Anda bisa mencontoh teman dalam kebaikan?

Budaya Umri 10-Sep-2020
dreamstime_s_173963677
Berteman dalam kebaikan © Ayşegül Muhcu | Dreamstime.com

Teman atau sahabat merupakan orang yang berpengaruh dalam kehidupan seseorang, anak bisa dilihat karakternya dengan siapa dia berteman. Biasanya sifat antara dua sahabat tidak akan jauh berbeda. Rasulullah SAW memiliki banyak sahabat perjuangan dalam dakwah, empat di antaranya yang paling populer adalah sahabat Khulafa ur-Rasyidin.

Sejatinya semua sahabat atau teman akan baik dengan temannya. Namun, ada dua jenis teman: pertama pertemanan yang mengajak kepada kebaikan dan yang kedua mengajak kepada kejahatan. Tentu teman yang baik adalah teman yang selalu mengajak kepada kebaikan.

Zaman cangggih seperti sekarang ini, pertemanan terjalin bukan hanya di dunia nyata. Namun, di dunia maya juga sangat mudah menemukan teman. Akun sosial media bisa berteman dengan ribuan, bahkan jutaan orang. Setiap hari membuka sosial media seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain hanya untuk melihat status teman-temannya.

Positifnya banyak terjalin pertemanan, mudah-mudah ada banyak informasi dan ilmu yang dibagikan di laman pertemanan sosial media. Membuat anda menjadi pintar, mudah mendapatkan ilmu, informasi, jadwal acara dan lain sebagainya. Negatifnya jika digunakan untuk hal-hal yang salah, maka potensinya sangat besar untuk melakukan penipuan, maksiat, zina mata, perselingkuhan, dan lain sebagainya. Dua sisi yang sama besar potensi kebaikan dan kejahatannya.

Maka, bijaksana menggunakan sosial media sangat dianjurkan. Bagi anak di bawah umur peranan orang tua sangat dibutuhkan. Kalau tidak, anak tidak bisa mengontrol pertemanan dengan siapapun.

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Quran surah al-Hujurat : 13)

Ayat ini berkaitan dengan manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam konteks pertemanan ayat ini mengingatkan tentang ketakwaan. Berteman dan saling kenal dalam takwa ialah mengingatkan dalam kebaikan, kesabaran dan kebenaran. Inilah sejatinya perteman yang disyariatkan oleh al-Quran.

Apapun profesi hidup anda maka takwa menjadi tolak ukur dalam pertemanan. Ada banyak sahabat yang bisa ditiru tentang ketakwaannya. Misal anda seorang pengusaha maka bisa mencontoh Utsman bin Affan r.a (pengusaha yang bertakwa), anda seorang militer atau polisi bisa mencontoh Kholid Bin Walid r.a, anda seorang dosen/guru bisa mencontoh imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Anda seorang murid dan pelajar bisa mencontoh Abu Hurairah r.a. Anda seorang birokrat bisa mencontoh Amr bin ‘Ash r.a, arsitek bisa mencontoh Salman Al-Farisi r.a. Semua sahabat Nabi ini memiliki profesi yang hebat namun tidak menghalanginya untuk beribadah. Malah semua kekuatannya digunakan untuk membantu Allah SWT dan Rasul-Nya.

Seorang tergantung pada temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat. Berteman dengan orang saleh niscaya akan ketularan kesalehannya. Dan insya Allah, di Akhirat kelak antara satu teman dengan teman lainnya akan saling membela untuk masuk Surga.