Al-Maqamat: cikal bakal prosa fiksi Arab

Contoh al-Maqamat karya asli al-Hariri © Heritage Pictures | Dreamstime.com

Sepanjang periode Jahiliyah hingga Abbasiyah akhir, tradisi sastra Arab masih didominasi oleh keperkasaan puisi. Prosa dengan jenis fiksi, dalam artian  cerita rekaan seperti sekarang ini belumlah muncul. Bibit cerita fiksi versi sastra Arab adalah al-Maqamat.

Al-Maqamat adalah cerita yang diungkapkan di depan khalayak. Bentuknya bisa cerita pendek atau panjang. Sifatnya yang jenaka memudahkan pengarang memasukkan unsur kritik sosial di dalamnya. Tak heran bila tema tentang kejahatan dan kerusakan di masyarakat menjadi populer, seperti persolan tradisi minum anggur (khamar), anekdot, bahkan masalah penerapan hukum fiqh.

Tokoh dalam al-Maqamat biasanya dibuat kocak, berpakaian jelek, bersifat licik, tapi harus pintar. Tentu ada dialog di dalamnya selain narasi khas sudut pandang orang ketiga. Namun, yang membedakan al-Maqamat dengan fiksi modern adalah letak penekanan keindahan pada diksi dan gaya bahasanya. Oleh karena perbedaan mencolok inilah, Badi’uzzaman al-Hamdani, sang pelopor, tidak menamainya dongeng atau cerita, tetapi al-Maqamat.

Seni al-Maqamat tumbuh di abad keempat hijriyah. Tepatnya pada periode keempat masa pemerintahan dinasti Abbasiyah. Masa ini, percampuran etnis Arab dan Persia telah terjadi. Bahkan, bisa dibilang lebih Persia sentris. Baghdad sebagai pusat pemerintahan dihiasi dengan arsitektur dan sistem administrasi Persia.

Namun, bahasa Arab tetap digunakan secara masif, baik dalam ranah administrasi, keilmuan maupun sastra. Bahkan, di era kemunduran secara politis seperti ini, tradisi sastra Arab masih mendewakan bahasa Arab yang indah.

Al-Maqamat lahir di era keindahan bahasa Arab sebagai panglima. Para sastrawan membanjiri karya mereka dengan gaya bahasa yang indah. Kiranya persis dengan kemampuan sihir Nabi Musa di tengah digdayanya dunia persihiran di Mesir.

Genre prosa baru ini kemudian mengambil peran untuk pendidikan bahasa Arab yang indah kepada masyarakat. Esensi keindahan bahasa menjadi unsur penentu, sementara unsur cerita bisa menjadi sampiran. Oleh karena itu, karya al-Maqamat rerata banjir dengan rima, sajak, tibaq, jinas, tauriyah, dll.

Saat Bad’iuzzaman al-Hamdani (lahir 358 H) memperkenalkan jenis prosa fiksi ini. Masyarakat sangat menggandrunginya. Cerita-cerita yang diambil dari Ibnu Duraid (w.321 H), peristiwa tentang orang Arab, dongen Persia digubah menjadi al-Maqamat dengan hiasan gaya bahasa Arab yang indah. Para pemuda menyukai genre cerita ini. Khalayak umumpun berkumpul dalam majelis ketika Badi’uzzaman bercerita.

Masyarakat segera mengenal al-Maqamat karena sang pelopor genre baru ini suka berpindah-pindah tempat tinggal. Badi’uzzaman lahir di Hamdan, kota di selatan Persia. Belajar dengan ulama dan sastrawan di kota ini. Salah satu gurunya adalah Abu Hasan Ahmad bin Faris (w.390 H); seorang  ilmuan bahasa terkenal. Menjelang dewasa, ia pergi ke kota Rey. Lalu pindah ke Jurjan, lalu ke Nisafur.

Di kota inilah ia menciptakan Maqamatnya yang dikenalkan kepada muridnya dan mereka takjub luar biasa. Kemudian ia pindah ke Sijistan (semua masih di sekitar Iran). Saat ia pindah ke kota Herah Afganistan, ia berkeluarga dan meninggal dalam usia 40 tahun pada tahun 398 H.

Badi’uzzaman menyebutkan bahwa ia telah menciptakan 400 Maqamat.  Sebenarnya agak berlebihan karena jumlah yang sampai kepada kita hanya 52 Maqamat saja.