Antara puasa ular dan ulat – bagaimana puasa kita?

Filsafat 30 Apr 2021 Roni Haldi Alimi
Terbaru oleh Roni Haldi Alimi
Antara puasa ular dan ulat - bagaimana puasa kita?
Antara puasa ular dan ulat - bagaimana puasa kita? © Rahmat Nugroho | Dreamstime.com

Ramadan itu bulan taghyir. Bulan perubahan. Ramadan membawa yang berpuasa merubah arah hidup menuju arah baru yang tentunya lebih baik dari sebelumnya. Arah baru itu adalah taqwa. Tujuan itulah yang dihasilkan puasa Ramadan. Sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

 “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Rupanya, bukan hanya manusia saja yang berpuasa. Hewan juga berpuasa. Ulat berpuasa dari kepompong lalu berubah menjadi kupu-kupu. Dan ular pun berpuasa untuk menggati merubah kulitnya.

Puasa dua hewan

Rupanya, bukan hanya manusia saja yang berpuasa. Hewan juga berpuasa. Ulat berpuasa dari kepompong lalu berubah menjadi kupu-kupu. Dan ular pun berpuasa untuk mengganti merubah kulitnya.

Apakah ada persamaan ular dan ulat? Keduanya jalannya sama-sama merayap. Bukan cuma itu, ternyata ulat dan ular juga sama dalam fase hidupnya menjalani puasa untuk menyongsong arah perubahan. Namun, walau keduanya sama-sama berpuasa, tapi arah baru perubahan yang dihasilkan berbeda akhirnya.

Ular dan puasanya

Puasa ular hanya menghasilkan pergantian kulit. Ular tetap jadi ular dengan karakter yang sama dengan sebelumnya. Tetap berbisa dan berbahaya bagi lingkungannya. Berbeda dengan ulat. Setelah puasa dalam kepompong, ulat berubah wujud menjadi kupu kupu yang cantik. Tidak hanya secara fisik berubah juga karakternya.

Jika saat masih berwujud ulat, ia adalah musuh tumbuh-tumbuhan karena memakan daun dengan sangat rakus. Namun setelah berubah arah menjadi kupu-kupu, ia menjadi sahabat tumbuh-tumbuhan karena membantu penyerbukan.

Sebelum berpuasa namanya ular, setelah berpuasa namanya tetap ular. Sebelum berpuasa makanannya daging, setelah berpuasa tetap daging. Dan sebelum berpuasa bentuknya mengerikan, setelah berpuasa tetap saja menyeramkan lagi menakutkan.

Ular sebelum berpuasa sifatnya ganas, setelah berpuasa tetap juga sifatnya bahkan lebih ganas dari sebelumnya. Ia sebelum berpuasa berjalan dengan perut, setelah berpuasa masih saja berjalan dengan perutnya. Dan sebelum berpuasa mengganggu lingkungannya, setelah puasa masih juga mengganggu siapa saja.

Ulat dan puasanya

Namun berbeda jauh dengan ulat. Maka, sebelum berpuasa namanya ulat, setelah berpuasa namanya berubah menjadi kupu-kupu. Sebelum berpuasa makanannya daun, setelah berpuasa makanannya nektar bunga. Dan sebelum berpuasa bentuknya menjijikkan, setelah berpuasa bentuknya berubah menjadi indah menawan.

Sebelum berpuasa sifatnya rakus, setelah berpuasa makannya pilih-pilih lebih terjaga. Sebelum berpuasa berjalan dengan perut, setelah berpuasa berubah bisa terbang meninggi dari bumi. Dan sebelum berpuasa jadi musuh petani diintai dikejar dibenci, setelah berpuasa berubah menjadi pembantu petani dalam penyerbukan tanaman.

Sungguh dua perubahan arah yang jauh berbeda. Keduanya sama-sama berpuasa, tapi hasil yang dicapai justru berbeda.

Puasa Ramadan dan puasa dua hewan

Puasa Ramadan yang kita jalani ini bisa saja seperti ulat atau ular. Jika puasanya hanya sekadar ritual rutin belaka, saat lebaran hanya berubah rupa dan diri memakai baju baru tanpa ada perubahan perilaku baru yang lebih baik maka itu tipe puasa ular.

Hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, sebatas menggugurkan kewajiban semata. Dalam Sunan Ibnu Majah, jilid 1, Rasulullah SAW bersabda :

 “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Mengapa hanya lapar dan dahaga yang didapat? Puasa ternyata bukan hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga harus menahan lisan dari berkata-kata yanga tidak baik, berkata kotor, menggunjing, menggibah, membenci dan mengadu domba.

Puasalah tipe ulat, berubah jadi lebih baik

Jika itu mampu dilakukan, puasa akan menghasilkan perubahan pemahaman dan sikap baru pada orang yang menunaikannya. Setelah puasa usai, diharapkan miliki pemahaman dan karakter baik yang sudah menjadi kebiasaan baru. Berpindah dari arah lama menuju arah baru berujung perubahan. Maka itulah puasa tipe ulat karena berubah menjadi lebih baik.

Pada bulan Ramadan, puasa diperintahkan. Perintah puasa itu hanya berlaku bagi orang yang beriman agar berubah arah menjadi orang yang bertakwa. Perubahan inilah yang perlu kita cermati.

Perubahan yang menuju hal yang lebih baik atau mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya seperti puasanya ulat yang berubah menjadi kupu-kupu yang indah bermanfaat dan memberi rahmat bagi seluruh alam.