Al-Kindi tokoh filsafat Islam

Dunia Kkartika Sustry 10-Sep-2020
Al-kindi-omslag
Al-Kindi © mvslim.com

Banyak yang tidak kita ketahui tentang kemasyhuran para ilmuwan Muslim terdahulu. Seyogyanya kita jadikan motivasi untuk selalu menekuni keilmuan yang ada saat ini. Bahkan hal yang lebih ironi kita mengenal ilmuan non-Muslim dengan bangganya melafalkan referensi dari mereka, padahal secara historis ilmuan Muslim lebih awal membumikan ilmu dari mereka.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengenal para ilmuwan tersebut, salah satunya Al-Kindi. Beliau memiliki nama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq as-Sabbah Al-Kindi. Ilmuwan satu ini lahir pada tahun 188 H (801 M)  dan wafat pada tahun 260 H (873 M). Ia lebih dikenal dengan nama Al-Kindi yang merupakan seorang ilmuan Muslim di bidang filsafat.

Ia berasal dari keturunan Arab suku Kindah, maka nama Al-Kindi pula diambil dari suku Kindah lama. Para ilmuwan memanggilnya tokoh filsafat parapetik pertama Islam, atau filsuf Arab dengan mengkaji filsafat dengan filsuf Yunani kuno.

Al-Kindi menempuh perjalanan menuntut ilmu di Basrah, kemudian ke Baghdad pada saat itu menjadi pusat belajar dan mendapatkan pengetahuan Islam. Selama di Baghdad inilah ia mempelajari nilai-nilai Islam dengan menghubungkan antara filsafat Yunani dan ditinjau secara Islam.

Namun, pemikirannya yang demikian itu mendapat tantangan para ulama. Tetapi ia masih mempertahankan pendapatnya dan mengatakan bahwa pengajaran keagamaan yang mulanya doktriner dapat dipahami dengan filsafat. Akhirnya ia memperlihatkan filsafat agama dengan ajaran Islam.

Adapun karya tulis Al-Kindi kurang lebih sekitar 230 judul buku (lihat buku Ibn Nadim ‘Al Fihrits’), sayangnya banyak yang tenggelam dan kita hanya mengenal judulnya seperti dalam bidang musik ‘Al-kubra fi al Ta’lif’ (Mengenai Harmoni), dalam bidang kedokteran dan pengobatan ‘Al A’rad al Hadithath minal Balgham wa ‘Illah Mawt al Fuja’ah’ (tentang Kejang Akibat Lendir dan Penyebab Kematian Mendadak).

Al-Kindi menganut paham filsafat yang begitu rumit sehingga perlu pemikiran yang mendalam untuk pemahaman karyanya. Menurut Al-Kindi, tidak ada seorangpun yang dapat menjadi filsu tanpa belajar matematika, untuk menemukan permainan fantastik terdiri dari huruf-huruf dan angka-angka yang dapat ditemukan dalam tulisannya.

Ia juga menerapkan matematika pada ilmu kedokteran, lantaran demikian Cardan, seorang filsuf Renaisans memasukkan Al-Kindi sebagai salah satu dari 12 pemikir yang memiliki konsep paling rumit dan detail.

Kita sebagai umat Islam patut berbangga dengan karya dan prestasi Al-Kindi yang telah menterjemahkan dan memperkenalkan filsafat Yunani ke dalam dunia Islam, juga sebaliknya dunia Barat mesti berterima kasih pada Al-Kindi karena kecerdasanya menghubungkan keilmuan Yunani dengan direvisi khazanah keislaman dan bisa digunakan hingga saat ini.

Kecerdasan Al-Kindi dan pemikirannya yang tidak mudah dipahami menjadikan ia terkenal dengan teori-teori yang rumit. Rumit maksudnya tidak mudah untuk dipahami kecuali dengan aspek filsafat juga. Dalam teorinya tentang Tuhan, “Keteraturan alam inderawi ini tidak mungkin terjadi, kecuali dengan adanya Zat yang tidak terlihat, dan Zat yang tidak terlihat itu tidak mungkin diketahui adanya kecuali dengan adanya keteraturan dan bekas-bekas yang menunjukkan ada-Nya.”

Nah, teori seperti ini disebut dengan teleologik. Secara sederhana ia menyampaikan keagungan Allah melalui terciptanya Alam semesta. Pemikiran Al-Kindi ini juga akhirnya melahirkan doktrin tentang akal, atau ruh atau pikiran dan nalar pada pemikiran Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Kindi ialah seorang filsuf Muslim yang cerdas.