Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Belajar mengelola kegalauan dan ketidakpastian

Kesejahteraan Mental 24 Des 2020
Opini oleh Komiruddin
Belajar mengelola kegalauan dan ketidakpastian
Belajar mengelola kegalauan dan ketidakpastian © Freddy Cahyono | Dreamstime.com

Salah satu momen terberat yang dihadapi seseorang adalah ketidakpastian dan ketidakjelasan arah dan tujuan. Dari nabi Musa a.s, marilah kita belajar mengelola kegalauan dan ketidakpastian supaya kita tahu bagaimana cara kita bersikap.

Kondisi seperti ini kadang menimpa kita semua di mana kita tak mengerti ke mana kaki hendak melangkah dan ke mana hati hendak berlabuh.

Selalu bersandar kepada Allah SWT dengan berdoa

Ketika nabi Musa a.s mendapat berita bahwa dirinya menjadi target yang hendak ditangkap, baginda segera keluar dari kota dengan dihantui ketakutan.

 “Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir,”

(Surah al-Qashash, ayat 20-21)

Nabi Musa a.s tidak tahu ke mana harus melangkahkan kaki berlari menyelamatkan diri. Tapi satu yang tak pernah baginda lupakan adalah bahwa dia punya Tuhan. Ke sanalah tempat berlari pertama dan utama.

“Dia berdoa: Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.”

(Surah al-Qasas, 28 ayat 21)

Selalu berbaik sangka kepada Allah SWT

Musa a.s tak pernah ragu bahwa Allah SWT akan menolongnya. Maka ketika baginda memantapkan diri hendak lari ke kota Madyan, ia keluar dengan penuh harapan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar baginya.

 “Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.”

(Surah al-Qasas, 28 ayat 22)

Tetap memberikan pertolongan walau baginda sendiri sangat membutuhkan

Sesampainya di Madyan apa yang terjadi? Nabi Musa a.s melihat orang orang berdesak desakan mengambil air untuk memberi minum ternaknya. Di sisi lain ia juga melihat dua gadis yang memisahkan diri dari mereka.

Sebagai seorang laki-laki, tergerak hatinya untuk membantu dua orang gadis tersebut, walau sesunggunya baginda sendiri butuh bantuan dan perlindungan. Iapun membantu kedua gadis tersebut dengan suka rela.

Mari kita simak firman Allah SWT:

 “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”

(Surah al-Qasas, 28 ayat 23)

Dalam kondisi tertekan tetap harus ada pelepasan

Singkat cerita, Setelah nabi Musa a.s membantu dua gadis yang mengembalakan ternaknya, baginda pun dipanggil lalu diminta ia untuk menikahi salah satunya. Dalam suasana tertekan seperti itu, ia terima tawaran tersebut meski maharnya 10 tahun kerja.

Sebab seseorang butuh pelepasan dan pelepasan yang paling aman dan nyaman adalah istri. Dengan instrumen-instrumen di atas, maka kita lihat hasilnya – seluruh doanya dikabulkan Allah SWT.

Baginda selamat dari kejaran Firaun dan mendapatkan tempat berlindung yang aman. Begitulah hendaknya kita bersikap, ketika menghadapi hari-hari sulit dan tidak ada kepastian.

Bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT. Berbaik sangka terhadap takdir. Tetap memberikan kontribusi kebaikan kepada sesama walau diri sendiri membutuhkan dan tetap harus ada pelepasan.