Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Al-Khansa: Penyair perempuan pertama dalam sejarah literatur Arab

Wanita 18 Feb 2021
Asna Marsono
Al-Khansa: Penyair perempuan pertama dalam sejarah literatur Arab
Al-Khansa: Penyair perempuan pertama dalam sejarah literatur Arab © Tom Fakler | Dreamstime.com

Pada abad ke-7, di antara orang-orang yang fasih sastra Arab berdiri seorang wanita yang kuat, Al-Khansa yang bakat menulis puisinya dengan cepat diakui oleh orang-orang dilingkungannya. Arti dari nama pena Al-Khansa adalah ‘berhidung pendek’. Nama pena tersebut dinamai karena hidungnya sedikit bengkok dengan lubang hidung sempit.

Nama asli Al-Khansa adalah Tumadir binti Amr binti Al-Harth binti Al-Sharid. Lahir di Najid, Saudi Arabia, ia dianggap sebagai penyair wanita Arab terbesar yang pernah hidup. Di zamannya, tidak pernah ada seorang wanita yang menulis puisi begitu penuh pengetahuan, wawasan dan perasaan.

Koleksi puisi Al-Khansa

Puisi-puisinya dianggap prima untuk puisi Al-Muaallaqat  yang legendaris. Karyanya termasuk salah satu kompilasi dari tujuh karya yang dianggap terbaik dari era pra-Islam. Nabi Muhammad SAW biasa memintanya untuk membacakan puisinya di pertemuan-pertemuan.

Al-Khansa menyusun banyak puisi. Puisinya yang paling terkenal dan fasih adalah Odes dalam ratapan kedua saudaranya, Sakhr dan Mu’awiyah. Mereka terbunuh dalam perang selama era pra-Islam.

‘Kebangkitan dan pengaturan Matahari terus mengubah ingatan saya tentang kematian Sakhr,‘ adalah contoh sajak yang disebut sebagai salah satu yang paling menghibur. Diwan atau koleksi puisinya menampilkan ribuan baris komposisi terbaiknya.

Mulai dari pembalasan dan bantahan jenaka, penyair Arab terkenal pada masanya, hingga puisi yang mencakup tema-tema seperti kehormatan, cinta, nilai-nilai keluarga, dan tradisi.

Menurut seorang sejarawan terkenal, Profesor Hasan Al-Naboodah, bahwa karya-karya Al-Khansa  memberikan pengetahuan tentang periode emas dalam sejarah Arab.

Masuknya al-Khansa ke dalam agama Islam

Al-Khansa dikenal karena imannya yang mendalam kepada Allah dan rasul-Nya, Nabi besar Muhammad SAW. Beliau terkenal karena semangatnya untuk jihad dalam mendukung kebenaran. Menerima panggilan Rasulullah, ia bergabung dalam Pertempuran Qadisiyyah pada tahun 16 Hijriah. Keempat putranya juga bergabung dengannya.

Pada suatu malam, al-Khansa berkata, “Hai anak-anakku, kamu sekalian telah memeluk Islam dengan sukarela dan bebas. Demi Allah, tiada Tuhan yang patut disembah selain Dia. Kamu adalah putra-putra dari seorang pria dan wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu atau aku juga tidak mempermalukan pamanmu dari pihak ibu. Aku juga tidak mencemarkan garis keturunanmu yang mulia, aku juga tidak bermain-main dalam mendidikmu sekalian.

Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa Allah SWT akan memberikan balasan kepada orang-orang yang beriman. Dan ketahuilah oleh kamu sekalian bahwa tempat tinggalnya yang abadi lebih baik dari pada tempat tinggal yang sementara ini. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

(Quran surah al-i Imraan, 3:200)

Jika besok pagi datang kepadamu saat kamu aman, Insya Allah pulanglah lebih awal untuk menyerang musuhmu dengan keberanian dan carilah pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa melawan musuh. Ketika pertempuran menjadi sengit, bertahanlah. Bersemangatlah untuk bertarung dengan berani saat pasukan terlibat dalam pertempuran. Ketahuilah bahwa kalian akan memperoleh padanya keuntungan yang besar yaitu surga.”

Ibu dari para syuhada

Mendengar hal tersebut, putra-putranya terus berjuang sambil membacakan Rajaz (empat sampai enam baris puisi Arab). Mereka telah bertarung yang terbaik sampai titik penghabisan, atas izin Allah Taala mereka mati syahid.

Ketika al-Khansa mendapat berita, ia hanya membacakan, “Segala puji bagi Allah Yang Mahakuasa sebuah penghormatan untuk meninggal di Jalan-Nya, dan saya berharap bahwa saya dapat bergabung bersama mereka di tempat peristirahatan yang penuh belas kasih-Nya.”

Kehilangan putra-putranya demi menyebarkan Islam memberinya gelar lain, yaitu Umm Al Shuhada. Sampai hari ini, ‘Marthiyah’ atau ‘Ratapan Kepada yang Jatuh’ terkenal sebagai salah satu tulisan yang paling berdampak dari tipe ini dalam bahasa Arab.

Sebagai tanda penghormatan, penyair terkenal Kahlil Gibran membuat sketsa potret al-Khansa yang terkenal dengan ekspresi sedih yang mendalam. Baru-baru ini, salah satu sekolah anak perempuan pertama di Dubai dinamai menurut namanya. Di Arab, berbagai sekolah, rumah sakit, dan institusi pendidikan dinamai menurut namanya.

Semoga keanggunan figur al-Khansa diterima di sisi Allah SWT. Al-Khansa juga merupakan teladan dari sikap sabar untuk mendapat pahala Allah Yang Maha Kuasa, dan merupakan wanita yang berbudi luhur yang terus menginspirasi generasi ke generasi.