Al-Hadi: Allah Taala sebagai pemberi segala petunjuk

Islam untuk Pemula 18 Apr 2021 Asna Marsono
Pilihan oleh Asna Marsono
Al-Hadi: Allah Taala sebagai pemberi segala petunjuk
Al-Hadi: Allah Taala sebagai pemberi segala petunjuk © Muhammad Annurmal | Dreamstime.com

Kata Al-Hadi berarti Yang Maha Memberi Panduan, Petunjuk. Asmaul Husna ini adalah nama yang hanya Allah SWT berhak miliki.

Karena Allah Taala adalah yang senantiasa membimbing dan membantu hamba menuju segala kebaikan dan menjauhkannya dari segala hal yang berbahaya. Juga, yang mengajari mereka apa yang tidak mereka ketahui.

Allah SWT memberikan kepada hamba-hamba-Nya Taqwa dan menunjuki hati mereka untuk condong kepada-Nya dan untuk mematuhi perintah-perintah-Nya.

Al-Hadi adalah Yang Maha Membimbing

Allah SWT telah menunjukkan kepada manusia jalan yang lurus dan membimbingnya dengan mengubah hatinya. Orang tidak bisa memberikan bimbingan kepada siapa pun bahkan jika mereka mau.

Oleh karena itu, perlu diyakini bahwa Taufiq adalah melakukan perbuatan baik atau menunjukkan jalan yang benar adalah pekerjaan Allah Taala semata. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman kepada Nabi-Nya yang tercinta:

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

(Quran surah al-Qasas, 28:56)

Konteks ayat ini adalah bahwa sebelum wafatnya Abu Thalib yaitu paman Nabi, Rasulullah SAW berulang kali mendesaknya untuk membacakan ‘La Ilaha Illallah’. Tapi pamannya tidak mengucapkannya.

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat ini dan mengatakan bahwa kamu tidak dapat memberikan petunjuk kepada pamanmu jika kamu mau. Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Siapa diberi petunjuk oleh Allah SWT kepada jalan yang benar?

Dari surah al-Qasas di atas berikut, kita dapat memetik pelajaran bahwa:

Pada bagian pertama ayat ini, dikatakan bahwa Allah Taala memanggil orang-orang ke jalan yang damai. Maksud dari jalan yang damai ini adalah jalan-jalan yang Allah telah tujukkan kepada hamba-Nya. Karena manusia sendiri meski memiliki segala kekayaan dan kekuatan, tidak akan mampu mendapat hidayah jika Allah tidak menghendaki.

Namun, Allah SWT memudahkan orang-orang yang mencari petunjuk untuk mengikutinya. Pesan Allah kepada umat-umat yang ada, terdapat di sekeliling kita. Para Nabi dan Rasul juga telah dirahmati oleh-Nya untuk membawa hidayah kepada umat manusia.

Imam Raghib al-Isfahani sempat memberikan penjelasan yang sangat bagus tentang kata Hidayah, dalam bukunya ‘Mufradat  Al-Quran’. Menurut komentarnya,  Hidayah adalah ‘membimbing seseorang ke tujuan dengan kasih karunia.’ Oleh karena itu, ‘Hidayah’ adalah dalam arti ini sejati dari Allah Taala semata.

Al-Hadi dan tiga tingkat bimbingan

Namun, memang benar bahwa ada tingkat petunjuk yang berbeda. Di tingkat pertama, al-Hadi dapat berwujud hal yang umum dan komprehensif. Seluruh alam semesta termasuk di dalamnya. Artinya, setiap objek dalam lingkupnya sendiri memiliki hikmahnya tersendiri.

Manusia diciptakan memiliki kecerdasan dan perasaan yang berbeda. Sedangkan benda-benda dikatakan tidak bernyawa atau tidak sensitif. Karena perbedaan perasaan ini, telah dibuat wajib bagi satu-satunya manusia dan jin dalam seluruh ciptaan untuk mengikuti ketentuan Syariat. Karena dalam dua kreasi ini, kecerdasan dan perasaan telah diberikan secara penuh.

Tingkat bimbingan kedua melibatkan mereka yang teliti dan cerdas. Bimbingan ini menjangkau umat melalui para Nabi dan kitab-kitab suci. Manusia yang percaya dengan kitab suci dan seisinya merupakan orang yang beriman dan telah diberi petunjuk, sedangkan yang mendzhalimi hal ini merupakan orang kafir.

Tingkat bimbingan ketiga bahkan lebih spesifik. Hidayah dari Allah SWT ini hanya datang untuk orang-orang yang beriman dan saleh. Tingkatan hidayah ini dinamakan juga dengan nama Taufik.

Taufik adalah ketika seorang hamba berharap agar sesuatu yang dilakukannya amal ma’ruf nahi munkar (menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya), dan demikian Allah Taala akan memberi pencerahan baginya.

Petunjuk kepada semua orang, tingkat bimbingan berbeda

Mengingat penafsiran bimbingan yang disebutkan di atas, kecurigaan telah diselesaikan bahwa telah dikatakan di berbagai tempat dalam Al-Qur’an, “Allah tidak memberikan bimbingan kepada orang-orang yang zalim dan orang-orang jahat.”

Allah SWT berfirman: “Allah memberi petunjuk kepada semua orang.” Jawabannya adalah bahwa ada tingkat bimbingan yang berbeda. Dalam arti luas, segala sesuatu di dunia dibimbing, dan juga, penindas dan pendosa tidak akan diberi petunjuk oleh Allah SWT.

Yang pertama dan ketiga dari tiga tingkat bimbingan berhubungan langsung dengan Allah  Taala. Pekerjaan para Nabi dan Rasul terbatas pada tingkat bimbingan kedua. Di mana pun Al-Quran menyebutkan para Nabi dan Rasul sebagai petunjuk, itu atas dasar bimbingan tingkat kedua.