Aneh di tengah kerumunan

Masyarakat Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Aneh di tengah kerumunan
Aneh di tengah kerumunan © Dynamoland | Dreamstime.com

Sahabatku berkata, “Aku melihat engkau sebagai orang yang aneh di kerumunan manusia.” Aku menjawab, “Tidak, justru mereka yang aneh. Aku sedang berada di duniaku. Dan inilah jalanku.”

Itulah ungkapan syair oleh Abdul Wahab Azzam, mengisyaratkan kekuatan jiwa membaja tak goyah walau diterpa syubhat keraguan banyaknya manusia. Keyakinan atas kelurusan jalan menuju Surga.

Sebagaimana jalan yang telah dilalui para nabi, para shalihin, shadiqin dan syuhada – menjadikan diri tetap istikamah dalam keyakinan di jalan kebenaran. Disebutkan oleh Syekh Abdussalam al-Mubarakfuri dalam tulisan beliau Siratul Imam al-Bukhari, yang salah satunya mengulas bahasan “Al-ibti’ad an Abwabil Umara was Salatahin”.

Di dalamnya tersebutlah kisah seorang amirul mu`minin fil hadis, yaitu Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Adalah Khalid bin Ahmad as-Sadusi adz-Dzuhli gubernur Bukhara saat itu.

Saat Imam Bukhari kembali ke Bukhara, mulailah para penuntut ilmu berdatangan menuntut ilmu kepada beliau. Gaung beliau semakin terkenal dan memenuhi angkasa.

Memelihara ilmu dari keterhinaan dunia

Mendengar itu, Khalid bin Ahmad as-Sadusi adz- Dzuhli memerintahkan utusannya untuk mendatangi Imam Bukhari guna meminta beliau mengajari dirinya berikut anak-anaknya di istana gubernur.

Alih-alih menerima bangga, Imam Bukhari menolak mentah-mentah. Menjawab tawaran utusan gubernur tersebut, Imam Bukhari berkata, “Saya tidak akan menghinakan ilmu, dan tidak akan membawanya ke pintu para penguasa.” Mendapati sikap tegas Imam Bukhari itu, Gubernur Bukhara menawarkan kesepakatan beda.

Jika enggan datang ke istana dan mengajari keluarganya, maka Imam Bukhari diminta menyediakan waktu khusus untuk kajian bagi keluarga istana. Dan kajian itu hanya boleh diikuti oleh keluarga istana. Begitulah tawaran Khalid bin Ahmad as-Sadusi adz-Dzuhli kepada Imam Bukhari.

Imam Bukhari kembali menolak. “Jika Anda tidak setuju dengan penawaranku ini, Andakan penguasa, silakan larang aku untuk mengadakan majelis ilmu, agar bisa menjadi uzur bagiku di hadapan Allah pada Hari Kiamat bahwa aku tidak menyembunyikan ilmu.”

Mendapat jawaban seperti itu, Gubernur Bukhara murka besar. Berikutnya, ia berusaha mengusir Imam Bukhari dari Bukhara. Tapi, keinginannya itu gagal terwujudkan. Apa pasal? Imam Bukhari sudah telanjur dicintai dan disukai oleh masyarakat Bukhara.

Sampai akhirnya sang gubernur memerintahkan kepada beberapa orang untuk membuat tuduhan- tuduhan yang membuat masyarakat marah terhadap Imam Bukhari. Bukan hanya sekali itu saja. Tatkala Gubernur Naisabur meminta Imam Bukhari membawa kitab hadis ke istana untuk dibacakan di hadapannya, beliau juga menolak tegas.

Beliau pun berkata, “Sesungguhnya aku tidak akan menghinakan ilmu, dan aku tidak akan membawanya ke pintu-pintu penguasa. Jika penguasa punya keperluan dengan ilmu, sepantasnya dia sendiri datang menjumpaiku.”

Itulah karakter kuat diri dari Imam Bukhari rahimahullah. Memelihara ilmu dan keulamaan dari keterhinaan dunia. Bukan gengsi atau usaha lobi apalagi jual mahal bertujuan agar melambung tinggi daya tawar, melainkan sikap i’tizaz nafsi sembari menjaga kehormatan diri.

Aneh di tengah kerumunan

Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya dalam bukunya ‘Mereka adalah Para Tabiin’ menuliskan sebuah kisah keserasian hati dengan kata, ucapan dengan perbuatan dari salah seorang tabiin. Suatu ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa bengis lagi kejam yang berkuasa di Iraq, membangun istana megah.

Ia mengundang para ulama untuk mendoakannya. Salah seorang ulama tabiin yang hadir menyampaikan isi hatinya dengan lantang, “Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam, dan kita dapati Firaun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah dibandingkan bangunan ini.

Namun, kemudian Allah SWT membinasakan Firaun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj tahu bahwa penghuni langit dan bumi telah membencinya!”

Sebuah perkataan ‘sangat aneh’ dirasa, telah dilontarkan di tengah kerumunan dan keramaian, walau kebenaran jua isinya. Tapi, perkataan itu lantang disampaikan di hadapan sang penguasa yang bengis.

Tak aneh bila Hajjaj langsung murka, “Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorang pun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian, wahai para pengecut!”

Siapakah ulama ‘aneh’ di tengah kerumunan keramaian itu? Dialah tabiin Imam Hasan al-Bashri. Berani berkata benar di antara kerumunan para ulama yang diundang oleh Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi.

Teringatlah kita kepada sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam Shahih Muslim:

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang asing.”

Terus berjalan membawa kebenaran hakiki

Konsisten dalam ketaatan dan kebenaran di tengah arus dunia yang berlawanan bukanlah pekerjaan mudah. Butuh suasana batin yang i’tizaz bil haq atau bangga dengan kebenaran.

Dianggap dan bahkan divonis ‘orang aneh’ sudah barang tentu didapat. Stempel bodoh, sok suci bahkan munafik akan terjun bebas menghunjam ke diri siapa saja yang berpegang pada kebenaran. Zaman ketika kebenaran berubah menjadi sesuatu yang dirasa aneh.

Keanehan itu ada kalanya berupa keanehan yang istimewa. Karena ia dianggap aneh oleh manusia tapi justru istimewa di sisi Allah ta’ala. Bagai ikan yang berada di lautan, walau ia menghabiskan hari-harinya di sana, namun tetap tak terkena imbas asinnya.

Syekh Musthafa Masyhur pernah menyampaikan nasihat berharga sebagaimana dituliskan oleh Dr. Musthafa as-Siba’i dalam bukunya Hakadza ‘Allamatnil Hayah:

“Jika Anda ragu beramal karena gentar menghadapi kritikan, pasti Anda tidak akan mampu bekerja selama-lamanya. Tapi, kerjakanlah apa yang Anda yakini kebenarannya, yang diridhai Allah dan terpuji di kalangan ulama yang ikhlas, meskipun Anda dibenci dan dimaki sepanjang hidupmu oleh para pendengki; di antara mereka pasti ada yang memuji menyenangi Anda setelah tiada.”

Yakinkanlah diri bahwa kebenaran akan tetap divonis aneh oleh para pendengki, pengusung slogan kebatilan. Tak memandang siapa pun dia dan apa pun status gelarnya. Maka, teruslah melangkah berjalan di tengah-tengah kerumunan keramaian manusia untuk membawa dan memikul kebenaran hakiki yang diyakini.

Teruslah ‘aneh’ di tengah kerumunan keramaian manusia zaman ini.