Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Belajar berkonflik dari dua nabi

Sejarah 06 Jan 2021
Roni Haldi Alimi
Belajar berkonflik dari dua nabi
Belajar berkonflik dari dua nabi © Ilkin Guliyev | Dreamstime.com

Jika kita mau mendekat dekat dengan al-Quran, pastilah akan kita peroleh bimbingan berharga lagi bernilai tak terkira. Apatah lagi kuat kemauan untuk memperbaiki pola hubungan interaksi dengan al-Quran. Semakin dekat hubungan kita dengannya, maka semakin banyak dan besar faedah ilmu dan hikmah akan kita dapati.

Salah satu keistimewaan al-Quran adalah menyuguhkan rekam jejak kehidupan bangsa dan kaum sebelum kita. Sejarah maju mundur dan turun naik kehidupan umat terdahulu termuat termaktub jelas tak terbantahkan di dalamnya.

Maka barangsiapa yang memahami dan meyakini fakta-fakta autentik yang disajikan al-Quran, jadilah ia orang yang memperoleh pelajaran berharga berguna dalam mengarungi cabaran hidup di dunia fana.

Berkaca konflik dua nabi

Tengoklah kisah Nabi Musa alaihi salam, terkadang banyak yang menilai bahwa konflik antara Firaun dengan Nabi Musa muncul sejak ajakan menyelisih kehendak dan perintah Firaun yang sekaligus ayah angkatnya Nabi Musa.

Padahal hakikat sebenarnya, cikal bakal konflik di antara keduanya telah ada dan dimulai jauh sebelum Nabi Musa alaihi salam dilahirkan ibundanya. Yaitu di saat ambisi tinggi Firaun menjadi raja merangkap Tuhan diusik oleh isi mimpi buruknya.

Maka diterjemahkanlah kegalauan Firaun oleh penasehat penjilat istana menyarankan agar setiap dan seluruh bayi laki-laki yang lahir untuk dibunuh guna menyelamatkan kerajaan dan eksistensi kekuasaannya.

Walau kemudian Firaun tak menyangka bahwa kehancuran dan tumbangnya kekuasaannya telah dimulai sejak dari istananya sendiri. Yaitu saat Nabi Musa a.s kecil diangkat diasuh menjadi anaknya.

Konflik itu biasa terjadi, bahkan konflik dalam sebuah keluarga nabi pun pernah terjadi. Konflik antara Nabi Yusuf a.s dengan saudara-saudaranya yang juga anak-anak keturunan nabi; Yakub alaihi salam. Apalagi dalam sebuah komunitas, organisasi, masyarakat atau negara.

Yang memiliki menyimpan kompleksitas mulai dari berbeda cara pandang, tak sama pola pikir, tak serupa motif tujuan dan kepentingan, hingga mendorong terjadinya pergerakan bisa menimbulkan gesekan halus atau gesekan kasar yang berujung kepada pertentangan dan perpecahan.

Kisah Nabi Yusuf a.s kita dapati konflik terjadi karena kecemburuan saudara-saudaranya. Tak ada kesalahan di pundak Yusuf sebenarnya, yang ada hanya kesalahan saudara-saudaranya yang menuruti hasad dengki.

Hasad dengki yang telah menguasai hati dan diri mereka. Tak hanya Nabi Yusuf a.s, Nabi Yakub a.s; ayah mereka sendiri pun tak luput tak bersih dari hujaman kesalahan yang mereka timpakan.

Hakikat konflik dalam kehidupan

Sayid Qutb dalam tafsirnya Fi Dzilal al-Quran:

“Kita tidak bisa memilih untuk tidak berkonflik, yang bisa kita pilih adalah di kubu mana kita berada.”

Lari atau keluar dari konflik bukan jalan solusi penyelesaian. Hanya dengan berlapang dada akan membuka mata diri dan mata hati agar bijaksana. Membenci bukan rupa wajah pemicu pengatur konflik.

Tapi benci lah akal pikiran penerbit penghasil konflik agar tak menyebar menginfeksi generasi berikutnya. Benci berlebihan akan mendorong lidah keluar terjurur untuk mencaci maki.

Karena konflik itu panjang tak pernah habis sependek sesingkat umur manusia. Belajar lah mengelola konflik kepada nabi Musa a.s yang tetap santun tak mencaci maki tatkala berjumpa bertatap rupa dengan Firaun; ayah angkatnya.

Dan belajar lah mengakhiri konflik dengan baik kepada Nabi Yusuf a.s yang membenci akal pikiran penerbit penghasil konflik; saudara-saudaranya tapi kemudian tetap memaafkan memuliakan mereka akhirnya.