Allah SWT yang menamai kamu Muslim!

Photo <a href="https://www.dreamstime.com/stock-photo-happy-man-sunset-toned-photo-silhouette-hands-up-background-image82347952">82347952</a> © <a href="https://www.dreamstime.com/sabphoto_info" itemprop="author">Sabphoto</a> - <a href="https://www.dreamstime.com/photos-images/happy-man.html">Dreamstime.com</a>
Allah SWT yang menamai kamu Muslim! © - Dreamstime.com

Beruntunglah kita, karena ternyata Allah SWT yang menamai kamu Muslim! Allahlah yang menamai kita sebagai Muslim sejak dahulu. Perhatikan firman Allah SWT ini:

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

(Surah al-Hajj 22:78)

Islam sebagai agama dan jalan kehidupan

Hal ini apabila kita melakukan serangkaian variable seperti ini; memilih Islam sebagai agama dan jalan kehidupan dengan kesadaran akal yang penuh dan dengan dorongan perasaan yang tulus dan ikhlas. Serta menjalaninya sebagai sikap dan prilaku dalam kehidupan pribadi, keluarga, social dan pekerjaan. Inilah yang dimaksud firman Allah SWT berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

(Surah al-Baqarah 2:208)

Manusia Muslim harus tunduk dan patuh pada nilai-nilai kebenaran yang ada dalam ajaran Islam. Kita harus berserah diri dan siap untuk mengikuti segala ketentuan dan kebijakan yang telah digariskan Oleh Rabbul Jalil dalam setiap ayat-ayat-Nya.

Muslim harus senantiasa mengimplementasikan sunah-sunah Rasul-Nya dalam lembaran kehidupannya. Ia tidak pernah mengenal syiar (slogan) lain dalam hidupnya kecuali syiar ini, Sami’naa wa ‘Atha’naa (kami dengar dan kami taati).

Pribadi luhur Muslim: akal, jiwa dan prilaku

Nilai-nilai luhur Islam harus mengkristal dalam seluruh unsur yang ada dalam diri seorang Muslim yaitu; akal, jiwa dan prilaku. Apa yang dipahami dan dipilih harus selaras dengan kebenaran Islam.

Apa yang diyakini harus mengakar pada nilai-nilai keimanan dan apa yang diaplikasikan dan yang diimplementasikan harus benar-benar lahir dari pemahaman dan keyakinan akan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Dari sini, seorang Muslim akan menjadi mukmin haqqan dan model manusia ideal. Seorang mukmin yang akalnya tidak terjangkit penyakit ‘syubhat’, yang jiwanya bebas dari penyakit ‘syahwat’ dan yang prilakunya sejalan dan selaras dengan nilai-nilai ilahiah. Apapun jabatannya dan siapapun orangnya, ia akan tampil mempesona dengan pribadi luhur yang telah tershibghat (tercelup) nilai-nilai kebenaran Islam.