Antara iman dan sebenar tawakal

Iman Roni Haldi Alimi 07-Nov-2020
dreamstime_s_199095438
Antara iman dan sebenar tawakal © LakshmiPrasad lucky | Dreamstime.com

Terkadang ada manusia yang mengamalkan sesuatu tanpa tahu apalagi punya ilmu tentangnya. Salah satunya kerancuan memaknai tawakal dalam kenyataannya. Ada yang memaknai berserah pasrah tanpa gerak usaha. Mencukupkan gantungkan asa lewat lirik doa kepada Yang Maha Kuasa.

Bagaimanakah semestinya kita memaknai tawakal? Atau sudahkan kenyataan amal kita tergolong pada praktek tawakal sebenarnya?

Antara iman dan tawakal

Berpangku tangan duduk menekur tak berbuat apapun jua sering dikait disematkan dengan salah satu istilah terpuji dalam akhlak mulia; tawakal. Penjauhan substansi makna tawakal acapkali tampak tampil baik pada tataran tutur kata bahkan sampai pada tingkah laku.

Pada hadis ke-49 dalam kitab Jami’ al-‘ulum wa Al-Hukm, imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menguraikan hakikat tawakal sebenarnya. Hakikat tawakal itu ketika hati jujur berpegang bergantung semata kepada Allah SWT baik dalam senang maupun susah dunia dan akhirat. Bulatnya tawakal di hati pertanda iman dalam kondisi terbaik.

Begitu eratnya ikatan iman dengan tawakal, hingga Sa’id bin Jubair berkata: “Sungguh tawakal adalah puncak iman.” Hingga Rasulullah shalallahu alaihi wa salam pun dalam doanya bermohon agar diberikan sebenarnya tawakal kepada Allah SWT.

Punca tawakal adalah baik dan tingginya kualitas iman seseorang. Sebuah pertautan erat tak bisa dipisahkan. Seakan ketika disebut tawakal langsung tertuju pada kondisi iman. Bagai dua sisi mata uang. Bagaimana dengan aplikasi tawakal dalam keseharian?

Usaha dan puncak tawakal

Benarkah Islam perintahkan umat untuk hanya berdoa dan menutup doanya dengan pasrah memangku lutut menekurkan kepala? Apakah itu yang namanya tawakal? Atau sudah benarkah tawakal kita selama ini?

Rasulullah SAW pernah dijumpai oleh seorang sahabat yang sebelumnya tanpa terlebih dahulu menambat untanya. Lalu Rasulullah menanyakan tentang untanya, kemudian sahabat tersebut mengatakan, ‘Telah aku tawakalkan kepada Allah’. Mendengar jawabnya, Rasululah meluruskan dengan bersabda:

“Tambatlah terlebih dahulu untamu lalu bertawakkallah kepada Allah.”

(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Adanya tawakal tak lari dari usaha seseorang. Benar berdoa itu penting, bahkan otaknya amal. Namun hanya mengandalkan doa belaka, sungguh telah mencederai makna tawakal sebenarnya. Karena setelah hati bulat padu dengan ketinggian iman, gerak tubuh disebut, usaha dilakukan. Dan menggerakkan anggota tubuh berusaha memenuhi sebab musabab menggapai tujuan adalah ketaatan kepada Allah SWT.

Sahal Tastary pernah berkata: “Barangsiapa yang menghilangkan usaha, maka ia telah menghilangkan sunah. Barangsiapa yang menghilangkan tawakal, maka ia telah menghilangkan iman. Tawakal adalah kondisi Rasulullah SAW sedangkan berusaha adalah sunahnya. Barangsiapa yang mencontohi Rasulullah, maka jangan sekali-kali meninggalkan sunahnya.”

Sungguh sempurna Islam dengan apa yang dikandungnya. Menyeimbangkan bukan memberatkan sebahagia. Menimbang meletakkan sesuatu pada tempatnya. Hati dijaga dikawal oleh iman dan anggota tubuh digerakkan oleh usaha mengambil sebab mendatangkan hasil. Jauh dari apatis duduk bermenung berpangku tangan apalagi saling tunjuk menyalahkan. Hadapi setiap persoalan dengan sebenarnya tawakal.