Belajar ikhlas dari Nabi Muhammad SAW

dreamstime_s_185408671
Belajar ikhlas dari Nabi Muhammad SAW © Akulamatiau | Dreamstime.com

Manusia tempatnya khilaf dan alpa, kadang kala sulit mengolah emosi apalagi berkaitan dengan masalah hati. Siapa yang bisa menerawang apa yang ada di hati seseorang kecuali Allah SWT. Dalam riwayat Abu Hurairah r.a berkata: “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi dia melihat kepada hati dan amal kalian.”

Ketika kita melakukan sesuatu indikator akhirnya adalah ikhlas, lalu bagaimana mengetahui sesuatu yang kita lakukan dengan ikhlas tulus kepada siapa? Hanya Allah SWT yang bisa melihat tingkat keikhlasan kita, tetapi sebagai sesama manusia kita diharapkan untuk menanamkan sifat ikhlas dengan belajar dari panutan para Nabi Allah kita.

Ikhlas sebagaimana disampaikan oleh Abu ‘Ali Fudhail bin ‘Iyadh yakni meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah SWT menyelamatkan kamu dari keduanya.

Selain itu, Abu ‘Utsman berkata: “Ikhlas itu melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah).” (Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Imam an-Nawawi 1/16-17).  Bersikap ikhlas dengan selalu mengedepankan pandangan Allah SWT dengan selalu mengharapkan rida Allah atas apa yang kita lakukan.

Manusia sulit sekali mewujudkan ikhlas, kecuali Allah SWT mudahkan niatnya semata-mata karena Allah. Imam Sufyan mengatakan : tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 1/70).

Nah, dari teori ini tentu jelas sekali bahwa hati yang perlu diperhatikan dalam menata ikhlas. Tergelincirnya niat bisa membahayakan bagi pelaku amal, bukan tidak mungkin sesuatu yang kita kerjakan meskipun baik dimata manusia jika niatnya sudah berubah dan bukan karena Allah SWT lagi maka rusaklah amal tersebut.

Ikhlas bukan hanya perihal materi atau berinfaq, tetapi semua aspek perbuatan yang kita lakukan. Kita bisa belajar ikhlas dari para pejuang ikhlas terdahulu dari para wali Allah SWT, Nabi Allah yang sudah banyak riwayat mereka dalam beramal ikhlas. Bagaimana perjalanan ikhlas yang ditempuh Nabi Ibrahim a.s bersama istrinya Siti Hajar r.a?

Bisa dipastikan jika tidak ada iman kepada Allah SWT tentulah mereka tak bisa melewati masa sulit yang diberikan. Nabi Ibrahim a.s harus ikhlas meninggalkan anak dan istrinya di padang tandus yang gersang ketika itu Nabi Ismail a.s masih kecil. Siti Hajar r.a yang tampak sedih karena keputusan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan mereka, tetapi ketika ia tanyakan alasan keputusannya dan jawaban Nabi Ibrahim adalah karena Allah.

Maka hilanglah sedih dan gelisah Siti Hajar r.a melainkan yakin kepada Allah SWT bahwa ini perintah-Nya dan Allah adalah tujuan setiap amal di dunia. Nabi Ibrahim a.s dan Siti Hajar belajar tentang makna keikhlasan ketika mereka harus terpisah karena Allah dan selalu berdoa bahwa Allah yang menjaga hamba-Nya.

Lain lagi dengan kisah ikhlas Rasulullah SAW, beliau berdakwah dengan  penuh keikhlasan. Bagaimana tidak, kita melihat kisah Rasulullah dalam berdakwah yang ketika itu ia selalu dilempari batu, diludahi oleh kaum Quraisy karena benci dengan ajarannyang disampaikan Rasulullah.

Tetapi dengan hati yang tegar Rasulullah SAW tetap ikhlas, bahkan ketika ia mendengar seorang kafir tersebut sakit, ia langsung mengunjunginya. Keikhlasan hati Rasulullah pula membuat pemuda tersebut masuk Islam. Ada pula yang menguji keikhlasan Rasulullah, ketika pemimpin Tsaqif menolak kehadiranya bahkan dilempari dengan batu dan diperolok-olok Rasulullah menyikapi demikan itu dengan ikhlas dan mendoakan mereka kepada Allah agar diberi hidayah.

Umat Islam tidak akan rugi jika meneladani sifat para Rasul Allah dalam mengamalkan sifat ikhlas. Hal terpenting sebagai landasan dasar kita melakukan sesuatu agar ikhlas dengan selalu mengharapkan rida Allah SWT, juga meyakini janji Allah bahwa orang yang ikhlas akan diberi pahala yang besar, aamiin.