Antara ketakutan dan bersiasat

dreamstime_s_165661359
Antara ketakutan dan bersiasat © Faiz Zaki | Dreamstime.com

Antara ketakutan dan bersiasat itu beda tipis. Yang pertama beban psikis, seolah ada bahaya besar sedang mengintai. Bayang-bayang masa lalu kadang dapat menyebabkan ketakutan. Dari takut untuk meneriakkan kebenaran, sampai kepada takut hanya sekedar bergabung bersama pembela kebenaran.

Menakut-nakuti adalah metode untuk membungkam atau memberhentikan gerakkan. Metode yang sangat tua, setua umur kehidupan itu sendiri. Dari cara halus sampai cara yang kasar.

Lihatlah Iblis menyambangi Adam a.s dan merayunya dengan kata-kata yang halus.

 “Syaitan berkata: Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

(Surah al-A’raf, ayat 20)

Tipu daya, kekerasan, dan dakwah secara psikis

Bahkan untuk menegaskan, Iblispun bersumpah, ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”. Kata-kata halus tidak mempan, mereka menggunakan cara kekerasan dengan melakukan ancaman.

Sepanjang sejarah, para aktivis selalu ditakuti-takuti dengan pembunuhan, penjara, pengusiran, diasingkan dan ditutup pintu pintu rizki.

 “Dan mereka berkata: Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.”

(Surah al-Qashash, ayat 57)

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”

(Surah al-Anfal, ayat 30)

Metode ini sangat efektif untuk membungkam dan menyandari, terutama bagi mereka yang memiliki masa lalu yang kurang bersih. Inilah sunatullah, sekaligus ujian dalam perjalanan.

Sebab itu Allah SWT menyiapkan para Nabi-Nya dari orang-orang bersih. Supaya ketika mereka menyampaikan dakwah secara psikis dan mental, tidak ada pembatas dan sekat yang menghalanginya.

Mereka dikenal di kaumnya sebagai orang yang jujur, dapat dipercaya, cerdas dan transparan. Inilah yang disebut sebagai beban psikis. Beban inilah yang dihilangkan dari para Nabi dan Rasul serta orang orang beriman.

Sehingga semakin kuat ancaman, semakin bertambah imannya dan semakin semangat untuk maju bertarung.

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.” Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:  “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

(Surah al-i Imran, ayat 173)

Bersiasat dan tetap bekerja dalam sunyi

Adapun bersiasat adalah diam tapi tetap bekerja dalam sunyi. Diam karena arus begitu besar, sehingga bila menghadang akan terbawa atau tenggelam. Diam menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Bukan karena takut mati, disiksa atau diusir. Sebab itu sudah terjadi.

Al-Quran menceritakan sekelompok Muslim di Mekkah yang diperlakukan tidak manusiawi oleh kaum kafir Qurais datang menghadap Rasulullah SAW agar diizinkan membelah diri dengan konfrontasi kekuatan.

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!”

(Surah an-Nisa, ayat 77)

Tapi Rasulullah SAW melarang, karena sendi sendinya belum kokoh dan dalam rangka mengatur strategi untuk menyerang setelah terkumpul kekuatan.

Dari sini, kita bisa memahami mengapa sebahagian tokoh-tokoh politik seakan bungkam dan lebih mencari posisi aman terhadap kasus penistaan al-Quran, kitab yang paling suci bagi umat Islam, misalnya. Sebab bicara atau diam semua ada konsekuensinya.