Allah SWT dan nilai mereka yang berlaku adil

dreamstime_s_192000642
Allah SWT dan nilai mereka yang berlaku adil © Sorapop Udomsri | Dreamstime.com

Nabi Yusuf a.s memang lebih disayangi ayahnya. Tatkala mimpi kemuliaan dibisikkan ke hadapan sang ayahanda, semakin meninggi tingkat sayang kepada Yusuf.

Terlalu disayangi rupanya harus siap dibenci. Disayang ayahnya tapi dibenci sepuluh bersaudara seayah lagi serumah. Hari-hari mereka lalui, semakin benderang tampak timpang kasih sayang di antara mereka.

Nabi Yusuf a.s lebih dicintai ayah Baginda

Berjumpalah hati-hati yang terluka. Sama merasa saling berbagi cara menumpahkan kekesalan terhadap sikap tak adil ayahanda terhadap mereka. Ketidakadilan sang ayah, Nabi Ya’qub a.s, dianggap sebagai kekeliruan yang nyata. Begitulah Allah SWT gambarkan dalam surat Yusuf, ayat 8:

“Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.”

Tuntutan sepuluh bersaudara seayah lagi serumah itu adalah agar ayah mereka berlaku adil. Bukti kuat kekuatan mereka miliki. Mereka sepuluh jumlahnya, bukan satu; jauh bila dibanding dengan Yusuf a.s yang masih kecil tak berdaya.

Allah SWT telah mengingatkan melalui firman-Nya, dalam surah al-Ma`idah, ayat 8 tentang sikap berlaku adil. Keadilan akan kabur tampaknya, jauh dilihat mata, jika didasari kebencian.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Letakkan nilai di atas manusia

Mengagumi atau membenci seseorang bukanlah tabiat hati dan akal yang merdeka dan dewasa. Itu tabiat mengerdilkan diri sendiri. Tabiat yang menjerumuskan pada sikap pengultusan makhluk atau mudah memfitnah. Karena itu, mari letakkan nilai di atas manusia, dan belajarlah memahami proses jatuh bangun manusia di jalan nilai itu secara adil.

Salah satu tanda kemerdekaan jiwa dan kedewasaan iman seseorang adalah ia tidak terpengaruh dengan kritik dan sanjungan manusia kepadanya. Kritik tidak mendekatkannya ke Neraka, sanjungan juga tidak membawanya ke Surga. Ia berpegang pada nilai. Jatuh bangun dengan caranya sendiri di jalan nilai itu.

“Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu pada suatu hari nanti ia akan menjadi musuhmu; dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu pada suatu hari nanti ia akan menjadi kecintaanmu.”

(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Islam mengajarkan persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiyyah), persaudaraan nasionalisme (ukhuwwah wathaniyyah), dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah). Menjaga nilai persaudaraan merupakan wujud riil dari ketinggian iman seseorang.

Memandang manusia sejajar adalah konsekuensi dari kedalaman nilai ibadah. Adillah walau adil itu sulit. Akan tetapi, berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa.