Bahasa muslihat kebohongan

Sejarah Roni Haldi Alimi
Opini oleh Roni Haldi Alimi
Bahasa muslihat kebohongan
Bahasa muslihat kebohongan © Dmitriy Feldman | Dreamstime.com

Bahasa itu penting. Dengan bahasa manusia berinteraksi dengan sesama, jalinan kerjasama dimulai dari kesepahaman dan kesepakatan bahasa. Bahasa itu wasilah komunikasi.

Dalam cerita artikel ini, bahasa persuasif dijadikan senjata ampuh menusuk titik nadir pertahanan hati dan pikiran sang ayah, Nabi Ya’qub a.s.

Bahasa muslihat kebohongan

Penggalan pertama dialog muslihat dipertontonkan lewat bahasa muslihat. Sejatinya kelenturan dan ketajaman daya pikir merupakan anugerah terbesar dari Allah SWT. Sayangnya, digunakan untuk merangkai mufakat jahat demi memuaskan nafsu menguasai rumah dan cinta kasih pemilik rumah.

“Mereka berkata: Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya?”

(Surah Yusuf, 12 ayat 11)

Ungkapan kalimat memojokkan diawali dengan bahasa penghormatan antara anak dan ayahnya, penuh etik tapi ujung-ujungnya berisi muslihat kebohongan. “Tidaklah mungkin, kami saudara-saudaranya menginginkan keburukan untuk adik kami sendiri.

Yang kami inginkan selama ini adalah kebaikan semata untuk Yusuf. Wahai Ayah, apalagi yang mendatangkan keraguan hati terhadap kami? Tidakkah itu semua cukup menjadi bukti kesungguhan diri kami?”

Penggalan dialog muslihat kembali dilanjutkan. Bahkan, dengan disertai deraian air mata dusta oleh sepuluh saudara Nabi Yusuf a.s.  Kepergian terberat dalam hidup Nabi Ya’qub a.s tiada daya untuk ditolak. Hati beningnya seakan telah membaca arah kelanjutan episode nestapa menimpa anak tercinta yang dibenci saudara-saudaranya sendiri.

“Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis.”

(Surah Yusuf, 12 ayat 16)

Pergi pagi pulang petang. Pergi membawa jasad utuh adik seayah lagi serumah, pulang hanya menenteng ringan baju kebohongan. Tangisan dusta pecah di hadapan sang ayah, usaha pelarian menutup rapat kemalangan Yusuf a.s.

“Mereka berkata: Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu ia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami berkata benar.” Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu.”

(Surah Yusuf, 12 ayat 17-18)

Gantungkan harapan semata-mata kepada Allah SWT

Usai tangis dusta dilakoni, alasan jitu pun keluar. Kesalahan ditumpang pada binatang buas serigala lalu diyakini belum cukup kuat maka ditindih lagi ke atas kebimbangan sang ayah.

Lagi, kalimat memojokkan kali kedua disematkan pada sang ayah. “Apapun alasan yang kami sampaikan tetap tak menambah keyakinan Ayah terhadap kami, walaupun kami benar,” ujar sepuluh bersaudara seayah lagi serumah seraya menyerahkan baju Yusuf dilumuri darah muslihat.

Ayah tetap ayah, apalagi Ya’qub a.s juga seorang nabi. Rasa kebapakan yang dimiliki – ditambah lagi kenabiannya – tentu sangat memahami ‘penyakit’ apa yang menimpa anak-anaknya.

Sangat mengerti gejala buruk yang sedang berlangsung di dalam rumahnya. Jawaban menohok sang ayah memukul telak semua bukti palsu apalagi ujaran bohong sepuluh anaknya. Yang bisa diperbuat Nabi Ya’qub a.s berikutnya bertawakal pada Rabb-nya.

“Ia (Ya’qub) berkata, “Sebenarnya hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku).Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.”

(Surah Yusuf, 12 ayat 18)

Janganlah kita pernah berharap yakin, apalagi menggantung harapan pada makhluk Sebab, yakinlah, kecewa pasti yang didapat. Tak perlu terpukau dengan susunan bahasa muslihat berwujud dialog memojokkan.

Betapa banyak persaudaraan, persekutuan, permufakatan yang diporakporandakan dalam durasi waktu sekejap lewat bahasa muslihat. Belajarlah dari kisah Nabi Ya’qub a.s ini. Maka, gantungkan harapan kita semata-mata kepada Allah SWT.