saya, apalagi keluarga.

Saya berusaha keras mencari cara agar bisa pergi ke rumah sakit tanpa protokol tapi tidak membahayakan sekeliling. Demikian pula agar keluarga saya bisa dilakukan swab tapi tetap aman bagi orang lain, namun juga aman dari stigma masyarakat yang paranoid. Saya gunakan jejaring kerja agar semua terlaksana namun aman bagi semua. Saya kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh melindungi keluarga dari apapun.

Alhamdulillah, semasa dalam isolasi saya mendapatkan kabar bila hasil tes PCR istri dan anak saya negatif. Mereka aman di rumah. Saya juga aman dan sehat di rumah sakit.

Saya Husein. Saya adalah paramedis yang terpapar. Saya tahu betapa cepatnya virus ini hinggap di tubuh saya. Oleh karena itu, berhati-hatilah menjaga keluarga anda.

Artikel terkait
Pendapat
Pendapat 25-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Terhadap fenomena ini penulis teringat hadis Nabi Muhammad SAW bahwa persaudaraan muslim itu ibarat satu tubuh, bila satu anggota sakit, maka seluruh badan juga turut merasa sakit. Bila pandemi kita anggap sebagai ujian iman, kita harus melipatgandakan potensi rahmah terhadap sesama yang kita coba bangun selama ini.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 10-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Oleh karena itu, kita akan mencari alternatif kata Angpao yang sekiranya pas untuk dilekatkan pada momen Lebaran. pencarian akan dimulai dari istilah-istilah dalam tradisi Arab, Islam, Indonesia, dan Melayu. Penelusuran padanan angpao dari bahasa di atas dipandang pas karena dianggap sebagai  akar dari tradisi Lebaran idulfitri.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 08-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Bila ditelusuri dari sunah Nabi Muhammad SAW dalam menyambut Idul Fitri,  memang ditemukan istilah yang bisa dikaitkan dengan angpao. Diketahui  ada tujuh kebiasaan beliau dalam menyambut hari ini:

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 05-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Secara konvensi, waktu mudik nusantara ditetapkan menjelang Lebaran Idul Fitri setiap tahunnya. Mudik lebaran telah menjadi agenda sosial tahunan yang masif.

Terus Terus