Ayuh sinergikan ucapan dengan amal

Masyarakat 06 Mar 2021 Tholhah Nuhin
Tholhah Nuhin
Ayuh sinergikan ucapan dengan amal
Ayuh sinergikan ucapan dengan amal © Yermia Riezky Santiago | Dreamstime.co

Berbicara, bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang mengasyikkan. Bahkan bisa menjadi sebuah hobi tersendiri. Padahal orang yang diam, belum tentu tidak mengetahui permasalahan yang dibicarakan.

Malah bisa jadi orang yang diam sesungguhnya lebih memahami persoalan yang diperbincangkan tersebut.

Berkata baik atau hendaklah ia diam

Jika kita perhatikan kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, maka kita lihat betapa banyak orang mengobral pembicaraan. Mulai para tokoh dan pakar, pejabat hingga rakyat kecil.

Para pakar sangat pandai berkomentar mengenai suatu peristiwa. Namun, sedikit sekali memberikan solusi atas persoalan tersebut. Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

(Muttafaq ‘alaih, Al-Bukhari, 6018; Muslim, 47)

Mereka sering berkomentar dan berdebat di televisi, namun kenyataannya tidak ada aksi yang diperbuatnya. Para pakar dan ahli sering diminta gagasan dan ide-ide terhadap suatu permasalahan masyarakat.

Bahkan, mereka sering berdebat dan berbantah-bantahan mengadu argumen masing-masing untuk memberikan komentar dan pendapat mereka. Namun, hanya sedikit dari komentar mereka dibuktikan dengan perbuatan.

Para pejabat juga demikian, mereka banyak mengobral berbagai macam janji kepada rakyat, mulai perbaikan sarana dan prasarana, pendidikan gratis, jaminan kesehatan, peningkatan pelayanan publik, kesempatan kerja yang lebih banyak, peningkatan pendapatan dan sebagainya.

Namun ternyata janji-janji itu sangat sedikit yang direalisasikan. Para pejabat nampaknya lebih senang untuk banyak bicara daripada banyak berbuat. Demikian pula masyarakat lapis bawah, mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya.

Ayuh, sinergikan ucapan dengan amal

Di warung-warung, di pangkalan ojek, dan dimana saja, tempat mereka nongkrong sering kita jumpai mereka sedang berdebat tentang berbagai macam tema. Mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga masalah-masalah politik serta ngrasani yaitu membicarakan kejelekan orang lain.

Padahal mereka adalah orang awam yang tidak ada keterkaiatnnya dengan persoalanpersoalan yang mereka debatkan. Sering kali kita mendengar mereka berdebat sengit tentang politik, padahal pembicaraan mereka hanyalah debat kusir belaka.

Sistem demokrasi, di mana kebebasan untuk berpendapat dilindungi oleh undang-undang dijadikan alasan untuk mengobral ucapan dan berdebat mengadu argumen bagi para ahli dan pakar. Atau mengobral janji-janji bagi para pejabat atau pun mengobral komentar dan debat kusir bagi masyarakat awam.

Sehingga mereka kelihatannya lebih senang dan merasa akan dianggap hebat kalau komentarnya lebih banyak atau merasa hebat jika dia menang dalam berdebat. Akibatnya adalah para ahli tersebut kurang disegani oleh rakyat, para pejabat tidak memiliki kewibawaan dan masyarakat awam tidak punya harga diri. Karena mereka semua terlalu banyak bicara dari pada berbuat yang konkret.

Bisa jadi, permasalahan-permasalahan yang menimpa bangsa kita tercinta ini seperti maraknya KKN, suap-menyuap, penipuan, dan meningkatnya kemiskinan, kebodohan, kemunafikan, serta kemusyrikan.

Ia disebabkan karena banyak pemimpin bangsa ini hanya sekadar mengumbar janji tanpa dibarengi dengan perbuatan nyata. Atau karena banyak para ahli dan pakar hanya bisa mengobral ide dan gagasan namun tidak membuktikannya dengan perbuatan.

Ataupun masyarakat awam yang bergaya seperti para pakar dan ahli, sehingga mereka senang ngrasani. Dan juga memang kebiasaan masyarakat suka nongkrong dan berdebat padahal bukan urusan mereka.