Al-Balad, kawasan bersejarah di Jeddah

Timur Tengah Muhammad Walidin
Pilihan oleh Muhammad Walidin
Al-Balad, kawasan bersejarah di Jeddah
Al-Balad, kawasan bersejarah di Jeddah (foto: Masjid al-Shaf'i) © thenationalnews.com/lifestyle/travel

Bagi para peziarah kota suci pada masa silam, nama daerah al-Balad tidaklah asing di telinga. Saat kinipun, nama al-Balad telah menjadi destinasi wisatawan ketika berkunjung ke kota Jeddah.

Hal ini tak mengherankan karena Al-Balad memiliki banyak sebutan, seperti Kota Tua, Gerbang Kota Mekkah, dan Jantung Kota Jeddah. Hal ini terangkum dalam satu sebutan ikonik: Jeddah Historical District.

Kota Tua al-Balad

Para wisatawan akan merasa kurang afdal bila berkunjung ke Jeddah tanpa mampir ke al-Balad: sebuah destinasi wisata kota tua. Betapa tidak, kota ini diperkirakan telah ada semenjak pra-Islam. Bukti-bukti kehidupan nelayan telah ada sejak dini.

Sejarah mencatat bahwa kota ini telah mengalami perkembangan signifikan sejak kekhalifahan Islam abad ke-7. Di al-Balad, didirikan pelabuhan untuk menyambut para peziarah kota suci.

Pelabuhan ini juga memiliki arti penting untuk persinggahan rute pelintasan Samudra Hindia sejak abad ke-16 hingga abad ke-20. Pada abad  ke-16, Jeddah akan dipenetrasi oleh Portugis.

Namun beruntung, Suleiman Basha, pemimpin Turki Ottoma berhasil menghalau kekuatan laut Portugis. Sejak, Turki Ottoman menaklukkan Dinasti Mamluk tahun 1517, praktis Wilayah Hijaz (termasuk Jeddah) berada dalam kekuasaan Turki Usmani.

Al-Balad: Jantung Kota Jeddah

Sejak itu, Jeddah menjadi pusat perhatian dengan dibangunnya tembok pertahanan untuk menangkal serangang luar, utamanya Portugis. Pihak berkuasa membangun tembok pertahanan mengelilingi kota, dengan enam gerbang dan enam pengawas.

Sejak awal, al-Balad berada di lokasi yang strategis. al-Balad telah berkembang menjadi rute perdagangan yang sibuk. Para pedagang dari Yaman dan Eropa yang akan melintasi Samudra Hindia pada abad ke-16 hingga abad ke-20 perlu bersandar di sini.

Para pengunjung kota suci dari Afrika dan Asia juga akan mampir di al-Balad.  Tak heran, kehadiran para saudagar ini menjadikan al-Balad benar-benar sibuk dan gemerlap. Ia adalah jantung kota Jeddah yang terus berdenyut siang dan malam.

Gerbang Menuju Mekkah

Sejak lama, Al-Balad telah menjadi tujuan semua pengunjung dua kota suci, Makkah dan Madinah. Pelabuhan lautnya merupakan tempat bersandar kapal-kapal dari penjuru dunia.

Ia disebut sebagai gerbang ke Mekkah karena merupakan titik temu ummat Islam seluruh dunia. Secara harfiah, di sana memang terdapat empat gerbang (dahulunya enam gerbang) untuk kontrol lalu lintas pendatang.

Keempat gerbang ini berfungsi sebagai pintu masuk ke daerah lain. Gerbang utara menuju Sham, gerbang timur menuju Makkah, gerbang selatan menuju Sharif, dan gerbang yang menghadap laut menuju al-Magharibah.

Ya, para peziarah ke tanah suci, akan keluar dari pintu gerbang timur menuju Mekkah yang jaraknya hanya 85 km. Bila ingin ke Madinah terlebih dahulu, maka diperlukan perjalanan panjang sejauh 463 km, melewati gerbang utara menuju Syam.

Distrik bersejarah Jeddah

Saat ini, al-Balad dijadikan daerah bersejarah karena perjalanannya yang panjang. Ia menjadi wisata populer di Jeddah. Para wisatawan dapat menikmati arsitektur khas tanah Hijaz.

Rumah-rumah yang tinggi dan rapat dengan sentuhan kayu berukir menjadi hidangan mata yang sangat menawan. Rumah-rumah itu ada yang bercat coklat, biru, dan hijau.

Konon, rumah bercat coklat menunjukkan ia saudagar. Rumah dengan cat biru menunjukkan pemiliknya adalah pelaut/nelayan. Bila rumah diberi cat hijau, maka pemiliknya pastilah sudah sejahtera.

Di samping itu, para wisatawan juga berburu berbagai produk murah dan cantik di al-Balad. Jangan lupa pula mengunjungi banyak monumen, pasar al-Nada, dan masjid tertua di Jeddah: Masjid al-Syafi’i.