Bagaimana mewujudkan anak saleh?

Keluarga Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Bagaimana mewujudkan anak saleh?
Bagaimana mewujudkan anak saleh? © Narongrit Sritana | Dreamstime.com

Sebuah masyarakat tidak akan bisa menjadi bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun keluarga-keluarga kecil yang ada di dalamnya. Dan jika kita berbicara tentang keluarga, maka itu artinya kita juga akan berbicara tentang salah satu unsur terpenting keluarga yang bernama: Anak.

Dalam kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sang anak itu ‘diperankan’ oleh sosok Nabi Isma’il ‘alaihissalam.

Bagaimana mewujudkan anak saleh 

Harus kita akui dengan jujur bahwa salah satu penyebab utama terjadinya ini semua adalah orangtua itu sendiri. Tidak sedikit orangtua yang terjebak dalam dua sikap ekstrem yang saling bertolak belakang: sikap yang memanjakan terlalu berlebihan dan sikap pengabaian yang menelantarkan anak-anak.

Ada orangtua yang menganggap bahwa kasih sayang kepada anak harus ditunjukkan dengan pemberian dan pemenuhan segala keinginannya. Bahkan ada juga orangtua yang memanjakan anak dengan segala fasilitas untuk mengangkat gengsinya sendiri sebagai orangtua!

Pada sisi yang lain, tidak sedikit orangtua yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Atau menunjukkan kepedulian dengan melakukan kekerasan demi kekerasan kepada anak.

Karena itu, di hari yang penuh berkah ini, marilah kita berhenti sejenak, membuka hati untuk sejenak belajar dari ayahanda para nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Belajar tentang betapa pentingnya nilai keluarga kita, tentang betapa pentingnya nilai seorang anak bagi orangtuanya di dunia dan akhirat.

Dua pelajaran dari keluarga Nabi Ibrahim a.s

Pelajaran pertama dari kisah Ibrahim ‘alaihissalam adalah bahwa untuk mendapatkan anak yang saleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi orang yang saleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan untuk keluarga, bukan sekedar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak.

Pertanyaannya sekarang untuk kita semua adalah: siapakah di antara kita yang sejak awal menjadi orangtua sudah berusaha untuk belajar dan berusaha menjadi orangtua yang saleh? Apakah kesibukan kita mensalehkan pribadi kita sudah menyamai kesibukan kita mengurus rezki dan urusan dunia lainnya?

Pelajaran kedua dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah jika ingin memiliki anak yang saleh, maka bersungguh-sungguhlah meminta dan mencita-citakannya dari Allah Azza wa Jalla. Allah mengabadikan doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tentang itu di dalam al-Quran:

“Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.”

(Quran surah as-Shaffat, ayat 100)

Mungkin banyak di antara kita yang sekedar ‘mau’ memiliki anak yang saleh. Tapi siapa di antara kita yang sungguh-sungguh berdoa memintanya kepada Allah Taala dengan kelopak mata yang berderai air mata? Siapa di antara kita yang secara konsisten menyelipkan doa-doa terbaiknya untuk keluarga dan anak-anaknya?

Kesalehan anak adalah wujud kesalehan orangtuanya

Prof. Dr. Abdul Karim Bakkar, seorang pakar pembinaan anak dan keluarga menegaskan: “Tarbiyah dan pembinaan keluarga yang kita capai itu adalah gambaran tentang bagaimana pembinaan pribadi kita sendiri!”

Jika kita memang sungguh-sungguh bercita-cita mendapatkan anak saleh, maka kita harus berpikir, berusaha sungguh-sungguh pula mencari jalannya ditambah dengan doa.

Sama bahkan lebih dari saat kita bercita-cita ingin mempunyai penghasilan yang besar, rumah tinggal impian dan kendaraan idaman kita. Berikut ini beberapa hal yang sungguh-sungguh harus kita jalankan untuk mewujudkan impian ‘anak saleh’.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.