Bagaimana meluruskan tujuan?

Pendidikan Komiruddin
Opini oleh Komiruddin
Bagaimana meluruskan tujuan?
Bagaimana meluruskan tujuan? © Airdone | Dreamstime.com

Ada ungkapan menarik:

Jika kita belum merumuskan ‘apa yang harus kita raih’, maka kita akan kesulitan untuk memutuskan ‘apa yang harus kita lakukan’.

Untuk menggapai kesuksesan, ada banyak buku, seminar, maupun komunitas yang membahas serta mendiskusikan tentang cara dan tahapan-tahapan yang kita harus lakukan. Dari mulai membuat target penambahan kapasitas, menambah jaringan serta merancang jadwal untuk uji coba di lapangan.

Bagaimana meluruskan tujuan?

Penambahan kapasitas biasanya diperoleh dengan sarana membaca banyak buku. Ini termasuk rutin mengikuti seminar dan pelatihan serta sharing dengan para praktisi yang telah berhasil di bidang yang sedang kita geluti.

Cara paling ampuh untuk menambah jaringan, adalah dengan cara rajin bersilaturahmi. Bahkan supaya optimal daftar orang-orang yang akan kita sambangi tersebut, harus didata dan disusun jadwal pertemuannya.

Merancang jadwal ujicoba lapangan perlu kita lakukan dalam rangka untuk menentukan skala prioritas. Tentunya ia akan memperbanyak serta mengatur ritme jam terbang.

Bagi yang ingin sukses dalam bisnis, ia akan dihadapkan dengan peluang dan tantangan. Dari mulai membuat target omset dan laba, menentukan model manajeman yang akan diterapkan, sampai pada perbaikan etos kerja dan strategi untuk mewujudkan apa yang sudah ditargetkannya.

Yang bercita-cita menjadi penulis, public speaking, pejabat publik maupun birokrat, ia harus mulai meningkatkan kapasitas. Belajar lebih detail dalam membaca realitas. Memecahkan persoalan dengan memperbanyak pengalaman di lapangan serta tentunya memperluas koneksi dengan sarana anjang sana anjang sini.

Lalu yang jadi pertanyaan. Salahkan jika sesorang itu memiliki banyak cita-cita dan impian?. Tentu tidak ada yang salah dengan segala tujuan dan harapan kita, semua lumrah dan sah-sah saja.

Yang jadi masalah adalah, ketika segala tujuan yang kita canangkan, harapan yang kita impikan, upaya yang kita kerjakan serta nantinya hasil yang kita akan dapatkan, itu semua tidak terkoneksi dengan fitrah dan keridaan Allah SWT.

Maka segala kapasitas yang kita miliki, harta yang kita peroleh, jaringan yang kita punya, akan habis dan hilang. Lepas dari kepemilikan, saat kematian menyapa kita.

Howard Gardner, seorang pakar pendidikan Barat, memperkenalkan jenis kecerdasan yang ia sebut dengan ‘Kecerdasan Eksistensialisme’, yaitu kecerdasan dalam menyiapkan kehidupan setelah kematian. Meskipun Gardner bukan seorang Muslim, akan tetapi gagasannya tersebut paralel dengan konsep ‘Kecerdasan Ukhrawi’ dalam literatur Islam.

Ikhtiar menambah ilmu, meningkat kapasitas diri

Mari mulai hari ini kita niatkan. Bahwa setiap buku yang kita baca, seminar yang kita ikuti adalah ikhtiar untuk menambah ilmu, meningkatkan kapasitas serta sarana memantaskan diri.

Setelah semua kita dapatkan, langkah selanjutnya adalah menyampaikan dan menyebarluaskan ilmu yang kita punya. Tujuannya agar nilai keberkahan serta pahalanya terus mengalir meskipun kita telah tiada.

Setiap laba yang kita peroleh dalam bisnis, mari kita lipat gandakan nilainya dengan cara dibelanjakan di jalan kebaikan. Sehingga semangat kita menambah pundi-pundi kekayaan adalah upaya kita untuk memperluas kebermanfaatan.

Kepiawaian menjadi penulis, pembicara, pejabat publik, pemimpin organisasi, dan lain sebagainya, mari kita dedikasikan sebagai salah satu amal jariyah terbaik kita. Hadirnya kita di tengah tengah mereka harus berdampak pada semakin banyaknya orang yang tercerahkan, tersejahterahkan serta terjamin keadilan dan keamanannya.

Semoga Allah SWT membimbing kita semua untuk menjadi manusia yang mampu meluruskan tujuan hidup. Menjadi lebih bermanfaat, serta menakdirkan kita menjadi salah satu hamba yang Husnul Khotimah.

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”

(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari Umar bin Khaththab r.a)