Balasan baik buruk – janji Allah Taala

Pendidikan Roni Haldi Alimi
Opini
Balasan baik buruk - janji Allah Taala
Balasan baik buruk - janji Allah Taala © Sonyasgar | Dreamstime.com

Semua yang berlaku tak luput sedikit pun dari penulisan. Dibatinkan saja tak alpa dikira, apatah lagi dilafalkan atau dilahirkan dalam wujud amal perbuatan. Pantauan serta pencatatan Mahakuasa takkan pernah sama dengan makhluk-Nya.

Terbukti pasti saatnya nanti; tak terkira apalagi terasa.

Balasan baik buruk – janji Allah Taala

Janji Allah Taala kepada Nabi Yusuf a.s, yang sendiri teraniaya dilubang duka yang gelap tiada siapa, membangkitkan semangat Baginda. Semangat untuk bangkit dari keterpurukan jiwa.

Ingatan saudara seayah lagi serumah Yusuf a.s ternyata ditelan masa. Hasad berujung penyingkiran saudara sendiri dianggap selesai dikala itu, ternyata kelak menuai balasan saat lupa tak sadari diri.

“Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”

(Quran surah Yusuf, 12:15)

Kadang kita temukan orang-orang yang berbuat buruk atau dosa secara terang-terangan.Akan tetapi, alih-alih gundah dan gelisah, pelaku dosa itu terlihat nyaman dan aman, terutama dengan berbagai kepemilikan dan pencapaian duniawinya.

Apakah yang tampak lahir itu menunjukkan kondisi sebenarnya? Bagaimana dengan kondisi hati mereka? Apakah ada ketenangan di hati mereka? Pasti tidak ada, bukan? Mereka membuat dosa, bukan mengingat Allah SWT atau berzikir.

Padahal, dengan berzikir kepada Allah Taala maka hati pun tenteram. Apa guna meraih bahkan menggenggam kepuasan duniawi kalau hati gelisah resah, perasaan tertekan kecemasan tak menentu, jiwa terusik oleh anyir busuk dosa?

Nyatalah jiwa dan diri tak merdeka karena kejaran dosa. Yang tak sadari kekuasaan yang Mahateliti lagi Mahakuasa biasanya tak pergunakan pendengaran telinga dan penglihatan mata. Kelengahan itulah pemicu mereka, para pendosa, nyaman aman dalam lingkaran hitam.

Baik yang kita lakukan, baik pasti kita dapatkan

Luqman al-Hakim pernah berpesan kepada anaknya bahwa tiada apapun jua mampu disembunyikan dari pengetahuan-Nya. Balasan Allah Taala itu pasti berlaku, bukan berlalu.

“(Luqman berkata): Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.”

(Quran surah Luqman, 31:16)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya berkata:

“Ini adalah wasiat yang amat berharga yang Allah ceritakan tentang Luqman al-Hakim supaya setiap orang bisa mencontohnya.… Kezaliman dan dosa apa pun, walau seberat biji sawi, pasti Allah akan datangkan balasannya pada hari kiamat ketika setiap amalan ditimbang. Jika amalan tersebut baik, maka balasan yang diperoleh pun baik. Jika jelek, maka balasan yang diperoleh pun jelek.”

Asy-Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qadir menerangkan:

“Meskipun kejelekan dan kebaikan sebesar biji (artinya: amat kecil), ditambah lagi dengan keterangan berikutnya yang menunjukkan sangat samarnya biji tersebut, baik biji tersebut berada di dalam batu yang jelas sangat tersembunyi ataupun sulit dijangkau, ataukah di salah satu bagian langit atau bumi, maka pasti Allah akan menghadirkannya (artinya: membalasnya).”

Keyakinan akan adanya balasan, inilah kunci kesuksesan dunia dan akhirat. Tanamkan dalam hati dan diri bahwa baik yang kita lakukan maka baik pulalah yang pasti kita dapatkan. Buruk yang kita kerjakan maka buruk pulalah yang kita rasakan. Baik atau buruk karena kita bukan ulah polah orang lain.