Al-Quran pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a

Al Coran
Al-Quran pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a © Fairoesh N. | Dreamstime.com

Al-Quran tidak akan pernah habis untuk menjadi pembahasan, sebab al-Quran bisa dilihat dari berbagai sudut pandang keilmuan. Namun mengenal sejarah al-Quran menjadi penting bagi semua muslim. Itu bisa menambah kecintaan kepada al-Quran.

Pada masa sekarang, al-Quran sudah dicetak dengan sangat indah. Berbagai versi dan berbagai bentuk tulisan, bahkan sudah banyak al-Quran dalam bentuk digital.  Namun, pada zaman Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, al-Quran berada di tulang, pelana, batu tipis, permukaan batu besar, kulit binatang, papan, dan pelepah kurma.

Al-Quran dihafal para sahabat

Pada zaman itu, al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur. Setiap ayat yang turun langsung dihafal oleh para sahabat (mereka memiliki intelektual yang tinggi). Ada tujuh sahabat yang termasyhur dalam menghafal.

“Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan, dan Abu Darda.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Bukan berarti sahabat lain tidak menghafal al-Quran. Dalam tulisan sejarah para sahabat berlomba-lomba menghafal al-Quran dan anak istrinya juga diperintahkan untuk menghafalnya.

Ketika Nabi Muhammad SAW wafat, al-Quran belum menjadi satu mushaf seperti yang ada sekarang ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a dilantik menjadi Khalifah. Pada masa kepemimpinan beliau, ada sejumlah kaum yang murtad, orang yang enggan membayar zakat dan seseorang yang mengaku Nabi, yaitu Musailamah Al-Kadzdzab.

Kelompok ini kemudian ditumpas dengan mengirimkan 4.000 pengendara kuda, pasukan di bawah pimpinan Khalid bin Walid r.a pada tahun 12 Hijriah. Kemudian perang itu disebut perang Yamamah karena terjadi di Yamamah, mengorbankan para penghafal al-Quran (Huffazh). Meninggal pada peperangan tersebut yaitu 700 orang huffazh.

Melihat banyaknya para huffazh yang meninggal dunia, Umar bin Khattab r.a merasa khawatir. Maka beliau bergegas menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a dan menceritakan kekhawatirannya ialah takut al-Quran berangsur-angsur hilang. Sebab makin banyaknya para penghafal al-Quran yang berkurang, beliau meminta supaya al-Quran bukan hanya dihafal namun juga dikumpulkan dan dituliskan.

Pengumpulan al-Quran

Pada awalnya Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a menolak, dengan dalih beliau tidak bisa mengerjakan apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW. Namun, Umar r.a terus mendesak, Umar berkata: “Demi Allah, ini suatu perkara yang baik.”

Umar r.a terus mengulang-ulang mendesak Abu Bakar r.a, hingga pada akhirnya Abu Bakar mengikuti saran Umar. Belum selesai sampai di situ, Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit r.a untuk menjadi ketua team pengumpulan al-Quran.

Namun, Zaid r.a pun menolak sebab ini bukan pekerjaan yang mudah dan tidak dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Namun seperti halnya Umar r.a, Abu Bakar r.a pun mendesak Zaid untuk mengumpulkan al-Quran. Zaid bin Tsabit pun menerima amanah yang diberikan Khalifah Abu Bakar kepadanya.

Mulailah Zaid r.a bekerja untuk mengumpulkan al-Quran ini dari berbagai sumber. Mendatangi para penghafal al-Quran yang masih ada dan memeriksa lembaran-lembaran yang ditulis pada zaman Nabi.  Pekerjaan mulia ini dibantu oleh para sahabat lainnya seperti Ubay bin Ka’ab r.a, Ali Bin Abi Thalib r.a dan Utsman Bin Affan r.a  serta didukung oleh semua sahabat lainnya.

Maka dengan usaha badan ini, terkumpullah al-Quran 30 juz dalam bentuk Shuhuf-shuhuf kertas. Inilah pengumpulan al-Quran periode pertama.