Bapak cerita pendek Arab – Yusuf Idris

Dunia Muhammad Walidin 27-Agu-2020
Yusuf Idris © By CC BY-SA 3.0, Link

Yusuf Idris dikenal secara luas sebagai father of Arabic Short Story. Ia sering  juga disebut sebagai  a Renovator  and Genius of Short Story. Ia merupakan sastrawan seangkatan dengan Najib Mahfuz dan Taufiq al-Hakim. Beberaepa kali ia pernah dinominasikan sebagai penerima hadiah novel tetapi tidak menang. Ia merasa tidak dimenangkan karena terlalu vokal terhadap Israel. Walaupun gagal menerima novel, ia memperoleh penghargaan dari pemerintah di bidang sastra pada tahun 1991.

Yusuf dilahirkan pada 19 Mei 1927 di sebuah desa yang terletak di Provinsi Garbea dari sebuah keluarga sederhana. Ia menumpuh studi pada beberapa sekolah negeri. Setelah menyelesaikan sekolah menengah, ia melanjutkan pada fakultas kedokteran Universitas Kairo hingga lulus tahun 1951. Kemudian dia bekerja di rumah sakit pemerintah terbesar: Qasr al-Aini.

Walaupun menekuni dunia medis, ia sangat tertarik dengan dunia kepenulisan, politik dan nasionalisme. Hal ini tak heran karena ia hidup bersamaan dengan berkembangnya arus pemikiran dan politik nasional masa-masa kemerdekaan. Setelah Perang Dunia II, didukung dengan terjadinya transformasi politik dan sosial pada saat itu, pengaruh pemikiran Marx cukup mendominasi pemikirannya.

Yusuf mulai meluncurkan antologi cerpennya pada tahun 1950. Sebagai Bapak Cerpen Arab, ia telah menulis antologi cerpen, yaitu Arkhasu Layal (1954) dan Al-‘Askary al-Aswad (1955). Di samping antologi cerpen, ia juga menulis cerita lainnya, yaitu  Lughat al-Ay Ay, Bait min Lahm, Qa’u al-Madinah, An-Nadahah, Rijal wa Tsairan, Haditsah Syaraf, Akhir ad-Dunya. Tema ceritanya sangat akrab dengan kehidupan masyarakat karena menggambarkan kehidupan realitas masyarakat biasa, bahkan masyarakat miskin.

Cerita-cerita Yusuf sangat kuat dan merefleksikan pengalaman pemberontakan dalam hidupnya. Ketersambungannya dengan masyarakat miskin memampukannya memotret kehidupan mereka secara imajinatif dan sensitif. Kita bisa memotong cerita dalam karya Yusuf ke dalam skenario film tanpa banyak melakukan perubahan. Beberapa cerpen bisa menjadi satu skenario penuh, lainnya bahkan memiliki karakter yang sangat kuat.

Selain cerpen yang menjadi spesialisasinya, ia juga menulis novel. Berikut adalah beberapa novel yang ia tulis: al’Aib, al-Haram, al-Baidla’, Jumhuriyat Farhat. Di bidang drama, ia menulis naskah Malik al-Qutn, Jumhuriyah Farhat, Al-lahzah al-Hirjah, Al-Jins ats-Tsalits, Al-Mukhatatin, Al-Bahalwan.

Di bidang drama ini, ia melatakkan pondasi teater Mesir modern berbasis tradisi populer dan cerita rakyat. Ia pernah sukses menggelar drama berjudul al-Farafeer, yang menggambarkan dua karakter utama: Tuan dan seorang awam yang miskin.  Beberapa karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, seperti City of Love and Ashes, The Cheapest Nights, and other Stories, Tales of Encounter: Three Egyptian Novellas.

Di samping menulis karya sastra, ia juga memuat beberapa pemikirannya tentang budaya dan sosial yang masih hangat di surat kabar al-Ahram.  Yusuf meninggal dunia pada 1 Agustus  1991 dengan meninggalkan pengaruh terhadap sejumlah sastrawan muda di Mesir dan dunia Arab pada umumnya.