Anak yang berbakti seperti anak tangga

Budaya Roni Haldi Alimi 14-Sep-2020
dreamstime_s_21678361
Bakti anak tangga © Worldfoto | Dreamstime.com

Ketika kita ingin memasuki sebuah rumah adat, tentu dengan melalui menaiki sebuah tangga yang ada berdiri di depannya. Perhatikanlah dengan cermat sebuah tangga yang sering diinjak dinaiki oleh siapa saja yang hendak memasuki rumah itu.

Tangga yang punya anak atau alas dari kayu tempat alas berpijak kedua kaki. anak tangga pasti berada posisinya di antara dua sisi paha tangga, anak tangga selalu diinjak siapa saja naik dan turun. Kemudian lihatlah di samping kiri dan kanan tangga, kedua paha tangga tidak pernah diinjak dinaiki, yang ada tampak selalu dipegang dielus dengan tangan karena keduanya menjadi tempat berpegang tangan penyeimbang badan melangkah menaiki.

Begitulah tamsilan bagi manusia, seorang anak yang berbakti pada ayah dan ibu, akan selalu berusaha menjaga nama baik kehormatan kedua orang tuanya, walau dirinya diinjak dihina, sang anak diibaratkan bak anak tangga tetap rela berkorban menahan beban demi menjaga martabat dan kehormatan ayah dan ibunya.

Karena sang anak tangga paham benar bagaimana pengorbanan paha penopang tangga yang tidak lain adalah kedua orang tuanya. Malam siang keduanya telah dan terus berjuang berkorban demi menjaga membesarkan anaknya. Tak kena kata lelah apalagi patah asa membina mendidik anaknya agar berguna bertuah di masa hadapan.

Wahai anak tangga, ingatlah baik-baik pesan Allah SWT untukmu agar berbuat baik terhadap kedua orang tuamu, sebagaimana tertera pada Al-Quran, Surah Al-Ahqaf, ayat 15: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”

Ayat itu adalah bentuk perintah bukan anjuran. Perintah untuk berbakti kepada ayah dan ibu kita, bukan sebaliknya berlaku durhaka. Berbakti itu sama sebutannya dengan birrul walidain. Berbakti itu adalah naluri fitrah yang dimiliki setiap manusia siapa pun ia. Sebab dalam jiwa setiap orang pasti lah ada tertanam sifat cinta dan hormat kepada ayah dan ibunya.

Karena sebab keduanya setiap manusia ada terlahir hidup melihat dunia. Berbakti itu adalah melakukan kebaikan yang menyenangkan kedua mereka. Bukan hanya sekedar cukup menghormati menyanjung mereka saja. Bahkan sekalipun keduanya atau salah satu dari mereka berlainan akidah dengan kita anak tangganya, tetap berbakti tak lekang dari diri kita.  Kecuali jika keduanya mengajak membujuk dan memaksa mempersekutukan Allah Ta’ala.

Ingatlah wahai anak tangga, rida Allah SWT terletak tergantung atas rida kedua mereka. Dan murka Allah berkait terhubung dengan kemurkaan kedua ayah dan ibu mu. Buatlah usaha agar rida keduanya dapat engkau raih, maka rida Allah pun akan menyertaimu.

Rasulullah SAW pernah juga mengingatkan kita akan pengaruh bakti kepada kedua paha tangga kita, bahwa Surga pun akan sulit kita masuki asbab durhaka kepada kedua orang tua: “Sungguh celaka orang yang masih hidup kedua orang tuanya, tapi ia tidak masuk surga.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Ya Allah ya Tuhan kami, berilah kami petunjuk agar mampu mensyukuri nikmat-Mu. Anugerahi kami kesempatan untuk berbakti kepada ibu bapak kami, agar kami dapat dan mampu berbuat kebaikan yang mereka senangi.

Jadikanlah kami anak tangga yang sadar diri untuk berbakti bukan durhaka kepada keduanya. Karena kami yakin seyakin-yakinnya bahwa rida dan Surga Allah Ta’ala terletak pada rida dan doa kedua ayah dan bunda. Jadikanlah kami sebaik-baik anak tangga yang bahagia hidup di dunia dan Akhirat sana.