Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Benteng Khaibar direbut oleh Saidina Ali bin Abi Thalib r.a

Sejarah 23 Jan 2021
Terbaru oleh Muhammad Walidin
Benteng Khaibar direbut oleh Saidina Ali bin Abi Thalib r.a
Benteng Khaibar direbut oleh Saidina Ali bin Abi Thalib r.a © madainproject.com

Sebuah gambar tampak atas (bird’s eye) muncul di halaman media sosial saya suatu hari. Ada sebuah benteng gagah di tengah gurun dengan banyak bangunan di dalamnya. Di sekelilingnya tampak pepohonan kurma tumbuh secara tidak teratur.

Sesuai captionnya, medsos tersebut menuliskan ‘Benteng Khaibar’. Sayapun bertanya, apakah benteng ini terkait dengan Peperangan Khaibar pada masa Rasulullah SAW? Sang pemilik medsospun menyahut, “iya”, katanya.

Khaibar kawasan subur dari letusan gunung berapi 

Saya kemudian tertarik untuk mencari informasi tentang benteng ini. Jelas benteng ini sangat historis karena dari penampakannya berupa reruntuhan yang ditinggalkan. Saat ini, tentu situs ini merupakan destinasi wisata sejarah yang patut diagendakan bila berkunjung ke Saudi Arabia.

Benteng Khaibar terletak di Selatan Madinah dengan jarak 150 km.  Ia berada di ketinggian 850 di atas permukaan laut. Sebuah tempat yang cukup tinggi dan subur sehigga menjadi tempat pemukiman orang Yahudi pada masa Rasulullah SAW.

Khaibar tercatat sebagai kawasan yang telah delapan kali  dilalui lahar panas dari letusan gunung berapi (Situs Volcano Discovery). Oleh karena itulah lahannya sangat subur di samping juga terdapat sekitar 30 mata air. Mendekati kawasan Khaibar, hijaunya perkebunan kurma menjadi pemandangan yang menyegarkan mata.

Pada masanya, benteng ini tediri dari Benteng Kamous, Katiba, Syiq, dan Zubair. Masuk ke dalam dapat ditemui beberapa benteng lagi di dalamnya, seperti  benteng Watih dan Sulalim yang diperuntukkan bagi penampungan harta dan keluarga.

Terdapat juga benteng Na’im untuk penyimpanan bahan makanan yang cukup untuk setahun, dan benteng Natat sebagai tempat berkumpul para prajurit dalam sebuah peperangan.

Pada tahun ke 7 Hijriyah, Rasulullah SAW menggempur benteng ini karena orang Yahudi mencederai perjanjian damai. Benteng ini terkenal tak bisa ditembus karena letaknya yang cukup tinggi dan dindingnya sangat tebal.

Di samping itu, para pemanah Yahudi memiliki keluasan memandang saat musuh datang. Mereka siap meluncurkan anak panah dan senjata lainnya ke arah musuh yang berada di bawah.

Benteng Khaibar direbut oleh Ali bin Abi Thalib r.a

Namun berkat kelihatan Ali bin Abi Thalib r.a sebagai pemimpin pasukan, ia berhasil membuka gerbang utama, membunuh pemimpinnya Marhab, Rabih, dan Yasir, dan membuat pertahanan Yahudi kocar-kacir.

Peperangan Khaibar dimenangkan oleh kaum muslimin. Orang-orang Yahudi tunduk kepada Rasulullah SAW dan membayar Jizyah. Namun dendam orang-orang Yahudi kepada Rasulullah masih ada.

Salah seorang janda Sallam bin Misykam yang terbunuh dalam perang tersebut memberikan daging kambing beracun untuk dimakan Rasulullah SAW. Sahabat bernama Bisyr bin Barra’ langsung mati di tempat, sementara Rasulullah selamat karena sempat meludahkan makanan tersebut.

Selain mengunjungi benteng Khaibar ini, jangan lupa pula mampir ke Khaibar Cultural Village. Di sana akan tampak rumah-rumah tradisional yang berbentuk sederhana bahkan sampai yang megah.

Ada yang hanya satu lantai atau juga yang dua lantai. Rumah tersebut dibuat dari bahan tanah liat dan batang atau pelepah kurma. Temboknya yang mencapai 80 cm hingga 1 meter menjadikan ruangan-ruangan di dalamnya adem ayem, padahal suhu di luar bisa mencapai 40 derajat celcius.

Sungguh, mengunjungi situs benteng Khaibar ini membuat dada sesak dipenuhi rindu kepada Nabi Muhammad SAW yang berjuang bersama 1600 pasukan. Mereka melawan 10.000 pasukan Yahudi yang dipimpin oleh al-Harist bin Zainab. Benteng Khaibar menjadi saksi kesyahidan 16 sahabat dan 93 prajurit dari kalangan Yahudi.