Beban dan tantangan yang ada dari Allah SWT

Kehidupan Komiruddin 16-Sep-2020
dreamstime_s_168213562
Beban dan tantangan © Ahmad Hanif | Dreamstime.com

Hidup ini selalu berputar antara dua dimensi,  yaitu dimensi melaksanakan beban kewajiban dan dimensi menghadapi tantangan. Tak dapat dipungkiri bahwa beban kewajiban dan tantangan kehidupan selalu bertambah dari waktu ke waktu seiring bertambahnya usia dan meningkatnya kedudukan.

Ketika belum menikah,  beban dan tantangan kita masih sedikit. Kita hanya mengurusi diri sendiri. Ketika sudah menikah beban dan tantangan bertambah. Kita berkewajiban mengurus istri dan anak,  jika sudah punya anak. Ketika anak anak masih kecil beban dan tantangan kita tidak terlalu berat.  Jika sudah masuk SMP,  SMA atau Perguruan Tinggi, beban dan tantangan semakin berat.

Ketika menjadi rakyat jelata beban dan tantangan masih ringan. Tapi saat sudah menduduki jabatan publik beban dan tantangan semakin berat. Di samping beban kehidupan di atas, ada beban lain yang merupakan tujuan asasi dari diciptakannya manusia.

Beban itu adalah melakukan ibadah dengan segala maknanya dan melaksanakan tugas kekhalifahan,  yaitu addakwah ilallah, mengajak manusia ke jalan Allah SWT. Misi ini adalah misi abadi sebagai manusia yang ditakdirkan Allah untuk mengelola bumi dan memakmurkannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Ketika misi ini dijalankan pada waktu yang bersamaan, maka dapat dipastikan akan dihadapkan kepada berbagai tantangan. Paling tidak ada lima tantangan yang pasti dihadapi. Kelima tantangan itu sudah disinyalir Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya.

Dalam kitab Makaarim al-Akhlaq, Abu Bakr bin Laal meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik r.a, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Setiap mukmin dihadapkan pada lima ujian: mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan setan yang selalu menyesatkannya.” (Hadis riwayat ad-Dailami)

Hadis ini walaupun didhaifkan oleh Albani, tapi maknanya bersesuaian dengan al-Quran. Juga kondisi riil di lapangan, bahwa lima faktor ini yang menjadi tantangan seorang mukmin di setiap zaman dan sepanjang sejarah.

Dari sini, kita bisa memahami bahwa setiap mukmin harus memikul dan memukul.  Yaitu memikul beban kehidupan dan amanah risalah  serta memukul lawan dan memenangkan pertarungan.

Untuk mampu memikul beban dan memukul lawan dibutuhkan sokongan energi yang memadai berupa kekuatan spiritual atau  spiritual power (quwwah ruhiyah). Pertanyaannya, bagaimana cara mendapatkan kekuatan spiritual tersebut?

Paling tidak ada empat hal yang harus ada agar seseorang memiliki kekuatan spiritual (quwwah ruhiyah):

  • Memiliki keimanan yang sempurna kepada Allah SWT, seperti imannya para Nabi dan Rasul,  imannya shiddiqin wa syuhada wa shalihin
  • Selalu berbaik sangka kepada Allah SWT,  dengan menganggap segala yang terjadi adalah kehendak Allah yang tidak pernah sepi dari hikmah
  • Beriman kepada takdir,  bahwa apa yang terjadi merupakan ketentuan Allah SWT yang sudah tertulis jauh sebelum bumi dan langit diciptakan.  Sehingga timbul keyakinan dan keberanian dalam menghadapi berbagai kemungkinan hidup
  • Meyakini kehidupan Akhirat di mana setiap manusia mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatanya dan akan diganjar sebagaimana amalnya di dunia