Ali Ahmad Bakasir, sastrawan Arab asal Surabaya  

Dunia Muhammad Walidin 01-Sep-2020
AliAhmadBakasir
Ali Ahmad Bakasir © historia.id

Ali Ahmad merupakan sastrawan keturunan Arab yang lahir di Surabaya Indonesia pada tahun 1910. Orang tuanya berasal dari Hadramaut. Ayahnya bernama Syekh Ahmad  bin Muhammad Bakasir dan berprofesi sebagai pedagang yang memiliki dua orang istri.  Seorang istrinya tinggal di Hadramaut dan seorang lagi tinggal di Surabaya.

Ali menghabiskan masa kecilnya di Surabaya. Pada usia 8 tahun, ia dikirim ayahnya ke Hadramaut untuk belajar ilmu agama dan bahasa Arab mulai dari tingkat Kuttab dan melanjutkan ke al-Ma’had ad-Diny. Dengan demikian, Ali menjalani masa mudanya di Hadramaut dan menikah pada usia 20 tahun.

Pada tahun 1932 istrinya meninggal dunia karena mengidap penyakit kanker. Setelah kematian istrinya tercinta, Ali meninggalkan Hadramaut dan melakukan perjalanan ke Somalia, Ethiopia, Hijaz, Makkah, Madinah dan Taif.

Setelah lulus Bakaloreat di kota Seiyun Hadramaut, tahun 1934 ia melanjutkan kembali studinya di Fakultas Sastra Universitas Fuad I (sekarang Universitas Kairo) dengan mengambil jurusan Bahasa Inggris dan selesai pada tahun 1939. setelah itu, ia juga masuk Diploma Tarbiyah li al-Mu’allimin hingga lulus pada tahun 1940. tahun 1943, ia menikah dengan wanita Mesir dan secara resmi menjadi warga Negara tersebut pada tanggal 22 Agustus 1951.

Ali  memulai dunia kepenulisannya sejak usia 13 tahun. Pada usia tersebut, ia telah menggubah puisi. Tema puisinya berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan juga dari bacaan sastra Arab dan sastra Barat. Karya sastranya lengkap terdiri dari puisi, prosa, dan naskah drama.

Di bidang puisi, ia telah mengarang ratusan puisi, salah satunya Nizam al-Burdah au zikra Muhammad (1934). Sementara novelnya cukup berbilang: Salamat al-Qas (1944), memperoleh penghargaan Ad-Dimradasiyah thn 1944, Wa Islamah (1945) , memperoleh penghargaan dari Departemen Pendidikan tahun 1945 Lailat an-Nahr (1946), ats-Tsa’ir al-Ahmar (1948) Sirat Syuja’ (1956), al-Faris al-Jamil. Yang paling menakjubkan adalah naskah drama, baik yang liris maupun prosais. Keseluruhannya mencapai 51 naskah. Sebuah karya yang luar biasa, ya!

Walaupun menetap di Mesir, tapi jiwa nasionalisme Indonesianya tetap membara. Ia bergabung dalam organiasi Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ia sangat rajin menulis tentang Indonesia di surat kabar. Ia perkenalkan Syahrir, Sukarno, Mohammad Hatta, Dr. Soetomo dalam bahasa Arab. Sehingga orang-orang Mesir menjadi terbiasa dengan diskursus tentang Indonesia.

Tidak berhenti di sana,  Ia berjuang lewat sastra. Ia menulis Audatul Firdaus (Kembalinya Surga) di Kairo. Naskah drama empat babak terdiri dari 155 halaman ini diterbitkan pertama kali oleh penerbit Maktabah Misr. Ali mempersembahkan drama ini kepada rakyat Indonesia. Selanjutnya, ia pentaskan Audatul Firdaus (Kembalinya Surga) di depan khalayak Mesir.

Ia sisipkan nama Ahmad Sukarno dan selipkan lagu Indonesia Raya dalam bahasa Arab. Keesokan harinya, publik Mesir ramai membicarakan sebuah negara yang ingin merdeka. Pemimpinnya Muslim karena bernama (Ahmad) Sukarno. Dengan demikian, Mesir merupakan negara yang pertama kali mengakui Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Ali Ahmad Bakasirlah yang menginisiasi penambahan nama Ahmad sebelum kata Soekarno, untuk mengesankan bahwa Indonesia adalah negara Muslim yang perlu dukungan rakyat Mesir. Bila anda ke Mesir, maka anda akan bertemu dengan sebuah jalan dengan nama Ahmad Soekarno.

Pada tanggal 10 November 1969, Ali wafat dan disemayamkan di pemakaman Imam Syafi’i di Mesir. Terima kasih Tuan Ali, jasamu untuk Indonesia akan terkenang sepanjang masa.