Belajar cemburu pada pasangan ala bunda Aisyah r.a

Kepercayaan Bayu RI 22-Jul-2020
Belajar cemburu ala bunda Aisyah r.a © Odua | Dreamstime.com

Cemburu adalah hal yang lumrah dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi menjadi kurang baik jika salah menempatkannya. Cemburu merupakan salah satu tabiat manusia yang selalu ada baik laki laki maupun perempuan. Cemburu juga merupakan tanda cinta seseorang kepada pasangannya. Sehingga cemburu selalu meramaikan kehidupan rumah tangga dan tidak jarang membuat berantakan kehidupan rumah tangga.

Kehidupan rumah tangga selalu dihadapkan dengan dinamika, sedih dan senang selalu mewarnai rumah tangga, setia dan khianat akan selalu ada dalam kehidupan. Rasa cemburu terhadap pasangan jika tidak dikelola dengan baik bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan rumah tangga yang bisa berujung pada perceraian.

Ketika istri dibakar rasa cemburu ia akan mudah melontarkan kata-kata kasar dan tidak baik bahkan menyentuh kata perceraian. Cemburu boleh-boleh saja tetapi harus dalam porsi yang sewajarnya. Jika cemburu mengedepankan emosi akan berakibat pertengkaran dalam rumah tangga. Apalagi ditengah zaman gadget saat ini.

Komunikasi melalui smartphone yang begitu mudah dilakukan baik dengan teman-teman yang sehari-hari kita bergaul maupun teman-teman yang sudah lama tidak bertemu. Sangat perlu dijaga komunikasi pada hal yang postif saja, agar jangan sampai ketika pasangan mengetahui justru akan menjadi masalah dalam rumah tangga.

Cemburu yang patut diteladani adalah cemburu ala bunda Aisyah r.a. Ia adalah sosok istri yang penuh manja dan cemburu, apalagi jika mendengar nama Khadijah r.a selalu disebut-sebut oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi kecemburuan bunda Aisyah dalam hal yang sewajarnya. Ia tidak mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak baik melainkan ungkapan kata-kata sindiran yang diucapkan setelah dipikirkan terlebih dahulu.

Misalnya pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke kamar bunda Aisyah r.a, lalu bunda Aisyah bertanya: “dari mana engkau tadi ya, Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, “aku dari Umi Salamah”. “Apakah engkau tidak kenyang dari sana?” Rasulullah tersenyum menanggapi sikap bunda Aisyah yang sewot.

“Ya Rasulullah, maukah kau jawab pertanyaanku? Sekiranya kau berada diantara dua ladang, yang satu utuh dan yang satu sudah terpakai, mana yang kau pilih?” Rasulullah SAW menjawab, “yang masih utuh”. “Aku tidak seperti istri-istrimu yang lain. Semua istri-istrimu sudah pernah bersuamikan orang lain sedang aku tidak.” Dengan komunikasi yang hangat ini, Rasulullah tersenyum lebar dengan kemanjaan bunda Aisyah r.a.

Begitulah cara bunda Aisyah r.a mengatur rasa cemburunya meskipun sebenarnya ia marah. Cemburu bagi bunda Aisyah adalah  seni menata hati dan menempatkan sesuai dengan porsinya. Dan yang pasti, cemburu ala bunda Aisyah hanyalah cemburu dengan melontarkan kata-kata saja tanpa melempar benda apapun. Sehingga tidak ada satupun gelas, piring atau sendok yang berterbangan.

Akan tetapi ketika kecemburuan tersebut ada dasar dan alasan yang logis melatarbelakanginya, maka sikapilah dengan bijak dan lapang dada. Seringkali ketika mengedepankan emosi dan perasaan, maka masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik justru malah sebaliknya menjadi membesar dan berujung pada saling menyalahkan.

Maka jika itu terjadi, tidak hanya perang kata-kata, tapi benda-benda disekitar ikut berterbangan dan bahkan kadang bisa menyakiti fisik salah satunya. Sehingga mudaratnya jauh lebih besar dari pada manfaatnya.