Amal saleh itu butuh pembiasaan

Jiwa Bayu RI 13-Agu-2020
Amal saleh itu butuh pembiasaan © Suffieann Suatau | Dreamstime.com

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud r.a bersabda: “Seseorang berlaku jujur, dan terus menerus berlaku jujur sampai Allah tuliskan bahwa dia adalah orang yang jujur. Dan seseorang akan melakukan kebohongan dan terus menerus melakukan kebohongan sampai Allah menulisnya sebagai seorang pembohong.”  (Mutafaq alaih atau disepakati atasnya)

Apa pesan berharga dari Rasulullah SAW dalam hadis itu? Seseorang hanya akan tercetak menjadi pribadi sesuai dengan perbuatan yang sering dilakukannya. Kejujuran itu awalnya adalah sesuatu yang dibiasakan, diulang-ulang dan dilakukan terus menerus hingga akhirnya kejujuran itu menjadi bagian dari kepribadian yang ada dalam diri seseorang itu. Kebohongan, bila dibiasakan juga akan menjadikan pelakunya menjadi seorang yang pembohong.

Dalam hadis lain yang disampaikan oleh Aisyah r.a, Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik amal bagi Allah adalah yang selalu dilakukan, meskipun sedikit.” (Hadis riwayat Muslim). Untuk itu, mari kita fokus pada pembiasaan amal-amal saleh agar ianya menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dikerjakan. Ketika tertunda atau terlewatkan akan menimbulkan kegelisahan.

Dalam hal ibadah salat misalnya, ketika pembiasaan itu sudah dijalankan, maka secara otomatis ia akan begitu mudah untuk dikerjakan meskipun sesibuk apapun seseorang itu. Hanya saja, terkadang ketika sudah sampai pada tahap kebiasaan yang terus menerus, jangan sampai kualitasnya diabaikan. Sehingga tidak terasa lagi kekhusyukan dalam ibadah salat yang dilakukan. Demikian juga  dengan ibadah-ibadah yang lain.

Proses menjadi sebuah kebiasaan awalnya berat untuk dilakukan, untuk itu butuh  pemaksaan terhadap diri sendiri. Dipaksa diri untuk beramal saleh agar amal saleh menjadi dominan dalam kehidupan. Sama halnya dengan ibadah puasa yang kita kerjakan dibulan Ramadan.

Puasa dengan menahan lapar dan dahaga ditambah lagi melaksanakan salat tarawih, tilawah Quran, zikir dan berbagi dengan sesama di bulan Ramadan tentu terasa sangat berat bila tidak dilatih dan dibiasakan. Maka sejak dini  kita sudah mendidik dan mengajak anak-anak kita untuk membiasakan amalan wajib ini. Hasilnya, banyak kita temui anak-anak yang masih usia belia tapi sudah mampu berpuasa penuh. Itu semua terjadi adalah dengan pembiasaan yang terus menerus.

Pembiasaan dalam amal-amal saleh adalah sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Karena seseorang akan dibangkitkan dihari akhirat sesuai dengan kebiasaannya ketika hidup didunia. Lakukanlah amal saleh dengan terus menerus tanpa mengeluh. Hadirkan niat ikhlas dalam amal-amal saleh kita.

Jika menghadapi berbagai macam kesulitan dalam hidup, janganlah melampiaskan kekecewaaan dengan mengurangi atau meninggalkan amal saleh tersebut. Kita tidak tau kapan kematian datang kepada kita. Alangkah indahnya tatkala sakaratul maut menghampiri, saat itu kita dalam keadaan menjalankan amal saleh.