Apa saja makanan favorit Rasulullah SAW?

dreamstime_s_110911062
Makanan favorit Rasulullah SAW © Beats1 | Dreamstime.com

Umat Islam berpegang teguh kepada pedoman yang dibawa Nabi Muhammad SAW yaitu al-Quran dan sunahnya. Hal ini juga mengatur soal makan yang baik, sehat dan sesuai ajaran Baginda. Namun, apa saja makanan favorit Rasulullah SAW?

Menikmati jamuan makan yang sudah serba instan di era canggih saat ini tentunya tidak menyulutkan kita sebagai umat Islam untuk tetap mengonsumsi makanan sesuai sunah Nabi Muhammad SAW.

Banyak sekali makanan yang kita temui sehari-hari. Namun, penulis mengajak untuk tetap melihat apa saja makanan favorit Rasulullah SAW yang bisa kita makan berikut ini.

Daging (Dzir’an)

Dikutip dari buku Mutiara Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali, bahwa makanan yang disukai Rasulullah SAW adalah daging. “Daging dapat menambah pendengaran, dan itu makanan utama di dunia dan akherat.”

Demikian pula bahwa daging juga kaya akan proteinnyang bisa menguatkan tubuh. Namun, Nabi Muhammad SAW tidak berlebihan ketika memakan sesuatu sekalipun ia menyukai makanan tersebut.

Pada hadis lain riwayat Bukhari dari kitab Qadhi Iyadh, Rasulullah SAW menyukai daging kambing bagian kaki dan paha. Karena bagian itu aromanya yang khas, rasanya yang manis dan jauh dari tempat berbahaya. Namun, hadis lain menerangkan yang dimaksud daging kesukaan Rasulullah ini disebut bagian dzir’an.

Talbinah

Apa itu talbinah? Yakni sejenis sup yang terdiri dari lemak, gandum, madu dan sayur hijau. Merujuk pada buku sehat ala Nabi: 365 Tips Sehat Sesuai ajaran Rasulullah (Muhammad Ali Toha, 2015), talbinah baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengembalikan keseimbangan tubuh yang terganggu, dan memberikan kekuatan karena mengandung energi yang tinggi.

Nabi Muhammad SAW menyukai roti dan sup dengan bahan dasar gandum. Hal ini menjadi makanan pokok pada masa itu, roti makanan Rasulullah.

Madu dan air putih

Baginda Nabi Muhammad SAW minum air putih dicampur dengan madu asli. Hidup sehat ala Rasulullah dengan mengonsumsi air putih yang cukup setiap hari. Sementara madu kaya akan manfaat bagi tubuh, juga baik untuk pencernaan.

Dalam al-Quran disebutkan bahwa madu adalah obat.

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang yang memikirkan.”

(Surah an-Nahl : 68-69)

Kita bisa mengonsumsi madu dengan mudah karena keberadaan madu yang ada di hutan juga diternak mudah kita dapatkan.

Kurma

Kurma bukan hal yang rahasia lagi. Makanan ini juga disukai Nabi Muhammad SAW, apalagi ketika bulan puasa. Baginda biasa mengonsumsi kurma dengan jumlah yang ganjil. Banyak sekali hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah menyukai kurma.

Bahkan, Baginda mengatakan bahwa kurma adalah makanan utama sebagaimana hadis berikut ini:

“Rumah yang di dalamnya tidak ada kurma, penghuninya adalah orang-orang lapar.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Buah kurma memiliki manfaat untuk menguatkan tubuh terlebih kepada ibu yang sedang hamil agar anak memiliki sifat kurah hati. Hal ini juga menjadi makanan yang dikonsumsi Maryam a.s sebelum melahirkan Nabi Isa a.s.

Cuka dan minyak Zaitun

Cuka merupakan bumbu yang biasa digunakan di dapur. Namun, pada masa nabi Muhammad SAW sudah ada jenis cuka yang dijadikan lauk bagi Rasulullah. Dalam hadis telah menceritakan bahwa Abdullah bin Abdurrahman ad Darimi, telah mengabarkan kepada Yahya bin Hasan, telah mengabarkan kepada Sulaiman bin Bilal, dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya, dari Aisyah r.a bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka.”

(HR Muslim, no. 3832)

Minyak Zaitun merupakan makanan istimewa yang tidak tumbuh disembarang tempat. Bahkan, disebutkan pula dalam al-Quran. Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengonsumsi minyak zaitun sebagaimana dalam hadis:

“Jadikanlah minyak Zaitun sebagai idam (makanan pendamping) dan minyakilah rambut dengan Zaitun, karena ia dari pohon yang berkah.”

(HR Ibnu Majah no. 2698, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)