Bangga diri: jangan hidup seperti asap

Islam Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Bangga diri: jangan hidup seperti asap
Bangga diri: jangan hidup seperti asap © Airdone | Dreamstime.com

‘Bangga diri: jangan hidup seperti asap’ – dalam perjalanan hidup, kadangkala kita temui kondisi yang berubah-ubah. Perubahan yang disebabkan ada rasa berbangga diri dan hati. Bangga itu ada dan hadir tatkala seseorang telah ada rasa pada diri.

Rasa yang melebihi melewati batas normal kewajaran, yang kata dirinya mesti didengar dipatuhi. Merasa ide dan pemikirannya selalu benar dan perlu dihargai, kehadiran dan keberadaanya sangat penting dan diinginkan. Juga merasa apa yang dimiliki melekat pada dirinya mampu menarik kemudian mengatur sesuai keinginan seleranya.

Berbangga berlebih adalah wujud penyakit diri

Perasaan bangga berlebihan itu ternyata mampu ampuh mendatangkan sebuah penyakit ganas lagi berbahaya pada seseorang. Jika rasa bangga berlebihan itu dianggap biasa saja.

Yakinlah pada saat itu sedang terperosok jatuh jauh lagi dalam jurang yang bernama kesombongan. Menghargai orang lain sudah dirasa tak penting. Menyapa orang lain dianggap buang waktu, sudah dianggap tak perlu lagi tak penting.

Petiklah pelajaran berharga dari perjalanan hidup Firaun yang hidup sebelum kita. Tatkala Bani Israil dibuat takluk oleh bujuk rayu Firaun sang penguasa, ajakan Nabi Musa a.s pun dianggap tak ada apa-apa.

Namun, mereka terperdaya dengan kilauan emas dan perak. Lupa Nabi mereka Musa a.s yang selalu menyeru hak mereka untuk lepas dari belenggu sebagai budak Firaun. Mereka dengan mudahnya tergiur janji Firaun yang akan memenuhi segala kebutuhan hidup mereka, meski janji itu kebohongan belaka.

Kisah tentang azab bagi rakyat Firaun ini jelas dikisahkan oleh Allah SWT dalam al-Quran, surah al-Araf, ayat 130 -136.

“Dan sungguh, Kami telah menghukum Firaun dan kaumnya dengan (mendatangkan musim kemarau) bertahun-tahun dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mengambil pelajaran.”

“Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Bangga diri – jangan hidup seperti asap

Janganlah ketika hidup seperti asap, selalu ingin naik membumbung tinggi ke angkasa. Sebentar membumbung tinggi terus sebentar saja akan hilang dari pandangan, tiada bekas yang ditinggal kelihatan kecuali bau busuk tak sedap yang tercium diakhirnya.

Begitulah tamsilan bagi seseorang yang sangat bernafsu menjadi orang yang tinggi jabatan dan kedudukan. Ketika nafsu ingin berkuasa memiliki jabatan dan kedudukan tinggi, disaat itu dirinya sedang seperti membumbung tinggi ke angkasa.

Laksana asap yang merangkak naik tinggi dari bumi ke angkasa dalam sekejap mata akan sirna hilang seketika di tiup di bawa pergi oleh angin lalu. Jangan pernah sekalipun tingginya posisi dan kedudukan dijadikan kebanggaan diri dan hati yang berlebihan.

Karena keduanya itu tidaklah abadi sama seperti kita. Kebesaran dan kebanggaan akan hilang berlalu pergi tak kembali seperti asap ditiup angin meninggalkan bumi, tak berbekas kecuali bau yang dikenang kemudian hari.

Jika bau dari asap itu aromanya wangi, pujian dan penghargaanlah yang pasti didapati. Namun, jika bau dari asap berupa busuk menyengat, maka caci maki dan kenangan buruk yang pasti didapati. Jadilah orang yang rendah hati, seperti orang berjalan di tanah datar terhampar.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.