Buletin SalamWebToday
Daftar untuk mendapatkan artikel SalamWeb Today mingguan!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Beli buku, mahal?

Masyarakat 09 Jan 2021
Komiruddin
Beli buku, mahal?
Beli buku, mahal? © Suryo | Dreamstime.com

‘Beli buku, Mahal?’ – Seorang penjual buku menuliskan kalimat ini di statusnya. Saya merasa tergelitik membacanya.

“Beli bakso + jus 23 ribu rupiah, makan di warung Padang 25 ribu rupiah, beli pulsa 55 ribu semua itu sanggup dibayar, tapi untuk beli buku 35 ribu mikir 7 kali dulu.”

Sebab kenyataannya, seseorang untuk nikmat sesaat sanggup merogoh kantongnya puluhan ribu rupiah tanpa banyak berfikir.

Beli buku, mahal? Buku adalah sebaik-baik teman

Untuk beli HP yang harganya jutaan rupiah enggak perlu mikir panjang. Bahkan sanggup menyisihkan sebagian uang kebutuhannya hanya untuk membeli HP idamannya. Untuk beli alat rumah tangga semisal kulkas, televisi, mesin cuci atau kendaraan baik mobil maupun motor tidak sulit mengeluarkan uang.

Bahkan sanggup membelinya dengan kredit dan dibayar setiap bulan dengan cicilan ratusan ribu atau jutaan. Tapi jika ditawarkan buku yang harganya tidak lebih dari 40 ribu rupiah berfikir lama, bahkan harus musyawarah dulu. Ujung-ujungnya tidak jadi beli.

Padahal, kata seorang penyair:

“Khairu jalisin fi zamanin kitab ~ Buku adalah sebaik-baiknya teman dalam suatu masa.”

Saat ini jarang kita melihat para pemuda menenteng kitab, apalagi melihat mereka duduk-duduk sambil membaca buku. Yang banyak kita lihat adalah mereka kapan dan di mana tidak bisa lepas dari HP. HP seakan sudah menjadi kebutuhan pokok. Di mana seseorang tidak tenang hidupnya tanpa membawa HP.

Tradisi membaca sebagai kunci ilmu pengetahuan

Diantara alasannya, sekarang sudah banyak e-book, mengapa harus repot-repot beli buku. Tinggal didownload, lalu menunggu beberapa saat, e-book pun sudah dapat dinikmati.  Murah, praktis dan tak memakan tempat serta dapat di bawah ke mana-mana dengan mudah.

Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Namun harus diingat tidak semua buku sudah ada e-booknya, terutama buku-buku baru. Bagaimanpun juga e-book tidak dapat menandingi buku yang sebenarnya dari sisi kepraktisan dan mudahnya dibuka.

Jadi, apapun kondisinya buku tetap masih dibutuhkan secanggih apapun teknologi. Buku dapat dipinjamkan dan diwariskan setelah pemiliknya meninggal dan akan menjadi amal jariyah.

Sebab itu, mari kita sisihkan uang belanja untuk tetap membeli buku. Mari kita niatkan membeli buku baru minimal setiap bulan. Boleh jadi buku yang baru saja kita beli belum terbaca saat ini bahkan masih tersimpan rapih dalam plastiknya.

Tapi itu tidak menjadi masalah, sebab kadang kita membutuhkannya pada saat yang tepat. Dengan demikian anda telah mewariskan tradisi membaca sebagai kunci dari ilmu pengetahuan.