Benarkah menangis membatalkan puasa?

Pendidikan 29 Apr 2021 Merry Lestari
Pilihan oleh Merry Lestari
Benarkah menangis membatalkan puasa?
Benarkah menangis membatalkan puasa? © Rachaphak Kitbumrung | Dreamstime.com

Berpuasa di bulan Ramadan pada hakikatnya adalah menahan diri. Menahan diri bukan hanya dari rasa lapar dan haus, tetapi juga dari nafsu syahwat, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah hadis:

“Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya.”

(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Berpuasa dan hal-hal yang harus kita perhatikan

Jika seorang muslim tidak dapat menahan hawa nafsunya saat berpuasa, maka risikonya akan berkaitan dengan diterima atau tidaknya puasa yang sedang dijalaninya. Karena itulah, penting bagi kita seorang muslim untuk menahan nafsu ketika sedang berpuasa.

Lalu bagaimana dengan berbagai perspektif mengenai hal-hal yang dapat membatalkan puasa lainnya yang banyak beredar luas di tengah masyarakat, seperti menangis.

“Jangan menangis, nanti puasanya batal!” Ungkapan tersebut begitu sering kita dengar terutama di bulan Ramadan seperti saat ini. Lalu benarkah hal tersebut?

Ketika tengah menjalankan ibadah puasa, terutama di bulan Ramadan ada banyak hal yang harus kita perhatikan. Tak hanya hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban saja, tetapi kita juga perlu memperhatikan hal-hal yang sekiranya dapat membatalkan puasa kita.

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa

Berdasarkan penjelasan dalam  kitab Fath al-Qarib bahwa perkara yang dapat membatalkan puasa meliputi beberapa hal. Seperti memasukkan sesuatu secara sengaja ke dalam lubang tubuh atau jauf (mulut, telinga, hidung) dan telah melewati batas yang telah ditentukan.

Untuk hidung, batas awalnya adalah bagian yang disebut dengan muntaha khaysum (pangkal insang) yang sejajar dengan mata. Bagi telinga, yaitu bagian dalam yang sekiranya tidak telihat oleh mata. Sedangkan untuk mulut, batas awalnya adalah tenggorokan yang biasa disebut dengan hulqum. Selain itu, melakukan pengobatan dengan memasukkan sesutu ke dalam qubul dan dubur juga dapat membatalkan puasa.

Muntah dengan sengaja, haid dan nifas, berhubungan intim, dan mengeluarkan air mani (sperma) dengan sengaja juga dapat membatalkan puasa, namun ketika mani yang keluar karena mimpi basah (ihtilam) maka dalam keadaan demikian puasa tetap dihukumi sah.

Benarkah menangis membatalkan puasa?

Berdasarkan pada penjelasan tersebut di atas mengenai hal-hal yang dapat membatalkan puasa, dan ternyata menangis tidak termasuk salah satu hal yang dapat membatalkan puasa.

Alasannya adalah karena air mata yang keluar tersebut tidak ada hubungannya dengan jauf, serta dalam mata tidak ada saluran yang mengarahkan benda menuju tengorokan, sehingga tidak tergambarkan ketika seseorang menangis terdapat sesuatu yang masuk dalam mata menuju arah tenggorokan.

Meskipun tidak membatalkan puasa, namun menangis bisa mengurangi pahala puasa. Contohnya ketika menangis karena kesal terhadap orang lain, atau menangis berlebihan sampai meraung-raung dan merobekkan pakaian.