Bagaimana mengekalkan keharmonisan rumah tangga?

Pernikahan Komiruddin
Pilihan oleh Komiruddin
Bagaimana mengekalkan keharmonisan rumah tangga?
Bagaimana mengekalkan keharmonisan rumah tangga? © Odua | Dreamstime.com

Ketika kita menikah, maka harapannya adalah kita akan hidup bersama pasangan kita dalam masa yang lama. Rutinitas kegiatan kadang membuat jenuh baik suami ataupun istri.

Karenanya dibutuhkan variasi dan kreasi agar kejenuhan itu dapat diatasi atau dikurangi.

Bagaimana mengekalkan keharmonisan rumah tangga?

Di antara cara mempertahankan keharmonisan rumah tangga adalah cerita tentang kenangan-kenangan indah masa lalu. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari Fatimah Az-Zahra r.a berkata kepada Sayidina Ali r.a setelah keduanya menikah.

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya.”

Sayidina Ali r.a pun bertanya, “siapa pemuda itu?. Mengapa ia tak mau menikah dengannya? Dan apakah ia menyesal menikah dengan dirinya?” Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.

Kita perlu menyebutkan sesuatu yang dapat membuat hati pasangan kita berbunga-bunga. Menyebutkan kebaikan-kebaikannya baik langsung secara verbal atau lewat susunan kata dalam bentuk untaian syair atau puisi.

Apa yang dilakukan Fatimah r.a terhadap Sayidina Ali r.a ternyata dapat mengekalkan cinta Ali kepada Putri Rasulullah SAW tersebut. Dan selama Fatimah hidup, Ali  tak pernah menduakannya.

Menguji kesungguhan ikatan pernikahan

Ketika Sayidina Usman r.a menikahi Nailah binti al-Qurafashah seorang wanita berparas cantik dan masih sangat muda. Di malam pertama, Usman membisikan kata-kata yang sangat menenteramkan Nailah.

Ketika Nailah melihat seluruh kepala Sayidina Usman r.a telah memutih ditumbuhi uban, Usman mengatakan saat pertama kali menyambut Nailah, “apakah engkau  kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang engkau akan dapati  di sini. Apakah engkau tak keberatan menikah dengan seorang pria yang tua bangka?”

“Aku termasuk perempuan yang lebih suka memiliki suami yang lebih tua,” ujar Nailah sambil tertunduk. Rasa malu menggelayuti jiwanya.

“Namun, usiaku telah jauh melampui ketuaanku,” kata Sayidina Usman r.a kembali. Ia seakan menguji kesungguhan dari keputusan gadis cantik yang mau dinikahinya itu dan  menelisik kesungguhannya dalam mengambil  keputusan untuk mencintai lelaki tua seperti dirinya.

“Tapi masa mudamu telah engkau habiskan bersama Rasulullah,” jawab Nailah sambil tersenyum, “dan itu jauh aku lebih sukai dari segalanya.”

Pecinta sejati yang setia, memberi yang terbaik

Selanjutnya, Sayidina Usman r.a dan Nailah hanya memberikan bukti atas keputusan mereka bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci itu. Usman mencintai Nailah dan Nailah pun mencintai Usman.

Keduanya merupakan para pecinta sejati yang senantiasa melaksanakan konsekuensi cinta untuk orang yang dicintainya. Maka, keduanya saling memperhatikan, saling memberi, saling merawat, saling menumbuhkan dan saling melindungi.

Dalam perjalanan hidupnya, Nailah benar-benar menemukan apa yang diucapkan Sayidina Usman r.a. Sehingga setelah Usman meninggal, Nailah tak bersedia dinikahi siapapun sebagai tanda kesetiannya kepada Usman walau sesungguhnya banyak bangsawan yang melamarnya,

Begitulah hendaknya setiap pasangan hidup berusaha untuk dapat memberi yang terbaik terhadap pasangannya. Berusaha menciptakan ketenangan, ketenteraman dan kenyaman.

Salah satunya bercerita tentang kenangan masalalu yang menggugah kesetian dan pengorbanan. Dengan demikian kebahagian tetap akan diraih.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.